Jumat, 07 Desember 2012

SECRETS CHAPTER 4


 Setelah kejadian malam itu, Reinhart dan Mandy tidak berbicara. Mereka berusaha untuk menghindari satu sama lain. Tak pernah dalam hidup Reinhart  dirinya merasa sehina, serendah, dan sepengecut ini. Dia yang menyebabkan semua ini, tetapi mengapa dia yang bersikap menghindar dari Mandy? Apabila Mandy menghindar, itu adalah reaksi yang sewajarnya dari seorang gadis yang shock dengan apa yang terjadi. Sudah kurang-lebih 2 minggu Reinhart tidak mengetahui kabar Mandy, dan itu membuatnya hampir gila. Reinhart ingin bertemu Mandy, ataupun hanya mendengarkan suara gadis itu dapat meredakan kegalauan hatinya. Tetapi Reinhart tidak mempunyai keberanian untuk menemui atau menelpon Mandy, laki-laki itu tidak tahu bagaimana berbicara atau bersikap pada gadis itu. Dan ia menyadari tindakannya sekarang jauh dari kata-kata dewasa, Reinhart merasa seperti remaja ingusan sekarang.

Reinhart terlihat sangat gelisah, laki-laki itu tidak dapat berkonsentrasi dengan apapun yang ia kerjakan saat ini. Ia terlihat mondar-mandir di ruang kerjanya tanpa mengerjakan sesuatu beberapa hari ini. Douglas, sang CEO yang seharusnya dari satu minggu yang lalu sudah bertugas di Amerika, tetapi  hingga saat ini ia masih bercokol di kantor pusat Adams Corporation di Hannover. Dan sekarang, sang CEO menaikkan alisnya dengan bingung melihat atasannya yang bertingkah  aneh di matanya saat ini.

“Reinhart, apa kau sudah melihat dokumen pengambilalihan perusahaan industri galangan kapal itu? Aku harap kau sudah membacanya untuk dapat direvisi atau langsung disetujui karena sudah cukup lama  ditunda.
Reinhart yang sedang membelakangi Douglas hanya diam, laki-laki itu berdiri di depan jendela raksasa  menatap pemandangan malam kota Hannover dari ruang kerjanya yang terletak di lantai 21.

“Maaf Doug, aku sama sekali belum melihat dokumen kesepakatan itu. “

“Sudah memasuki minggu ke dua dari ketika aku menyerahkan dokumennya padamu. Yang benar saja Reinhart, apa sih yang kau pikirkan? Kau terlihat aneh akhir-akhir ini.”

“Doug, kau adalah CEO ku. Aku menahanmu disini untuk membantu pekerjaan yang tidak dapat kutangani. Jadi, pekerjaan yang masih terbengkalai aku harap dapat kau selesaikan.”

“Pengambilalihan ini bernilai jutaan Euro Reinhart.. dan  kau mempercayakan begitu saja kepadaku tanpa ada sedikit pertimbangan darimu?”

Reinhart akhirnya berbalik menghadap Douglas, dan laki-laki itu terlihat begitu lelah. Bagian bawah mata reinhart terlihat menghitam, kerut-kerut di sekitar mata dan bibirnya terlihat lebih jelas. Dan Douglas cukup terkejut melihat perubahan fisik Reinhart dalam waktu beberapa hari saja.

“Aku percaya penilaian dan tindakan yang kau ambil Doug… Semua aku percayakan padamu Sobat.” Reinhart tersenyum,lelaki itu mendatangi Douglas dan menepuk pundaknya.

“Aku pulang duluan, ada sesuatu yang harus aku selesaikan.” Reinhart mengambil jas miliknya yang tersampir di kursi kerja kemudian melangkah pergi dari ruangan itu.

Douglas memandang meja kerja Reinhart, memutar matanya dan menghembuskan nafas frustasi  ketika melihat tumpukan menggunung dokumen berantakan yang ditinggalkan untuknya.

***

Reinhart memarkirkan mobilnya di depan apartemen Mandy, 15 menit telah berlalu dan laki-laki itu masih duduk di belakang kemudi mobilnya. Menimbang apa yang akan ia katakan dan lakukan apabila bertemu Mandy. Reinhart meneguhkan hatinya, dia harus menemui gadis itu untuk menjelaskan dan menyelesaikan apa yang terjadi di antara mereka, walaupun mungkin akan menyakitkan bagi mereka berdua.

***

Mandy mengetahui kedatangan Ayahnya ke apartemen, tadi secara tidak sengaja Mandy sedang menikmati pemandangan gedung di sekitar apartemennya di malam hari sambil memikirkan kejadian yang terjadi antara ia dan Ayahnya 2 minggu yang lalu.  Dan dia melihat mobil Reinhart memasuki area parkir apartemennya.
“Oh, sial..” Mandy sedikit panik, tidak siap dengan kedatangan Reinhart.

