Jumat, 27 September 2013

SECRETS CHAPTER 5



Reinhart berbaring dan menatap nanar langit-langit di kamarnya yang sama sekali tidak berpenerangan malam itu. Lelaki itu sengaja tidak menyalakan semua lampu di kamarnya, sudah menjadi kebiasaan apabila mempunyai masalah yang ia akan mengurung dirinya beberapa hari di kamar tidurnya yang gelap. Tetapi  sebenarnya ia sangat jarang melakukan hal ini, terakhir kali adalah sebelum  ia memutuskan untuk melanjutkan studinya ke Amerika sambil mengembangkan perusahaannya dengan konsekuensi  meninggalkan Mandy selama 3 tahun. Dan di luar perkiraan, keputusan yang diambilnya 3 tahun yang lalu membuatnya terjebak di dalam situasi ini.

Reinhart mencoba untuk terlelap tetapi matanya menolak untuk tidur walau hanya sekejap. Tiba-tiba ia teringat sesuatu dan segera menuju lemari pakaian.Lelaki itu mengeluarkan sebuah kotak kulit dari laci lemarinya, kemudian duduk di salah satu sofa di sudut ruangan kamarnya. Reinhart membuka kotak kulit itu dan semua kenangan membanjiri dirinya. Dengan lembut ia mengeluarkan satu stel baju bayi berwarna pink rajutan handmade, sebuah cincin stempel kuno dan selembar foto seorang wanita yang tertawa yang memeluk dirinya di hari kelulusannya di Sekolah Dasar dan wanita itu sangat mirip dengan Mandy. Reinhart memandang foto itu dengan rasa rindu yang begitu membuncah di hatinya, wanita itu adalah Adinda, Ibu Mandy. Wanita yang dianggapnya sebagai seorang Ibu selain Ibu kandungnya sendiri.  Reinhart tersenyum ketika ia mengingat betapa menggemaskannya Mandy ketika mengenakan baju pink itu pertama kali, baju rajutan itu adalah buatan tangan Adinda yang  dirajut begitu mengetahui bahwa bayi yang dikandungnya berjenis kelamin perempuan. Dan cincin itu.. Reinhart masih bertanya-tanya cincin milik siapa itu? Kemungkinan besar adalah milik ayah kandung Mandy, laki-laki tidak bertanggungjawab yang meninggalkan Adinda ketika mengetahui perempuan itu hamil. Reinhart menemukan cincin stempel itu di laci lemari milik Adinda setelah wanita itu meninggal dunia. Tersimpan rapi dan terlihat sangat berharga bagi Adinda. Reinhart sudah mencoba mencari siapa pemiliknya, tetapi tidak ada keluarga bangsawan di Jerman mempunya lambang keluarga seperti itu. Kemudian Reinhart memasukkan semua barang kembali ke kotak kulit dan memutuskan untuk memberikannya pada Mandy karena memang gadis itu seharusnya yang memilikinya. Dan juga, pikir Reinhart pedih, ia harus melupakan Mandy.. Melupakan rasa terlarang itu. Mungkin dengan tidak menyimpan kotak kulit ini dan juga tidak tinggal di rumah ini akan pelan-pelan meluruhkan perasaan yang tidak pantas itu.
***
Mandy melihat arlojinya, waktu sudah menunjukkan pukul  9 malam. Ia menyudahi pekerjaannya dan membereskan berkas-berkas di atas meja kerjanya. Gadis itu sengaja berlama-lama di kantor  hari ini karena biasanya Stephan selalu mengajaknya hang-out di club bersama teman-temannya. Tetapi  2 hari ini Stephan sedang ditugaskan ke luar kota dan Mandy tidak terbiasa untuk pulang tepat waktu. Dan ia tidak suka menghabiskan waktu sendirian di apartemennya, karena itu mengingatkan dirinya pada kejadian waktu itu, ketika ia tidak dapat mengendalikan dirinya dengan membalas ciuman Reinhart, Ayahnya. Mandy menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir ingatan itu. Dengan cepat ia membereskan sisa dokumen yang tertinggal, menyampirkan tas kerjanya di pundak dan meninggalkan kantornya. Tetapi memang ia tidak bisa menghapus kejadian itu di dalam otaknya, tidak seperti tombol delete pada komputer yang dapat menghapus semua  file dalam sekali klik. Sosok Reinhart begitu kuat terpatri dalam benak Mandy, dan Mandy harus mengakui ia sangat merindukan ayahnya. Gadis itu telah sampai di lantai dasar dan menuju pintu keluar gedung.

“Mandy...”  Ia mendengar suara Reinhart memanggilnya. Astaga, apa ia berkhayal lagi?

Mandy menoleh ke arah suara itu berasal. Mandy mengerjapkan matanya, dan itu memang Ayahnya. Lelaki itu sekarang berjalan menuju ke arahnya.

“Ayah..” bisik Mandy pelan.

“Apa kabar gadis kecilku?” 

Reinhart berdiri di depan gadis itu, memandangnya dengan senyum sayang.

Oh Tuhan... Senyum Reinhart membuat hati Mandy terasa hangat dan juga sakit dalam waktu bersamaan. Gadis itu tergagap, membalas sapaan Reinhart dengan kikuk.

“Baik Ayah.. bagaimana dengan dirimu, sehat?”

Astaga... betapa basi kata-katanya, Mandy mengutuki kekikukannya.

“Wah,  tumben-tumbennya kau menanyakan kesehatanku. Biasanya kita selalu saling melemparkan ejekan  dan sindiran apabila bertegur sapa. Aku sangat terlihat tua ya?”

Reinhart terbahak geli menutupi kegelisahannya, sesungguhnya yang ingin ia lakukan saat ini adalah merengkuh Mandy dalam pelukannya.

Kemudian mereka terdiam dalam beberapa saat yang terasa sangat janggal. Mereka berdua kehilangan kata-kata.

“Ehm.. omong-omong aku mampir ke sini untuk memberikan ini”, Reinhart memecahkan suasana canggung itu dan mengangsurkan kotak kulit itu ke tangan Mandy.

“Apa ini?”

