Jumat, 19 Oktober 2012

Secrets Chapter 2



Pulang ke rumah.. dan rumah itu tidak akan terasa seperti rumah apabila tanpa Mandy di sisinya. Reinhart mengendarai mobilnya dengan muram dan pikirannya tak pernah lepas dari Mandy, dari ciumannya..
Astaga Reinhart.. itu hanya ciuman sayang biasa, tak akan lebih dari itu. Lagipula sudah biasa bukan Mandy atau dirimu melakukan itu..
Mobil Renault yang dikendarainya mendekati pintu gerbang rumahnya, Reinhart memperlambat  laju kendarannya dan menunggu pintu gerbang dibuka secara otomatis oleh Scott, salah satu petugas keamanan yang bertugas malam itu. Scotts mengenali mobil majikannya tersebut, laki-laki bertubuh kekar itu keluar dari pos keamanan yang terletak di samping pintu gerbang untuk menyapa Reinhart.
“Selamat Malam Sir.. kepulangan yang begitu tiba-tiba?” Scotts menyeringai lebar
Reinhart menurunkan kaca mobil, mengangguk  dan balas menyeringai pada laki-laki separuh baya yang sudah dianggap keluarganya dari balik setir mobil.
“tuan putri membuat sedikit masalah.. tentunya kau sudah tahu?”
Scotts tersenyum bijak,lalu mengangguk “Miss Mandy anak yang baik Sir..tidak sedikit pun ia membuat masalah walau seberat apapun keadaan yang dia hadapi”
“Aku tahu.. “
Pintu gerbang perlahan terbuka, Reinhart melambaikan tangan kepada Scotts dan mengemudikan mobilnya menuju rumah. Antara pintu gerbang dan rumah berjarak kurang lebih 3 kilometer, dan jarak sepanjang 3 kilometer itu terdiri dari hutan dan taman labyrinth. Sebetulnya rumah itu tidak pantas disebut rumah tapi kastil kecil karena mempunyai 24 kamar dan 1 ballroom yang cukup untuk menampung 500 orang. Bangunan berrwarna putih itu dibangun pada awal abad akhir abad 19, termasuk baru untuk standar umur sebuah kastil.
Reinhart memarkir mobil dan memberikan kunci mobil pada salah satu pelayan. Dengan langkah panjang dan cepat ia menaiki anak tangga, memberi senyum pada John, sang Kepala pelayan.
“Apa kabar John, omong-omong dimana aku bisa menemui Mrs. Adams?”
“Baik tuan, Mrs. Adams sedang merajut di ruang baca. Beliau telah menunggu kedatangan Anda sejak tadi.”
“Terima kasih John” Reinhart menepuk pundak laki-laki tua itu dan berjalan menuju ruang baca. Nenek Marge adalah nenek tiri Reinhart, Reinhart tidak mempunyai hubungan darah dengan beliau, hanya sebatas hubungan karena perkawinan. Kakek Frank yang merupakan kakek kandung Reinhart menikahi Marge ketika Reinhart berumur 25 tahun, 2 tahun kemudian Kakek Frank meninggal. Menurut hukum yang berlaku, Nenek Marge tidak mempunyai hak untuk tinggal di rumah itu, tetapi demi menghormati dan rasa sayangnya kepada kakek Frank, Reinhart memperbolehkan wanita itu tinggal dan memperlakukannya seperti keluarga sendiri.
Reinhart mendapati Marge sedang berkonsentrasi pada rajutan di pangkuannya. Dengan pelan ia menyapa wanita tua itu
“Halo Nek..”
Marge mengangkat wajahnya dan tersenyum dingin melihat sosok cucu tirinya itu.
“Bagaimana kabarmu di Amerika, Sayang? Dan Apa yang membuatmu kembali dengan begitu tergesa-gesa seperti ini?”
Tidak ada senyum atau kecupan hangat dalam sapaan mereka. Marge adalah wanita yang dingin, merasa tabu akan pertunjukkan kasih-sayang walau itu terjadi di dalam suatu keluarga.
“Ini mengenai Mandy. Apakah nenek tidak mencegah apa yang dilakukan Mandy?”
“Reinhart, aku rasa itu baik untuknya. Dia sudah cukup dewasa bukan? Tak selamanya ia tinggal di rumah ini, sayang.”
Reinhart mengamati wajah dingin Marge,ternyata wanita tua ini tetap tidak berubah. Ia masih tidak menyukai Mandy.
“Aku tetap tidak mengijinkan dia untuk tinggal sendiri. Aku hanya memberikan waktu percobaan 3 bulan, dan apabila terjadi sesuatu maka dia harus pulang ke rumah. Mandy selalu akan menjadi anggota keluarga ini”
Reinhart menegaskan keputusannya kepada Marge. Laki-laki itu secara halus mengingatkan Marge posisi Mandy sebagai anggota keluarga.
Marge memalingkan wajahnya dari Reinhart, mendengus tidak setuju.
Reinhart bersikap seolah tidak melihat sikap pernyataan tidak setuju dari  Marge. Apapun yang terjadi, Mandy adalah anggota keluarga ini.Sepertinya Darah Arya yang mengalir di tubuh Marge begitu kental hingga menghasilkan kesombongan yang cukup menakutkan. 