Dengan segera gadis itu menghubungi Stephan melalui ponselnya, meminta bantuan dan saran pemuda itu.
“Tenang, dear… ikuti saran dan petunjukku. Aku akan datang sebentar lagi.” Stephan berusaha menenangkan Mandy.

Setelah hubungan telpon terputus, Stephan tersenyum.. Dia tidak menyangka hubungan dia dan Mandy berkembang begitu cepat dalam 2 minggu ini. Setelah peristiwa yang terjadi pada suatu malam 2 minggu yang lalu, gadis itu meminta Stephan datang ke rumahnya dan ia menceritakan segalanya dan meminta ia berpura-pura menjadi kekasihnya untuk sementara. Stephan tidak terlalu terkejut dengan apa yang terjadi, karena ia telah memprediksikan semuanya.

 Awalnya, dengan jujur Stephan mengakui dia tertarik pada Mandy karena paduan keunikan yang ada pada diri gadis itu terutama baju-baju desainernya. Wajah asia yg cantik dan bertubuh mungil tetapi mempunyai warna kulit sewarna peach dan mata yg hijau mempesona. Penampilan yang sederhana tetapi apabila diperhatikan semua yg dikenakan gadis itu adalah hasil rancangan desainer. Pribadi yang ramah tetapi sinar mata yang terlihat sedih. Paduan yang unik, yang membuat Stephan penasaran.. Dan rasa penasaran itu sudah terjawab setelah kejadian itu, sekarang Stephan makin jatuh sayang pada gadis itu karena pribadinya yang baik dan rendah hati dan juga sedikit rasa iba karena kisah hidupnya. Dan niat pemuda itu membantu Mandy sekarang murni karena persahabatan mereka dan sedikit niat untuk menjahili Reinhart Heinrich Adams, sang Ayah, Komisaris Utama Adams Corporation.

Bibir Stephan masih menyunggingkan senyum sayang ketika mengingat Mandy. Sambil bersiul riang, pemuda pirang itu bersiap-siap ke apartemen sang gadis untuk memulai suatu sandiwara kecil.

***

15 menit kemudian bel pintu apartemennya berdering, Mandy yang sedang melaksanakan instruksi Stephan yaitu menyiapkan masakan untuk mereka berdua, tetap saja merasa gentar karena ia tahu persis siapa yang datang. 

“Tenang Mandy… tenang..” Mandy memotivasi dirinya sendiri untuk bersikap masuk akal di depan Reinhart nanti. Gadis itu berjalan menuju pintu depan.

“Siapa?” Mandy berpura-pura tidak tahu akan kedatangan Ayahnya.

“Ayahmu.”

Sebelum membuka pintu, Mandy menghembuskan nafas dalam-dalam dan memasang senyum termanisnya.
“Halo Ayah..” Mandy membuka pintu dan membuat jantung Reinhart jatuh ke kaki dengan senyum manis dan sapaan lembutnya.

Dalam beberapa detik, pikiran Reinhart kosong karena senyuman itu. Laki-laki terperangah.. ia bingung dengan sikap Mandy yang ia lihat sekarang. Seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka beberapa minggu kemarin.

“Ah… Halo Mandy.” Sapa Reinhart lembut, matanya menatap Mandy dengan penuh cinta dan sayang. Laki-laki itu memutuskan ia harus jujur dengan perasaannya terhadap Mandy dan akan mengakui perasaan yang ia rahasiakan selama ini pada gadis itu.

Mandy  terlihat begitu manis, dengan tatanan rambut yang dicepol asal-asalan dan celemek berenda hijau tetapi penuh dengan noda. Mandy mengusap-usap kedua tangannya ke celemeknya sambil tersenyum lebar, membuat Reinhart ingin memeluk gadis itu erat0erat saat itu juga.

 
Mandy berjalan ke dapurnya yang menyatu dengan ruang duduk dan ruang makan. Apartemen itu dipenuhi dengan aroma masakan yang sedang dimasak gadis itu.

“Wah harum sekali Mandy.. apa yang kau masak sekarang?”

Reinhart mengekor Mandy, dan memandang gadis mungil itu sedang mengaduk-ngaduk wajan.

“Aku sedang membuat nasi goreng. Masakan khas Indonesia yang aku pelajari dari temanku yang asli orang Indonesia juga. Paling tidak aku bisa memasak salah satu masakan yang pernah Ibu sukai.”

Mandy menjawab tanpa memandang Reinhart, ia sengaja menyibukkan diri dengan masakan. Gadis itu sedang menenangkan debar jantungnya yang berdetak kencang.