“Buka saja, itu milikmu"

Mandy mengeluarkan barang-barang tersebut dari kotak. Matanya terasa panas ketika ia menggenggam baju bayi itu. Kemudian ia memandang foto itu, terlihat jelas kebahagiaan Ibunya dan Reinhart kecil tergambar di sana.

“Cincin,foto itu dan berserta kotak kulitnya aku temukan di laci Ibumu. Sedangkan baju bayi sengaja aku simpankan untukmu karena itu buatan tangan Adinda.”

“Tapi aku rasa, Ayah lebih berhak  memiliki foto ini.” Mandy memberikan foto itu kepada Reinhart.

“Tidak, tidak. Itu milikmu. Kenangan tentang Ibumu yang aku miliki lebih banyak dan tersimpan rapi di sini.” , Reinhart mengetukkan jari di kepalanya, tersenyum kecil .

“Baiklah..”, Mandy memasukkan barang-barang itu ke kotaknya kembali. Kemudian memasukkannya ke dalam tas kerjanya.

“ Nah, aku antar pulang?”  Reinhart setengah bertanya.

Mandy menggigit bibirnya bimbang.

“OK.” Gadis itu menjawab pendek.

Dengan lembut, Reinhart membimbing Mandy dengan menggandeng tanggan gadis itu menuju mobilnya di pelataran parkir.


“Omong-omong.. dimana Stephan? Dia tidak mengantarmu pulang?”
“ Stephan sedang bertugas di luar kota Ayah. Biasanya juga dia menginap di apartemenku saat weekend begini.” 

Reinhart menggigit lidahnya, menahan diri untuk tidak menyumpahi kebodohannya karena tidak bisa menahan pertanyaan itu keluar dari mulutnya. Ia mengakui sangat penasaran dengan hubungan antara Stephan dan Mandy. Dan sekarang, hatinya menjadi semakin tergores dalam karena itu.


“Oh.. begitu.” Reinhart menanggapi dengan datar menutupi semua rasa sakitnya.

Mandy melirik Reinhart, mencoba membaca wajah laki-laki itu. Tapi tidak terlihat sedikitpun emosi terlintas di wajah Reinhart. Dan Mandy mulai bertanya-tanya, apakah kejadian di apartemennya beberapa hari yang lalu hanya mimpi?

***

Smartphone Reinhart berdering nyaring mengganggu mimpi erotisnya tentang Mandy dan dirinya.

“Sial..” lelaki itu mengumpat, tangannya menggapai mencari smartphone yang ia letakkan di nakas sebelah tempat tidurnya.

“Doug... ada apa pagi-pagi buta kau menelponku?” Reinhart mengomel dan melirik weker yang masih menunjukkan waktu pukul 6 pagi.

“Mengenai pengambilalihan itu. Sungguh Reinhart, kalau kau memintaku untuk menangani semuanya aku sanggup. Tapi untuk penandatanganan MoU nya, jelas tidak dapat kuwakili.”

“Sial... aku lupa soal itu. Kapan ceremony MoU nya? Jangan bilang hari ini Doug.”

“Sayangnya itu benar Rein.. tapi tenang saja, semuanya telah kusiapkan. Kau hanya perlu pergi ke Bandara jam 8 pagi ini dan naik pesawat menuju Stuttgart. Kita bertemu di bandara, ok?”

Reinhart menggeram kesal, suara Douglas begitu ceria di ujung sana. Tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Laki-laki menutup telpon, mandi air dingin untuk mendinginkan kepalanya dari semua mimpi panasnya tentang Mandy  dan segera bersiap-siap menuju bandara.

***

Acara penandatanganan MoU pengambilalihan perusahaan galangan kapal oleh Adams Corporation berlangsung sukses. Sejumlah media cetak dan elektronik lokal dan internasional meliput acara tersebut karena perusahaan galangan kapal itu termasuk salah satu perusahaan galangan kapal terbesar di dunia.

Reinhart memasang wajah dan senyum bisnisnya. Sungguh, Reinhart mulai merasa pegal karena harus tersenyum terus dari awal hingga akhir acara. Ditambah banyak media yang mewawancarainya di konferensi pers, otomatis senyum bisnis itu terus terpasang di wajah tampannya.

“Douglas, tolong wakili aku menjawab pertanyaan dari para wartawan. Aku ingin beristirahat.” Reinhart berbisik pada Doug, lalu memberi isyarat pada wartawan untuk pamit dari konferensi pers.
“OK.” Douglas nyengir dan mengambil posisi menggantikan Reinhart.

Reinhart menuju executive rest room hotel bintang 5 itu. Laki-laki itu duduk menenggelamkan dirinya di salah satu sofa empuk di ruangan itu dan melonggarkan ikatan dasinya mulai terasa mencekik lehernya. Kemudian Reinhart menuju wastafel, membasuh wajahnya  untuk menyegarkan dirinya. Pada saat itu terdengar suara-suara aneh di salah satu kamar di dalam toilet itu. Reinhart mencoba menajamkan telinganya, mencoba menangkap apa yang telah didengarnya. 

“Astaga..” Reinhart menggelengkan kepalanya, ternyata suara yang didengarnya adalah suara orang yang sedang bercumbu.

Dengan cepat Reinhart mencuci tangannya, ia memutuskan lebih baik ia beristirahat di kamar hotelnya.

Ketika ia mencuci tangannya, pintu toilet di belakangnya terbuka. Reinhart melihat dari kaca wastafel dua orang laki-laki keluar dari toilet itu. Laki-laki yang keluar pertama kali dikenalinya sebagai salah satu Direktur di perusahaan galangan kapal. Dan yang satu lagi... 

“Oh Tuhan..” Reinhart berbisik.

Stephan, Stephan kekasih Mandy lelaki kedua yang keluar dari toilet itu. Amarah Reinhart seketika menggelegak, dia menatap Stephan melalui kaca wastafel, sementara itu Stephan tidak menyadari tatapan penuh amarah itu dan juga tidak mengetahui keberadaan Reinhart di ruangan itu. Setelah kedua lelaki itu keluar dari restroom, Reinhart segera membuntuti Stephan.