***

Setelah mandi, berusaha mengendurkan otot-otot tubuhnya yang tegang akibat jet lag dengan siraman air hangat, Reinhart duduk di sisi kanan tempat tidurnya, memandang beberapa frame foto kecil  yang terletak di atas nakas di samping tempat tidur. Reinhart mengambil  salah satu frame foto, di foto itu terdapat sosok seorang yang sangat mirip dengan Mandy, terutama senyum dan matanya. Yang hanya membedakan wajah Mandy sedikit bernuansa Kaukasus, tentunya pasti berasal dari Ayahnya. Wanita itu bernama Adinda, Ibu kandung Mandy yang berdarah Indonesia, salah satu alasan yang membuat Marge membenci Mandy.  Adinda adalah pengasuh Reinhart, wanita itu telah memberikan kasih-sayang layaknya ibu kandung pada reinhart ketika ia kehilangan kedua orang tua kandungnya pada umur 5 tahun. Dan 10 tahun kemudian, Adinda hamil dan menutup mulutnya rapat-rapat tentang siapa ayah dari janin yang dikandungnya itu. Kakek Frank sangat marah pada awalnya mengetahui hal itu, tetapi karena kasih sayangnya terhadap Adinda, akhirnya hati Frank melembut.
Kilasan detik-detik kelahiran Mandy dan kepergian Adinda berkelebat di benak Reinhart, jarak waktu 21 tahun masih tidak dapat menghapus rasa sakit itu. Malam itu kakek Frank tidak ada di rumah, ia sedang dalam perjalanan bisnisnya. Kelahiran Mandy lebih awal satu minggu di luar perkiraan. Dan sebelum Adinda di bawa ke ruang operasi, wanita itu meminta agar Reinhart menjaga bayinya apabila sesuatu yang buruk terjadi pada dirinya.  Reinhart sudah bertindak semampunya sebagai seorang remaja, tetapi tetap saja Adinda tidak tertolong. Tangisnya tumpah saat itu, dan rasa penyesalan begitu dan kehilangan sosok seorang Ibu sangat mengahncurkannya. Kalau saja ia lebih cepat membawa Adinda ke rumah sakit.. Tetapi semua rasa itu hilang, begitu ia menggendong Mandy. Kepalan kecil yang meninju dunia itu  dan genggaman kecil yang kuat pada jarinya menyadarkannya bahwa ada kehidupan baru setelah kepergian Adinda. Dan Reinhart jatuh  sayang pada bayi itu..
Dan ternyata rasa sayang itu perlahan-lahan berubah menjadi sesuatu yang tidak ia kira. Rasa yang membuat Reinhart membenci dirinya sendiri dan ia tau rasa itu membunuhnya pelan-pelan. Tapi di saat bersamaan rasa itu menghangatkan hatinya yang dingin dan menyinari hidupnya yang begitu membosankan.
Reinhart meletakkan foto itu kembali ,dan merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Mencoba untuk melupakan perasaan terlarangnya terhadap Amanda dengan terlelap sejenak.