“Sepertinya kau masih sibuk dan belum selesai dengan dapur ini. Ada yang bisa kubantu Mandy?”
“Oh iya. Garnish untuk nasi gorengnya belum disiapkan Ayah. Kau bisa mengiris tomat, mentimun dan merapikan selada?”

“Mandy, kau terlalu meremehkan kemampuan memasakku.Harga diriku terluka sebagai mantan mahasiswa.” Reinhart terkekeh. Mandy hanya tertawa kecil mendengar canda reinhart. Laki-laki itu kemudian mengambil tomat, mentimun dan selada yang ada di meja dapur. Mencuci sayuran itu di wastafel dan mengambil tempat tidak jauh dari Mandy untuk memotong sayuran. 

Kemudian mereka bekerja tanpa berbicara, sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing. Mandy dengan tidak sabar menunggu kedatangan Stephan sedangkan Reinhart mengatur strategi untuk berbicara dengan Mandy setelah semua masakan siap diolah. Berniat untuk mengakui semuanya. 

“Omong-omong Mandy, tumben kau memasak malam-malam. Bukankan kau menghindari makan malam setelah pukul 7?” Reinhart memecahkan kesunyian antara mereka berdua. Mandy menoleh dan tersenyum, memperhatikan kecekatan Ayahnya dalam  memotong sayuran, Reinhart terlihat lumayan untuk seorang laki-laki yang jarang turun ke dapur.

“Stephan berencana datang malam ini Ayah, mungkin ia akan menginap di sini.” Mandymenjawab pelan,  mengatakan kata-kata persis sama yang diinstruksikan Stephan tadi padanya.

Reinhart terdiam, laki-laki itu mencerna kembali apa yang dikatakan oleh Mandy. Mandy diam, gadis itu menunggu reaksi Reinhart dengan membisu.

Aura ketegangan begitu nyata di antara mereka. Begitu kental hingga menyesakkan nafas mereka masing-masing. 

“Jadi, kau sudah resmi menjalin hubungan dengan Stephan. Sejak kapan Sweetheart?” Reinhart berhasil menemukan kata-katanya, jari-jari pria itu sedikit gemetar memegang pisau.

“Satu minggu yang lalu. Aku menyadari ia mungkin pria yang paling mendekati sempurna yang menyukaiku. Aku cukup menyukainya Ayah, dan sedang belajar untuk mencintainya.”

Reinhart mengetatkan rahangnya mendengar kata-kata Mandy, konsentrasinya kembali berantakan dan ia dengan tidak sengaja melukai jarinya sendiri.

“Aduh..”  Reinhart meringis, pisau yang tajam itu mengiris sedikit ujung jari telunjuk kanan Reinhart.

“Ayah.. kenapa?” Mandy terburu-buru menghentikan kegiatan memasaknya, menghampiri Ayahnya dan melihat darah mengalir cukup banyak di jemari Ayahnya.  Dengan cepat gadis itu mengambil serbet yang bersih, membersihkan darah Reinhart dan menghisap jari laki-laki itu untuk menghentikan pendarahan. 

Reinhart hanya tertegun, memandangi Mandy dan perutnya bergelenyar merasakan bibir dan lidah gadis iu di jemarinya. Laki-laki itu membayangkan bibir dan lidah Mandy berada di bagian lain tubuhnya, dadanya berdetak kencang dan rasa panas mulai menyebar ke perutnya dan turus turun ke bawah..

“Sudahlah Mandy, hanya luka kecil kok.” Reinhart tersadar dari khayalan tidak pantasnya, ia menarik lembut  tangannya dari bibir Mandy. Mandy mengangkat wajahnya dan mengerjap pada Reinhart.
“Bukankah Ayah melakukan hal itu ketika aku dulu terluka?” 

Reinhart tersenyum lembut  dan tidak menjawab gadis itu “Itu dulu Mandy, ketika kau masih kecil. Dan saat sekarang saatnya sanglah berbeda.”

Dan bau hangus memenuhi ruangan itu, Mandy baru sadar kalau ia tadi meninggalkan masakannya tanpa mengecilkan api kompor terlebih dahulu.

“Aduh.. omelette ku..” Mandy memekik kecil, gadis itu segera menyelamatkan masakannya dari kerusakan yang lebh parah, tetapi dengan ceroboh ia memegang wajan tanpa mengenakan cempal atau sarung tangan.

“Awww..” Mandy menjerit, merasakan panas yang membakar tangannya, dan wajan yang ia pegang seketika terlepas. 

“Mandy!”  Reinhart berseru, dengan sigap Reinhart membawa Mandy ke wastafel, mengguyur kedua tangannya yang melepuh  dengan air dingin.