Stephan dan partnernya berpisah di depan kamar hotel dan sekali lagi Reinhart melihat mereka berciuman panas. Melihat adegan itu, Reinhart merasa mual. Laki-laki itu mual bukan karena ia homophobia tetapi ia mual dengan kenyataan Mandy telah menjalin hubungan dengan lelaki biseksual. 

Sang partner Stephan telah meninggalkan kamar hotel Stephan. Reinhart mengawasi lorong hotel dan tidak ada seorangpun di sana. Laki-laki itu menuju kamar hotel Stephan dan menekan bel kamar.

“Room service”  

“Ya. Tunggu sebentar.” Suara Stephan terdengar dari dalam kamar.

Kemudian pintu terbuka, seraut wajah tampan yang dikenal Reinhart sebagai kekasih mandy itu pun terlihat terkejut melihat sang Ayah.

Dengan cepat, Reinhart menarik kerah baju Stephan, mendorong lelaki itu ke dalam kamar dan menarik gagang pintu kamar dan meninju wajah tampan itu.

Stephan terjengkang, bibirnya terasa asin oleh darah.kemudian dengan terhuyung-huyung ia mencoba bangkit. Tetapi tangan Reinhart kembali mencengkeram lehernya.

“Jelaskan padaku apa yang terjadi Stephan. Siapa laki-laki tadi?” Reinhart menggeram kejam, tangannya masih menarik kerah baju Stephan.

“Kau sudah melihatnya ya?” Stephan berusaha tenang dan tersenyum walau sedikit tercekik karena kuatnya genggaman tangan Reinhart di kerah bajunya.

“Aku sudah tahu apa yang kalian lakukan di rest room.” 

“Ah... akhirnya kebohongan ini harus berakhir. Lelaki itu kekasihku Mr. Adams.”

“Lalu, apa yang kau lakukan terhadap Mandy? Kau mengkhianatinya? Tahukah Mandy kalau kau biseksual?” cengkraman Reinhart semakin kuat di leher Stephan.

“Mengkhianati? Biseksual? Tidak, aku tidak pernah mengkhianatinya. Kami hanya bersahabat,bukan sepasang kekasih Mr. Adams. Dan aku memang seorang gay. Tolong lepaskan tanganmu..” Stephan terbatuk-batuk karena tercekik.

Reinhart tersadar dan melonggarkan cengkramannya. Dia bisa membunuh laki-laki ini saat ini juga.
“Mandy mengatakan kalian sepasang kekasih.”

“Sebaiknya kau bertanya pada putrimu langsung, mengapa ia berbohong padamu.”
 
Perlahan Reinhart melepaskan tangannya dari leher Stephan. Kemudian ia membersihkan debu yang tidak terlihat di kerah Stephan.

“Semoga keberuntungan berpihak padamu Nak.. apabila jawaban Mandy tidak memuaskan hatiku, aku akan membunuhmu.”

Reinhart pergi dari kamar Stephan dengan langkah-langkah panjang. Meninggalkan Stephan yang masih susah mengambil nafas. Kemudian, Pemuda tampan itu memandang dirinya sendiri yang tampak terlihat payah di cermin kamar hotelnya. Pemuda itu mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada Mandy.

Good luck Mandy... semoga kau beruntung dan bisa menghadapi kemarahan Ayah tersayangmu. Masalah ini kau selesaikan sendiri tanpa campur tangan dariku. Dan sebaiknya kau tidak melarikan diri, hadapi semuanya.

***

“Ya Tuhan... apa yang harus aku lakukan?” Mandy bergumam panik membaca pesan singkat dari Stephan. Gadis itu tidak dapat berkonsentrasi dengan pekerjaannya.  Kepanikan terlihat jelas di wajah Mandy seharian. Tetapi ia mencoba tetap profesional dengan menyelesaikan semua pekerjaannya, sambil mengerjakan pekerjaannya gadis itu memutar otak tentang apa alasan yang harus ia jelaskan kepada ayahnya.

Hari itu, waktu berjalan sangat lambat dan sangat menyiksa bagi Mandy. Sedikit-sedikit gadis itu mencuri pandang ke arlojinya, berharap jam kerja berakhir dan ia ingin segera pulang ke apartemen. Tetapi ia juga galau, akankan ayahnya menemui dirinya di lobby kantor nanti? Berjuta pertanyaan dan kalimat bermain di benak Mandy. Dan akhirnya gadis itu memutuskan dia harus jujur, jujur pada dirinya sendiri dan jujur pada Reinhart tentang semuanya agar tidak ada yang tersakiti lagi. Tetapi mengenai Nenek Marge Mandy tidak sanggup berkata jujur pada ayahnya.. terlalu banyak masalah yang akan muncul apabila ia mengatakan semua tentang Marge pada Reinhart.

***

Tepat yang seperti diperkirakan Mandy, Reinhart menunggu gadis itu di lobby kantornya. Kemarahan jelas terlihat di mata Ayahnya. Mandy berusaha terlihat tenang dan tidak mengetahui apa yang telah terjadi.

“Halo Ayah..” Mandy tersenyum ceria.

“Halo Mandy.. Aku ingin bicara padamu” Reinhart  segera menggandeng lengan Mandy dengan kuat, berusaha gadis itu tidak kabur karena ia yakin Stephan pasti telah memberitahu tentang semua yang telah terjadi di Stuttgart.

“Ayah.. tanganmu terlalu kuat mencengkeram lenganku.” Mandy meringis

“Oh, maaf sweetheart. Ayo ke mobilku. Kita pulang ke rumah sekarang.”

Rumah? Seketika Mandy merasa waspada, apakah yang dimaksud rumah adalah kastil kecil yang dingin itu? Tetapi Mandy tidak bisa berbuat apa-apa, karena ayahnya telah menyeretnya menuju mobil. Dan ia tidak ingin mengundang perhatian banyak orang dengan melawan kemauan Reinhart.

Reinhart membukakan pintu dan mempersilakan Mandy untuk masuk ke mobil dengan sedikit tergesa. Dan kemudian laki-laki itu menyusul dan dengan segera menghidupkan mesin. Reinhart mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Mereka berdua hanya diam sepanjang perjalanan itu.
 