***

Setelah makan malam dengan Reinhart, Amanda kembali merapikan apartemennya yang masih terlihat payah. Di sela-sela kesibukannya membereskan barang-barang, ia memikirkan kembali apa yang terjadi di depan pintu apartemennya. Mengapa wajah Ayahnya terlihat aneh setelah ciuman selamat malam itu? Bukankan itu merupakan ritual biasa di antara mereka? Tetapi Mandy juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri, ada sesuatu yang berbeda dalam hatinya ketika ia memandang Reinhart, Ayahnya. Apa mungkin karena ia begitu lama tidak bertemu laki-laki itu? Apa waktu selama 3 tahun bisa merubah hati seseorang? Sudahlah…  Mandy tidak ingin memikirkan itu lagi. Gadis itu menganggap mungkin hal-hal aneh yang terjadi karena Reinhart dan dirinya terlalu lelah sehingga memikirkan hal yang tidak-tidak.

***

Pagi itu, Mandy bangun dengan perasaan senang. Ternyata makan malam mewah dan bertemu dengan seseorang yang sangat disayanginya di malam sebelumnya sangat mempengaruhi kualitas tidur, pikir Mandy riang. Mandy memilih pakaian kerja 3 pieces berwarna hijau lumut muda, dengan syal berwarna broken white. Pakaian-pakaian  yang dimiliki gadis itu terlihat sederhana tetapi elegan, orang yang mengerti kualitas akan mengerti bahwa pakaian itu adalah rancangan desainer dengan harga yang cukup fantastis.
Setelah mandi dan sarapan sederhana, Mandy bergegas menuju kantornya di Georgstrasse yang terletak di pusat kota Hanover dengan subway. Mandy merasa sangat beruntung menemukan apartement murah di distrik Mitte, karena cukup dekat dengan kantornya. Pekerjaannya sebagai akuntan di sebuah bank devisa lokal sepertinya akan banyak menyita waktu,  dan lembur adalah kata wajib dalam pekerjaannya. Hari ini adalah tepat 2 minggu  ia telah bekerja di kantor ini, suasana di kantor sepertinya cukup menyenangkan karena lebih dari separuh pegawainya berusia 20-30 tahun. Dan juga mereka bersikap ramah terhadap Mandy yang terhitung sebagai karyawan termuda.
“Halo Stephan.” Mandy menyapa seorang pemuda tampan pirang, bertubuh tinggi  atletis di lobby. Wajah Stephan mengingatkan Mandy pada personil boyband Inggris. Stephan Winkler adalah Manajer Marketing di bank itu.
“Halo Mandy. Seperti biasa, selalu terlihat cantik dan ceria.” Stephan mengerling pada Mandy.
Mandy tertawa kecil, menganggap kata-kata Stephan hanya sekedar lip service yang dilontarkan sebagai seorang teman.
Mandy berjalan menuju kubikelnya, tetapi Stephan mengekor Mandy di belakang gadis itu. Mandy bersikap pura-pura tidak tahu dengan apa yang dilakukan Stephan. Ia tahu kalau Stephan pasti merayunya mengenai apartemen yang ditempati Mandy. Beberapa hari yang lalu Stephan menanyakan di mana ia tinggal, dan ketika ia tahu kalau Mandy menyewa apartemen di distrik Mitte pemuda itu terus bertanya mengenai keadaan apartemennya.
“Sudah selesai beres-beresnya,  my dear?” Stephan bersandar di partisi kubikel Mandy.
“Lumayan. Sudah terlihat sebagai tempat tinggal” Mandy mendongak tersenyum pada Stephan sambil mulai menyiapkan bahan-bahan yang harus ia kerjakan hari ini.
“Hmm.. kalau begitu, aku bersedia diundang ke tempatmu.” Lagi-lagi Stephan mengerling pada Mandy.
Mata Mandy melebar memandang Stephan, terkejut dengan sikap terang-terangan pemuda itu.
Melihat reaksi Mandy, Stephan memasang muka kecewa dengan dramatis.
“Yah, apabila kau keberatan.. paling tidak hang-out denganku seusai jam kerja nanti. Aku tahu ada klub yang bagus di sekitar sini.”
Mandy terdiam sejenak mempertimbangkan tawaran pemuda itu. Dan akhirnya ia menyerah dengan rayuan Stephan.
“Oke..”
“Aku tunggu kau di lobby jam 7.” Stephan menyeringai lebar dan langsung kembali ke ruang kerjanya yang terletak di seberang kubikel Mandy.
Mandy menghela nafas, memutar matanya dan tertawa kecil. Sungguh, Mandy tidak percaya dengan rayuan Stephan. Seorang pemuda metrosexual seperti Stephan tertarik padanya? Di hati kecilnya Mandy yakin ada maksud lain pemuda tampan itu, dan itu bukan tentang ketertarikan lawan jenis. Mandy menyadari bahwa seharusnya ia bersikap waspada, tetapi ia merasa aman apabila berdua dengan Stephan.. sama seperti apabila ia berdua dengan Reinhart dulu. Dulu? Mandy mengerutkan keningnya, merasa aneh dengan pemikirannya sendiri.

***

Seperti yang dijanjikan Stephan, ternyata klub itu memang cukup trendi. Musik disko terbaru terdengar menggelegar dari speaker-speaker yang tidak terlihat. Klub itu berdekorasi modern-elektik, dengan lantai dansa yang cukup besar dan ceruk-ceruk di sekeliling lantai dansa yang digunakan sebagai ruang duduk yang cukup memberikan privasi bagi pengunjungnya.  Mandy terlihat menikmati suasana di klub itu, gadis itu duduk dengan tenang di salah satu ceruk sambil menyesap sparkling vodka nya. Sementara Stephan sedang asyik melantai dengan seorang gadis yang baru dikenalnya.
“Yang benar saja dear, sparkling vodka? ” Stephan menepuk bahu Mandy dan merengkuh pundak gadis itu.
“Aku bukan tipe yang tahan dengan alkohol”  Mandy meringis pada Stephan yang baru kembali dari lantai dansa.
Tiba-tiba Stephan mengambil gelas vodka yang ada di tangan Mandy, dan menarik gadis itu ke lantai dansa.
“Terlalu sayang untuk dilewatkan untuk tidak berdansa, Mandy.. “
Stephan meletakkan kedua tangannya di pundak Mandy, sambil menggoyangkan tubuhnya mengikuti lagu yang dimainkan disk jockey. Pemuda itu bermaksud menahan Mandy dengan kedua tangannya.
Mandy menatap Stephan bingung, pemuda ini begitu agresif pikir gadis mungil itu.. dan Mandy tidak merasa risih dengan perbuatan Stephan.
Tapi sudahlah, nikmati saja semua perhatian pemuda tampan ini padamu Mandy. Dan diriku juga sangat jarang dapat bersenang-senang seperti ini..  Mandy berbicara pada dirinya sendiri sambil menatap wajah tampan Stephan.