Ketika arah perjalanannya dikenal Mandy sebagai jalan menuju kastil keluarga Adams. Mandy memecahkan kesunyian dengan berkata sengit pada Reinhart.
 
“Ayah, tolong antarkan aku ke apartemenku.”

“Tidak, kau tidak boleh tinggal di sana lagi. “

“Mengapa?”

“Kau lupa pada perjanjian kita? Apabila kau membuat masalah, kau harus kembali ke rumah. Dan sekarang kau jelas-jelas membuat masalah dengan berbohong padaku.”

Mandy diam, kuduknya meremang mendengar kata-kata Reinhart yang terdengar mengancam di telinganya.

Mobil telah memasuki halaman kastil. Kemudian Reinhart menghentikan mobil  dan berbicara pada Mandy dengan senyum kejamnya.

“dan sebaiknya kau siapkan alasan yang benar. Aku ingin mendengarnya langsung darimu nanti. Sekarang, beristirahatlah dan bersihkan dirimu. Aku tunggu kau di ruangan kerjaku 1 jam lagi Mandy.”

***
Mandy mengetuk pintu ruang kerja Ayahnya dan suara Reinhart memerintahkannya untuk masuk. Reinhart sedang memandang perapian, mengamati kayu yang terbakar Laki-laki itu terlihat semakin menyeramkan sekarang di mata Mandy. Kemudian Reinhart menoleh dan tersenyum pada Mandy. Dengan kikuk gadis itu membalas senyum Reinhart karena ia tahu walau Reinhart tersenyum, tetapi matanya sama sekali tidak.

“Langsung ke pokok masalahnya saja Mandy.. aku ingin tahu alasanmu berbohong mengenai Stephan. Dan aku ingin itu jawaban yang jujur.” Reinhart berkata dingin, walau bibirnya tersenyum. 

“Aku rasa kau sudah tahu Ayah alasannya. Kau.. Ayahku tetapi kau mencintaiku dengan perasaan cinta yang lain. Itu tidak benar, tidak normal. Maka aku meminta bantuan Stephan. Mohon jangan salahkan dia, semua ide ini datang dariku.” Mandy berkata dengan tegas, ia berusaha tegar dan membuang jauh-jauh semua ketakutannya.

“Itu benar, tapi kita tidak sedarah Mandy.” Reinhart tersenyum kecil mendengar jawaban Mandy yang telah ia perkirakan sebelumnya.
 
“Tapi yang membuatku kecewa adalah kau.. Kau Putriku yang telah kurawat selama 21 tahun mengkhianatiku dengan berbohong. Astaga Mandy, apa kau tidak mengenaliku dan memahamiku lagi.. Kalau memang kau tidak punya perasaan yang sama denganku, aku bisa menerimanya dan mengerti.”
 
Mandy terdiam dan tidak berbicara satu patah kata pun.

“Kau ingin menjauhiku, itu yang bisa kusimpulkan sekarang. Dan aku terlihat hina dimatamu karena perasaan itu. Apabila dari awal kau jujur padaku kalau kau memintaku untuk menjauh dan tidak muncul di hadapanmu lagi, itu pun akan kulakukan.”

Reinhart berjalan mendekati Mandy, mengelus rambut gadis itu dengan rasa sayang dan juga pedih.

“Besok aku akan kembali ke Amerika. Semua rencana untuk menetap dan bekerja disini akan kubatalkan. Mengenai apartemenmu, aku telah membatalkan perjanjian sewanya dengan induk semangmu. Aku telah membelikanmu apartemen yang jauh lebih layak untukmu, aku harap kau kerasan tinggal di sana nanti.”

Kemudian laki-laki itu mengecup puncak kepala Mandy dengan lembut dan membisikkan salam perpisahan.

“ Selamat tinggal gadis kesayanganku. Ingatlah aku hanya sebagai Ayahmu. Mungkin kita tidak akan berjumpa dalam waktu yang lama.”
 
Mandy terdiam, matanya mulai terasa panas. 

“Beristirahatlah malam ini di kamarmu, besok kita tidak akan bertemu lagi. Aku mengambil penerbangan dini hari.”
 
Reinhart berjalan menjauhi Mandy menuju pintu dan tanpa menoleh pada Mandy. 

“Tunggu Ayah... ada yang harus kukatakan. Aku telah memutuskan untuk jujur pada diriku sendiri dan jujur padamu.”

Reinhart diam, menunggu kata-kata selanjutnya dari Mandy. 

“Aku tidak tahu perasaan apa yang ada dihatiku saat ini. Jantungku selalu berdebar bila mendengar  suaramu dan melihat dirimu. Aku merasa bahagia hanya dengan kehadiranmu Ayah. Dan sesungguhnya hanya kau orang yang selalu kupikirkan...”
 
“Cukup Mandy...” 

Reinhart berbalik dan berjalan mendekati Mandy.

“Aku takut akan perasaanku ini Ayah. Takut dengan semua penolakan yang terjadi apabila kita bersama..”

“Cukup..”

Dengan satu sentakan, Reinhart memeluk gadis itu erat.

“Cukup Mandy. Tidak perlu kau katakan lagi. Hanya dengan kata-katamu tadi aku sudah mengerti.”, bisik Reinhart lembut di telinga Mandy. 


Kemudian Reinhart merengkuh wajah Mandy dengan kedua tangannya.
“Tatap mataku Mandy...  Aku ingin kau melihat kesungguhanku kalau aku benar-benar mencintaimu.”

Mandy mendongak, menatap mata Reinhart dan binar kebahagiaan terlihat jelas di mata laki-laki itu. Mandy  belum pernah melihat Reinhart terlihat begitu bahagia  selama hidupnya.

Kemudian gadis itu membelai dengan lembut rahang kokoh laki-laki itu dengan jemari mungilnya.

“Aku mencintaimu, Reinhart Heinrich Adams..”