“Kau tahu Stephan… baru kali ini aku berdisko di sebuah klub malam” Mandy mengikuti gerak tubuh Stephan.
Mata Stephan membesar mendengar perkataan yang baru dikatakan gadis itu
“Mandy darling, kau berasal dari bagian bumi sebelah mana? Atau mungkin terlalu banyak larangan di keluarga mu? Umurmu sudah 21 tahun kan?
“Yang kau sebutkan sudah mendekati kebenaran” Mandy tersenyum kecil
“Betapa kolotnya..” Stephan mendecak dan memutar matanya.
Mandy tertawa kecil dan semakin merasa nyaman di pelukan Stephan. Tubuhnya bergerak mengikuti irama gerakan tubuh pemuda itu. Mereka berdansa seperti dua orang sahabat lama. Dan sekali lagi Mandy merasa takjub, betapa pemuda ini dapat membuatnya merasa nyaman. Ia rindu dengan seseorang yang membuatnya merasa tenang, nyaman, seperti apabila ia berada di dekat Ayahnya dulu. Tetapi 3 tahun belakangan ini, Mandy merasa ada yang berubah dari  Reinhart, laki-laki yang selama ini dipanggilnya Ayah itu mulai menjauhinya. Mandy merasa sedih, dan tidak mengerti apa ada yang salah dengan hubungan mereka selama ini. Dan ketika Ayahnya memutuskan untuk menetap di Amerika, hidupnya terasa hampa.. karena tidak ada lagi orang yang membuat gadis itu rindu akan rumah, dan tidak ada lagi perlindungan serta kenyamanan yang selalu disediakan Reinhart pada Mandy.
Mata Mandy berkilat sedih, dan Stephan seakan mengerti dengan perubahan suasana hati gadis itu.
“Sudahlah… ayo kita pergi makan malam, kau tidak terlihat tidak begitu bersemangat”
Stephan menggandeng Mandy keluar dari kerumunan orang-orang yang sedang asyik melantai berdansa.
Ketika mereka berdua telah berada di dekat meja bar, Stephan meninggalkan Mandy sebentar untuk pergi menyapa temannya sebentar dan tiba-tiba lengan Mandy di cekal oleh seseorang.
“Mandy, apa yang kau lakukan di sini?” Reinhart menatap Mandy tajam.
Laki-laki sedang bersandar di meja bar, masih mengenakan pakaian kerja berwarna gelap yang membungkus tubuhnya dengan elegan.
“Ayah!!” Mandy sangat terkejut dengan keberadaan Reinhart di klub malam ini, karena klub ini bukanlah tipe klub yang akan dikunjungi Reinhart karena rata-rata pengunjungnya adalah mahasiswa dan pekerja muda.
“Aku sedang bersenang-senang dengan temanku. Dan dirimu Ayah, apa yang kau lakukan di klub malam mahasiswa ini, menggoda mahasiswi lagi?” Mandy membalas pertanyaan Reinhart dengan telak.
Reinhart nyengir, mempesona Mandy dengan senyumannya yang sedikit miring.
“Hmm.. seorang kolega  mengajakku kemari. Dia bilang klub ini adalah klub yang paling hip saat ini.”
“Hei, Reinhart.. kau sudah memesan minuman?”
Seorang laki-laki muda berpenampilan menarik bermata hijau dan berambut coklat madu tiba-tiba menyapa dan memberikan segelas besar bir pada Reinhart. Laki-laki itu melihat Mandy dengan tatapan tertarik.
“Siapa ini? Tunggu, biarkan aku menebak. Ini pasti Mandy yang terkenal itu. Yang membuat Ayahnya kalang-kabut meninggalkan Amerika untuk menetap di sini kembali.”
Mandy terperangah, memandang laki-laki asing yang sedang tersenyum lebar padanya. Dengan cepat Mandy mengalihkan tatapannya ke Ayahnya dengan tatapan menuduh.
Reinhart terlihat salah tingkah, kemudian berdeham mencoba melegakan tenggorokannya yang sebetulnya tidak gatal sama sekali.
“Ehm, Mandy kenalkan ini Douglas Rutherford. Dia yang akan menjalankan perusahaan kita di Amerika. Dan Douglas, ini Amanda atau biasa dipanggil Mandy. Putriku tercinta yang baru menjalani karirnya sebagai seorang analis kredit perbankan”
Douglas tersenyum jenaka dan mengulurkan tangannya, menjabat tangan mungil Mandy dengan erat.
“Panggil saja aku Doug.. sayang sekali, mungkin di saat-saat mendatang kita akan jarang bertemu. Aku tidak menyangka ternyata Reinhart mempunyai Putri secantik dirimu”
Reinhart melirik tajam dengan cepat ke arah Doug. Berusaha tidak peduli, tetapi ia terlihat waspada dengan pernyataan Doug tadi.
“Sayang sekali juga Doug.. padahal aku ingin lebih sering berbicara denganmu.Aku ingin tahu mengenai sepak-terjang Ayah dalam menggoda perempuan-perempuan di Amerika. Kalau tidak salah Anda tinggal di New York selama ini kan?” Mandy tersenyum lebar, ia memutuskan menyukai laki-laki dengan sifat jenaka dan terus-terang itu.
Reinhart tersedak bir yang sedang diminumnya. Matanya memperingatkan Mandy..
“Oh begitukah Mandy yang diceritakan Ayahmu? Cukup menarik” Doug nyengir dan memandang Reinhart dengan penuh spekulasi.
“Hmm.. tidak ada hal yang harus kuklarifikasi. Bukan begitu Doug?” Reinhart berkata dengan suara bercanda dengan sedikit nada mengancam.
Mandy memandang Doug meminta penjelasan
“Maaf Mandy,aku tidak berani.. nasib pekerjaanku tergantung pada Ayahmu. Sangat sayang melepaskan posisi CEO yang telah lama kuincar sejak awal berkarir di perusahaannya.”
Doug menyeringai konyol pada Mandy.
Tiba-tiba obrolan mereka yang mulai memanas, terhenti karena kedatangan Stephan.Laki-laki itu sekonyong-konyongnya merengkuh dan mencium pipi Mandy.
“Sorry Dear..meninggalkanmu sedikit lama. Tapi kulihat kau sudah menemukan teman-teman baru.”
Reinhart menatap Stephan dengan penuh waspada, laki-laki itu dengan terang-terangan tidak menyembunyikan rasa tidak sukanya dengan apa yang dilakukan Stephan tadi. Kemudian Reinhart menatap Mandy meminta penjelasan segera.
Mandy terlihat bingung karena apa yang dilakukan Stephan baru-baru tadi. Otaknya belum mencerna isyarat yang ditujukan Reinhart pada dirinya.
Stephan menyadari rasa tidak suka Reinhart yang ditujukan padanya. Dan untuk menegaskan posisinya, Stephan mengenalkan dirinya langsung pada Reinhart.
“Stephan Franz Winkler. Sahabat Mandy dan sangat berpotensi untuk menjadi lebih dekat di masa mendatang.”  Stephan mengulurkan tangannya dan tersenyum lebar tanpa dosa.
Reinhart menyambut uluran tangan Stephan, laki-laki itu mengenggam tangan pemuda itu dengan kuat.
“Reinhart Heinrich Adams,Ayah dari kandidat pacarmu ini” Reinhart menggeram.
Stephan melongo, tidak menyangka apabila laki-laki yang cukup muda di depannya adalah Ayah Amanda.
Sementara Douglas nyengir, menyembunyikan dan menahan tawanya karena melihat perubahan wajah kedua laki-laki yang baru berkenalan tadi di depannya.Kemudian Douglas itu berpura-pura tidak melihat dan memandang ke arah lain.
“Oh..oh..”
Mandy mengusap keningnya dan mendesah panjang. Mimpi apa gadis itu semalam, dihadapkan pada situasi yang tidak menyenangkan seperti ini.

To be Continued to Chapter 3




22 komentar:

  1. wakakakak...si ayah mulai cemburu nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebetulnya kasian dengan posisi Reinhart..tpapa boleh buat, cerita harus seru sis mia...cm bs ngomong ke Reinhart "DL..derita lu." wkwkkw

      Hapus
    2. wkwkwkwk...yup hrs dibuat menderita dulu ngga asik kalo lurus2 aja

      Hapus
  2. ditunggu chapter 3 nya hihihih

    BalasHapus
    Balasan
    1. siaaapppp... tp nunggu amunisi dr jeng dian ah.. aka dibwtin risol isi daging asap-telor XD

      Hapus
  3. tante din gk ngasih tau aku udah ada chap2 nya,tapi kereeenn ,kayaknya mandy bakal jd rebutan nih hihi

    BalasHapus
  4. oww reinhart...jd jatuh cintrong dahhh *demen om2 mapan wkwk*... jd inget sm ken migami... luv u reinharttttt

    BalasHapus
    Balasan
    1. keknya qta kena daddy log-legs syndrom zeth.. btt, siapa tu ken migami? *lupa*

      Hapus
  5. arghhhh....makin seru aja nih...adegan memanas gara-gara kehadiran Stephan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Stephan mah mank kerjanya doyan manas2in orng sweet :D

      Hapus
  6. Awwww... makin seru nih bu deen... bagus bagusssss.. ditunggu banget ya lanjutannya.. jgn lupa mencolek lagi diriku :D

    BalasHapus
  7. ayo taan lanjutkan,mana chapter3nya hahahaha *dicubit

    BalasHapus
    Balasan
    1. ntar duluuu... ini lg training plus ga ada pembokat. jd super sibuukkk hikhikhik..

      Hapus
  8. Douglas ini tau ya kalo Mandy bukan anak kandungnya Reinheart?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tau Di... so Doug ini salah satu temen akrabnya Reinhart

      Hapus
  9. ting tong !!! pertarungan dimulaiiii

    lanjuuuttttttt

    BalasHapus
  10. iiih...momdini... aku tau-tau ngeliat chap 3, ngga tau kalo chap 2 udah ada dari kapan entah.

    ntar ya, lanjut dulu ke chap. 3

    BalasHapus
  11. aih Stephan bangunin singa tidur... Apa yg bikin Nenek Marge ga suka mandy ya ? btw ibu mandy indonesia ? Adinda nama yg indah

    BalasHapus
  12. hahahahahahahahaha,,,, pede bgd sthepan tu... hahahahahahha

    BalasHapus
  13. Jadi kepo siapa gerangan ayahnya Mandy dan apa ♈ªʼnĝ bikin nenek Marge gak suka?

    BalasHapus