***

To be Continued


Jumat, 07 Desember 2012

SECRETS CHAPTER 4


 Setelah kejadian malam itu, Reinhart dan Mandy tidak berbicara. Mereka berusaha untuk menghindari satu sama lain. Tak pernah dalam hidup Reinhart  dirinya merasa sehina, serendah, dan sepengecut ini. Dia yang menyebabkan semua ini, tetapi mengapa dia yang bersikap menghindar dari Mandy? Apabila Mandy menghindar, itu adalah reaksi yang sewajarnya dari seorang gadis yang shock dengan apa yang terjadi. Sudah kurang-lebih 2 minggu Reinhart tidak mengetahui kabar Mandy, dan itu membuatnya hampir gila. Reinhart ingin bertemu Mandy, ataupun hanya mendengarkan suara gadis itu dapat meredakan kegalauan hatinya. Tetapi Reinhart tidak mempunyai keberanian untuk menemui atau menelpon Mandy, laki-laki itu tidak tahu bagaimana berbicara atau bersikap pada gadis itu. Dan ia menyadari tindakannya sekarang jauh dari kata-kata dewasa, Reinhart merasa seperti remaja ingusan sekarang.

Reinhart terlihat sangat gelisah, laki-laki itu tidak dapat berkonsentrasi dengan apapun yang ia kerjakan saat ini. Ia terlihat mondar-mandir di ruang kerjanya tanpa mengerjakan sesuatu beberapa hari ini. Douglas, sang CEO yang seharusnya dari satu minggu yang lalu sudah bertugas di Amerika, tetapi  hingga saat ini ia masih bercokol di kantor pusat Adams Corporation di Hannover. Dan sekarang, sang CEO menaikkan alisnya dengan bingung melihat atasannya yang bertingkah  aneh di matanya saat ini.

“Reinhart, apa kau sudah melihat dokumen pengambilalihan perusahaan industri galangan kapal itu? Aku harap kau sudah membacanya untuk dapat direvisi atau langsung disetujui karena sudah cukup lama  ditunda.
Reinhart yang sedang membelakangi Douglas hanya diam, laki-laki itu berdiri di depan jendela raksasa  menatap pemandangan malam kota Hannover dari ruang kerjanya yang terletak di lantai 21.

“Maaf Doug, aku sama sekali belum melihat dokumen kesepakatan itu. “

“Sudah memasuki minggu ke dua dari ketika aku menyerahkan dokumennya padamu. Yang benar saja Reinhart, apa sih yang kau pikirkan? Kau terlihat aneh akhir-akhir ini.”

“Doug, kau adalah CEO ku. Aku menahanmu disini untuk membantu pekerjaan yang tidak dapat kutangani. Jadi, pekerjaan yang masih terbengkalai aku harap dapat kau selesaikan.”

“Pengambilalihan ini bernilai jutaan Euro Reinhart.. dan  kau mempercayakan begitu saja kepadaku tanpa ada sedikit pertimbangan darimu?”

Reinhart akhirnya berbalik menghadap Douglas, dan laki-laki itu terlihat begitu lelah. Bagian bawah mata reinhart terlihat menghitam, kerut-kerut di sekitar mata dan bibirnya terlihat lebih jelas. Dan Douglas cukup terkejut melihat perubahan fisik Reinhart dalam waktu beberapa hari saja.

“Aku percaya penilaian dan tindakan yang kau ambil Doug… Semua aku percayakan padamu Sobat.” Reinhart tersenyum,lelaki itu mendatangi Douglas dan menepuk pundaknya.

“Aku pulang duluan, ada sesuatu yang harus aku selesaikan.” Reinhart mengambil jas miliknya yang tersampir di kursi kerja kemudian melangkah pergi dari ruangan itu.

Douglas memandang meja kerja Reinhart, memutar matanya dan menghembuskan nafas frustasi  ketika melihat tumpukan menggunung dokumen berantakan yang ditinggalkan untuknya.

***

Reinhart memarkirkan mobilnya di depan apartemen Mandy, 15 menit telah berlalu dan laki-laki itu masih duduk di belakang kemudi mobilnya. Menimbang apa yang akan ia katakan dan lakukan apabila bertemu Mandy. Reinhart meneguhkan hatinya, dia harus menemui gadis itu untuk menjelaskan dan menyelesaikan apa yang terjadi di antara mereka, walaupun mungkin akan menyakitkan bagi mereka berdua.

***

Mandy mengetahui kedatangan Ayahnya ke apartemen, tadi secara tidak sengaja Mandy sedang menikmati pemandangan gedung di sekitar apartemennya di malam hari sambil memikirkan kejadian yang terjadi antara ia dan Ayahnya 2 minggu yang lalu.  Dan dia melihat mobil Reinhart memasuki area parkir apartemennya.
“Oh, sial..” Mandy sedikit panik, tidak siap dengan kedatangan Reinhart.

Dengan segera gadis itu menghubungi Stephan melalui ponselnya, meminta bantuan dan saran pemuda itu.
“Tenang, dear… ikuti saran dan petunjukku. Aku akan datang sebentar lagi.” Stephan berusaha menenangkan Mandy.

Setelah hubungan telpon terputus, Stephan tersenyum.. Dia tidak menyangka hubungan dia dan Mandy berkembang begitu cepat dalam 2 minggu ini. Setelah peristiwa yang terjadi pada suatu malam 2 minggu yang lalu, gadis itu meminta Stephan datang ke rumahnya dan ia menceritakan segalanya dan meminta ia berpura-pura menjadi kekasihnya untuk sementara. Stephan tidak terlalu terkejut dengan apa yang terjadi, karena ia telah memprediksikan semuanya.

 Awalnya, dengan jujur Stephan mengakui dia tertarik pada Mandy karena paduan keunikan yang ada pada diri gadis itu terutama baju-baju desainernya. Wajah asia yg cantik dan bertubuh mungil tetapi mempunyai warna kulit sewarna peach dan mata yg hijau mempesona. Penampilan yang sederhana tetapi apabila diperhatikan semua yg dikenakan gadis itu adalah hasil rancangan desainer. Pribadi yang ramah tetapi sinar mata yang terlihat sedih. Paduan yang unik, yang membuat Stephan penasaran.. Dan rasa penasaran itu sudah terjawab setelah kejadian itu, sekarang Stephan makin jatuh sayang pada gadis itu karena pribadinya yang baik dan rendah hati dan juga sedikit rasa iba karena kisah hidupnya. Dan niat pemuda itu membantu Mandy sekarang murni karena persahabatan mereka dan sedikit niat untuk menjahili Reinhart Heinrich Adams, sang Ayah, Komisaris Utama Adams Corporation.

Bibir Stephan masih menyunggingkan senyum sayang ketika mengingat Mandy. Sambil bersiul riang, pemuda pirang itu bersiap-siap ke apartemen sang gadis untuk memulai suatu sandiwara kecil.

***

15 menit kemudian bel pintu apartemennya berdering, Mandy yang sedang melaksanakan instruksi Stephan yaitu menyiapkan masakan untuk mereka berdua, tetap saja merasa gentar karena ia tahu persis siapa yang datang. 

“Tenang Mandy… tenang..” Mandy memotivasi dirinya sendiri untuk bersikap masuk akal di depan Reinhart nanti. Gadis itu berjalan menuju pintu depan.

“Siapa?” Mandy berpura-pura tidak tahu akan kedatangan Ayahnya.

“Ayahmu.”

Sebelum membuka pintu, Mandy menghembuskan nafas dalam-dalam dan memasang senyum termanisnya.
“Halo Ayah..” Mandy membuka pintu dan membuat jantung Reinhart jatuh ke kaki dengan senyum manis dan sapaan lembutnya.

Dalam beberapa detik, pikiran Reinhart kosong karena senyuman itu. Laki-laki terperangah.. ia bingung dengan sikap Mandy yang ia lihat sekarang. Seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka beberapa minggu kemarin.

“Ah… Halo Mandy.” Sapa Reinhart lembut, matanya menatap Mandy dengan penuh cinta dan sayang. Laki-laki itu memutuskan ia harus jujur dengan perasaannya terhadap Mandy dan akan mengakui perasaan yang ia rahasiakan selama ini pada gadis itu.

Mandy  terlihat begitu manis, dengan tatanan rambut yang dicepol asal-asalan dan celemek berenda hijau tetapi penuh dengan noda. Mandy mengusap-usap kedua tangannya ke celemeknya sambil tersenyum lebar, membuat Reinhart ingin memeluk gadis itu erat0erat saat itu juga.

 
Mandy berjalan ke dapurnya yang menyatu dengan ruang duduk dan ruang makan. Apartemen itu dipenuhi dengan aroma masakan yang sedang dimasak gadis itu.

“Wah harum sekali Mandy.. apa yang kau masak sekarang?”

Reinhart mengekor Mandy, dan memandang gadis mungil itu sedang mengaduk-ngaduk wajan.

“Aku sedang membuat nasi goreng. Masakan khas Indonesia yang aku pelajari dari temanku yang asli orang Indonesia juga. Paling tidak aku bisa memasak salah satu masakan yang pernah Ibu sukai.”

Mandy menjawab tanpa memandang Reinhart, ia sengaja menyibukkan diri dengan masakan. Gadis itu sedang menenangkan debar jantungnya yang berdetak kencang.

“Sepertinya kau masih sibuk dan belum selesai dengan dapur ini. Ada yang bisa kubantu Mandy?”
“Oh iya. Garnish untuk nasi gorengnya belum disiapkan Ayah. Kau bisa mengiris tomat, mentimun dan merapikan selada?”

“Mandy, kau terlalu meremehkan kemampuan memasakku.Harga diriku terluka sebagai mantan mahasiswa.” Reinhart terkekeh. Mandy hanya tertawa kecil mendengar canda reinhart. Laki-laki itu kemudian mengambil tomat, mentimun dan selada yang ada di meja dapur. Mencuci sayuran itu di wastafel dan mengambil tempat tidak jauh dari Mandy untuk memotong sayuran. 

Kemudian mereka bekerja tanpa berbicara, sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing. Mandy dengan tidak sabar menunggu kedatangan Stephan sedangkan Reinhart mengatur strategi untuk berbicara dengan Mandy setelah semua masakan siap diolah. Berniat untuk mengakui semuanya. 

“Omong-omong Mandy, tumben kau memasak malam-malam. Bukankan kau menghindari makan malam setelah pukul 7?” Reinhart memecahkan kesunyian antara mereka berdua. Mandy menoleh dan tersenyum, memperhatikan kecekatan Ayahnya dalam  memotong sayuran, Reinhart terlihat lumayan untuk seorang laki-laki yang jarang turun ke dapur.

“Stephan berencana datang malam ini Ayah, mungkin ia akan menginap di sini.” Mandymenjawab pelan,  mengatakan kata-kata persis sama yang diinstruksikan Stephan tadi padanya.

Reinhart terdiam, laki-laki itu mencerna kembali apa yang dikatakan oleh Mandy. Mandy diam, gadis itu menunggu reaksi Reinhart dengan membisu.

Aura ketegangan begitu nyata di antara mereka. Begitu kental hingga menyesakkan nafas mereka masing-masing. 

“Jadi, kau sudah resmi menjalin hubungan dengan Stephan. Sejak kapan Sweetheart?” Reinhart berhasil menemukan kata-katanya, jari-jari pria itu sedikit gemetar memegang pisau.

“Satu minggu yang lalu. Aku menyadari ia mungkin pria yang paling mendekati sempurna yang menyukaiku. Aku cukup menyukainya Ayah, dan sedang belajar untuk mencintainya.”

Reinhart mengetatkan rahangnya mendengar kata-kata Mandy, konsentrasinya kembali berantakan dan ia dengan tidak sengaja melukai jarinya sendiri.

“Aduh..”  Reinhart meringis, pisau yang tajam itu mengiris sedikit ujung jari telunjuk kanan Reinhart.

“Ayah.. kenapa?” Mandy terburu-buru menghentikan kegiatan memasaknya, menghampiri Ayahnya dan melihat darah mengalir cukup banyak di jemari Ayahnya.  Dengan cepat gadis itu mengambil serbet yang bersih, membersihkan darah Reinhart dan menghisap jari laki-laki itu untuk menghentikan pendarahan. 

Reinhart hanya tertegun, memandangi Mandy dan perutnya bergelenyar merasakan bibir dan lidah gadis iu di jemarinya. Laki-laki itu membayangkan bibir dan lidah Mandy berada di bagian lain tubuhnya, dadanya berdetak kencang dan rasa panas mulai menyebar ke perutnya dan turus turun ke bawah..

“Sudahlah Mandy, hanya luka kecil kok.” Reinhart tersadar dari khayalan tidak pantasnya, ia menarik lembut  tangannya dari bibir Mandy. Mandy mengangkat wajahnya dan mengerjap pada Reinhart.
“Bukankah Ayah melakukan hal itu ketika aku dulu terluka?” 

Reinhart tersenyum lembut  dan tidak menjawab gadis itu “Itu dulu Mandy, ketika kau masih kecil. Dan saat sekarang saatnya sanglah berbeda.”

Dan bau hangus memenuhi ruangan itu, Mandy baru sadar kalau ia tadi meninggalkan masakannya tanpa mengecilkan api kompor terlebih dahulu.

“Aduh.. omelette ku..” Mandy memekik kecil, gadis itu segera menyelamatkan masakannya dari kerusakan yang lebh parah, tetapi dengan ceroboh ia memegang wajan tanpa mengenakan cempal atau sarung tangan.

“Awww..” Mandy menjerit, merasakan panas yang membakar tangannya, dan wajan yang ia pegang seketika terlepas. 

“Mandy!”  Reinhart berseru, dengan sigap Reinhart membawa Mandy ke wastafel, mengguyur kedua tangannya yang melepuh  dengan air dingin.

“Gadis kecilku yang ceroboh.” Reinhart mendengus pelan menahan tawa. Tangannya masih memegang lembut tangan Mandy di bawah guyuran air keran.

“Ayah, gara-gara siapa coba?” Mandy meringis tetapi berusaha mengomeli  Reinhart.

Reinhart kembali terkekeh.

“Dimana kotak P3K? kau menyimpan bioplacenton?” Reinhart membimbing Mandy menuju ruang duduk dan mengaduk isi kotak P3K milik Mandy yang terletak di dinding antara ruang duduk dan dapur.

Setelah menemukan apa yang ia cari, Reinhart duduk di samping Mandy. 

“Ulurkan tanganmu.” Perintah Reinhart lembut. Mandy mengulurkan salah satu tangannya, dan dengan hati-hati Reinhart mengoleskan salep itu pada kulit Mandy yang sedikit melepuh. Mandy memandang Ayahnya dengan penuh rasa sayang, ia mengingat-ngingat kapan terakhir kali Reinhart memperlakukan ia dengan lembut karena terluka. 

“Mandy… jadi kau menetapkan pilihanmu pada Stephan?” Reinhart membuka pembicaraan kembali, tetapi laki-laki itu sama sekali tidak menatap wajah Mandy. Matanya hanya terkonsentrasi pada luka bakar di tangan gadis itu.

“Iya Ayah..” Mandy menjawab pelan, sedikit merasa bersalah dengan kebohongannya. Reinhart memperlakukan dirinya dengan sangat lembut, tangan kokoh laki-laki itu membelai lembut jari-jarinya yang mungil. Mengirimkan getar-getar kenikmatan ke tengkuk Mandy. Wajah Mandy memerah, malu dengan hasratnya yang tak diduganya. Tetapi, Reinhart tidak menyadari perubahan air muka Mandy, ia sibuk berkonsentrasi menahan emosinya yang hancur berantakan karena pengakuan Mandy dan memilih kata-kata yang pantas untuk diucapkan seorang Ayah pada anak gadisnya yang memulai suatu hubungan dewasa.

“Begini Mandy, kau sudah mengenal Stephan sekitar 1 bulan, tapi kau baru menjalin hubungan dengan dia baru 1 minggu. Apakah kau yakin dengan apa yang akan kau lakukan malam ini Sweetheart? Aku berasumsi kau baru pertama kali melakukannya.Tolong tangan satunya.”  Kata-kata Reinhart mengalun lembut di telinga Mandy, tidak sedikitpun laki-laki itu menatapnya.  Mandy mengulurkan tangannya 

Mandy tidak mengucapkan satu patah katapun, dia hanya memandang Reinhart  kemudian memandang tangannya yang tengah dirawat oleh Reinhart, laki-laki itu memperlakukan jari-jemarinya seperti sebuah berlian. 

“Mandy, kalau memang kau sudah yakin dengan apa yang akan kau lakukan, pastikan kau mempraktekkan sex safe, OK?” Reinhart mengangkat wajahnya menatap langsung Mandy tepat ke mata gadis itu. Bibir Reinhart tersenyum tetapi mata lelaki itu tidak, Mandy dapat membaca wajah ayahnya yang menyembunyikan sesuatu darinya. 

Mandy mengangguk pelan, kemudian menundukkan kepalanya kembali.

Suasana kembali hening, dan mereka berdua memusatkan perhatian pada pengobatan tangan sang gadis kembali. 

“OK.. sudah selesai.”  Reinhart telah mengoleskan salep ke semua bagian jemari Mandy yang terkena luka bakar. Laki-laki itu bermaksud melepaskan tangan Mandy, tetapi tangan gadis itu memegang jemarinya dengan kuat. Mata Reinhart memandang Mandy dengan tatapan bertanya.

“Ayah.. ada yang ingin kutanyakan..” Suara gadis itu pelan, terdengar ragu dengan apa yang akan diucapkannya.

Reinhart menaikkan alisnya, memberi tanda pada Mandy untuk  meneruskan kata-katanya.

“Apa arti ciuman waktu itu dan mengapa kau melakukannya padaku?” Sejujurnya Mandy sangat ingin menghindari pembicaraan mengenai kejadian itu, tetapi entah mengapa lidahnya dan hatinya tidak bisa diajak berkompromi dengan otaknya.

Reinhart terhenyak, tidak menyangka gadis itu berani menanyakan hal ini kepadanya. Padahal reinhart telah memutuskan untuk melupakan perasaannya pada Mandy setelah ia tahu Stephan telah berhasil memiliki hati gadis itu.

“Kau ingin jawaban yang seperti apa Mandy? Ada 2 versi, versi jujur atau penuh dengan kebohongan?” Reinhart tersenyum lembut.

“Dua-duanya.”  Mandy menatap Reinhart dengan berani.

Reinhart kembali tersenyum.. Kadang gadis ini memang tidak bisa ditebak pikir Reinhart geli.

“Mari kita mulai dengan versi pertama. Kalau aku mengatakan padamu itu hanya kekhilafan semata, hanya gairah sesaat karena aku sedang membayangkan salah satu kekasihku yang jauh di Amerika.. Bagaimana? Apa kau percaya Mandy?”

“Yang bernama Gloria Entah-Siapa itu?” Mandy tersenyum mendengar kata-kata Reinhart. tetapi hati Mandy berdebar kencang menunggu apa yang akan keluar dari bibir Reinhart selanjutnya.

“ Ternyata kau masih mengingat nama perempuan itu..” Reinhart tertawa. 

“Dan sekarang versi kedua. Bagaimana kalau aku mengatakan padamu kalau aku mncintaimu Mandy? Bukan cinta antara orangtua dan anaknya, tetapi bentuk cinta yang lain. Cinta yang penuh hasrat, cinta antara seorang laki-laki terhadap seorang wanita, yang telah lama kurahasiakan padamu. “ Reinhart menatap Mandy tajam, jemari lelaki itu membelai tangan Mandy lembut. 

Mandy terperangah, sungguh diluar dugaannya Reinhart akan berkata seperti ini.

“Yang mana yang akan kau percaya Mandy? Itu terserah padamu.” Reinhart melepaskan tangan Mandy, berdiri menuju kotak P3K untuk mengembalikan salep dan tersenyum simpul pada gadis itu. Reinhart sudah lelah dengan apa yang ia tutupi selama ini, dan ia sudah tidak peduli dengan apa yang akan terjadi dengan pengakuan ini. Mandy sendiri yang telah mendorong dirinya untuk membuka semua rahasia yang disimpannya.

Kemudian Mandy berdiri dari sofa, berjalan menuju Reinhart. Mata gadis itu menatap Reinhart dengan berani.

“Versi pertama adalah yang ingin aku dengar tapi aku tidak percaya. Versi kedua adalah versi yang ingin kupercaya tapi yang ingin aku dengar. Tapi ini menyalahi semua aturan yang ada, kau ayahku, dan aku putrimu. Kita sama-sama menyandang nama Adams. Walau aku bukan putri kandungmu, semua akan menentang kita Ayah.” 

“Aku tidak peduli dengan orang-orang Mandy, di sini hanya ada kata ‘Kau dan Aku’. Bagaimana perasaanmu padaku, itu saja yang penting.”

“Aku masih tidak mengerti dengan yang aku rasakan sekarang Ayah.” Mandy menggeleng bingung.
“Tapi paling tidak sekarang sudah jelas, kau melihatku sekarang sebagai seorang laki-laki, bukan sebagai seorang Ayah lagi sepenuhnya. Dan persetan dengan semuanya Mandy..” 

Reinhart menggeram, meraih pundak Mandy. Kemudian Laki-laki itu merengkuh wajah Mandy dengan kedua tangannya. Bibir Reinhart memagut bibir Mandy dengan kasar, memaksa gadis itu untuk membuka dan menerima ciumannya. Mandy terkesiap, pada awalnya ia ingin berontak dari paksaan itu, tetapi ada sesuatu pada ciuman Reinhart yang membuat ia tetap diam. 

Reinhart mencium Mandy dengan rasa putus asa. Dan rasa itu yang dirasakan Mandy sekarang. Ciuman yang kasar itu perlahan melembut, lidah Reinhart membujuk bibir Mandy untuk membuka terhadap sentuhannya. Perlahan bibir gadis itu membuka dan lidah Reinhart menyerbu masuk, menggoda geligi Mandy, dan menyesap lidah gadis itu dengan lembut.  Mandy mabuk akan ciuman Reinhart, akal sehat gadis itu hilang karena kenikmatan yang ditimbulkan dari apa yang mereka lakukan sekarang. Sementara tangan Reinhart mengelus punggung  Mandy, menimbulkan gelenyar sensasi yang asing bagi gadis itu.

Reinhart  menghentikan ciuman itu, laki-laki itu tahu kalau apabila ia tidak berhenti sekarang juga ia akan kehilangan kendali dirinya, dan perlahan ia melepaskan dirinya sendiri dari ciuman panas itu.
“Mandy, aku mencintaimu..” Reinhart berbisik terengah di telinga Mandy, laki-laki itu masih memeluk Mandy dengan erat. Sementara Mandy menyandarkan dirinya sepenuhnya pada pelukan Reinhart, gadis itu tak sanggup berdiri dengan kedua kakinya.

Dan pintu bel apartemen Mandy berdering.

“Stephan..” Bisik Mandy pelan.

Reinhart terhenyak, begitu menyakitkan ternyata ketika apabila sedang menyatakan perasaan dan memeluk gadis yang ia cintai, tetapi dari bibir gadis itu nama pria lain yang terucap. 

Mandy melepaskan dirinya dari pelukan Reinhart , dengan langkah goyah ia berjalan menuju pintu depan.  Sebelum gadis itu sampai ke tujuannya, Reinhart menyentuh lengan Mandy dengan lembut.

“Kalau kau memilih dia, tidak apa-apa Mandy.  Tetapi pertimbangkanlah semua apa yang sudah kukatakan padamu.” Bisik Reinhart pelan. Hati laki-laki itu begitu pedih, karena dia tahu apa yang akan terjadi di malam itu antara Stephan dan Mandy.

Mandy hanya diam, kemudian menepiskan tangan Reinhart dan melangkah menuju pintu. Dan Reinhart tahu, bukan dia yang ada di hati gadis itu.

-    To be Continue  -