“Gadis kecilku yang ceroboh.” Reinhart mendengus pelan menahan tawa. Tangannya masih memegang lembut tangan Mandy di bawah guyuran air keran.

“Ayah, gara-gara siapa coba?” Mandy meringis tetapi berusaha mengomeli  Reinhart.

Reinhart kembali terkekeh.

“Dimana kotak P3K? kau menyimpan bioplacenton?” Reinhart membimbing Mandy menuju ruang duduk dan mengaduk isi kotak P3K milik Mandy yang terletak di dinding antara ruang duduk dan dapur.

Setelah menemukan apa yang ia cari, Reinhart duduk di samping Mandy. 

“Ulurkan tanganmu.” Perintah Reinhart lembut. Mandy mengulurkan salah satu tangannya, dan dengan hati-hati Reinhart mengoleskan salep itu pada kulit Mandy yang sedikit melepuh. Mandy memandang Ayahnya dengan penuh rasa sayang, ia mengingat-ngingat kapan terakhir kali Reinhart memperlakukan ia dengan lembut karena terluka. 

“Mandy… jadi kau menetapkan pilihanmu pada Stephan?” Reinhart membuka pembicaraan kembali, tetapi laki-laki itu sama sekali tidak menatap wajah Mandy. Matanya hanya terkonsentrasi pada luka bakar di tangan gadis itu.

“Iya Ayah..” Mandy menjawab pelan, sedikit merasa bersalah dengan kebohongannya. Reinhart memperlakukan dirinya dengan sangat lembut, tangan kokoh laki-laki itu membelai lembut jari-jarinya yang mungil. Mengirimkan getar-getar kenikmatan ke tengkuk Mandy. Wajah Mandy memerah, malu dengan hasratnya yang tak diduganya. Tetapi, Reinhart tidak menyadari perubahan air muka Mandy, ia sibuk berkonsentrasi menahan emosinya yang hancur berantakan karena pengakuan Mandy dan memilih kata-kata yang pantas untuk diucapkan seorang Ayah pada anak gadisnya yang memulai suatu hubungan dewasa.

“Begini Mandy, kau sudah mengenal Stephan sekitar 1 bulan, tapi kau baru menjalin hubungan dengan dia baru 1 minggu. Apakah kau yakin dengan apa yang akan kau lakukan malam ini Sweetheart? Aku berasumsi kau baru pertama kali melakukannya.Tolong tangan satunya.”  Kata-kata Reinhart mengalun lembut di telinga Mandy, tidak sedikitpun laki-laki itu menatapnya.  Mandy mengulurkan tangannya 

Mandy tidak mengucapkan satu patah katapun, dia hanya memandang Reinhart  kemudian memandang tangannya yang tengah dirawat oleh Reinhart, laki-laki itu memperlakukan jari-jemarinya seperti sebuah berlian. 

“Mandy, kalau memang kau sudah yakin dengan apa yang akan kau lakukan, pastikan kau mempraktekkan sex safe, OK?” Reinhart mengangkat wajahnya menatap langsung Mandy tepat ke mata gadis itu. Bibir Reinhart tersenyum tetapi mata lelaki itu tidak, Mandy dapat membaca wajah ayahnya yang menyembunyikan sesuatu darinya. 

Mandy mengangguk pelan, kemudian menundukkan kepalanya kembali.

Suasana kembali hening, dan mereka berdua memusatkan perhatian pada pengobatan tangan sang gadis kembali. 

“OK.. sudah selesai.”  Reinhart telah mengoleskan salep ke semua bagian jemari Mandy yang terkena luka bakar. Laki-laki itu bermaksud melepaskan tangan Mandy, tetapi tangan gadis itu memegang jemarinya dengan kuat. Mata Reinhart memandang Mandy dengan tatapan bertanya.

“Ayah.. ada yang ingin kutanyakan..” Suara gadis itu pelan, terdengar ragu dengan apa yang akan diucapkannya.

Reinhart menaikkan alisnya, memberi tanda pada Mandy untuk  meneruskan kata-katanya.

“Apa arti ciuman waktu itu dan mengapa kau melakukannya padaku?” Sejujurnya Mandy sangat ingin menghindari pembicaraan mengenai kejadian itu, tetapi entah mengapa lidahnya dan hatinya tidak bisa diajak berkompromi dengan otaknya.

Reinhart terhenyak, tidak menyangka gadis itu berani menanyakan hal ini kepadanya. Padahal reinhart telah memutuskan untuk melupakan perasaannya pada Mandy setelah ia tahu Stephan telah berhasil memiliki hati gadis itu.

“Kau ingin jawaban yang seperti apa Mandy? Ada 2 versi, versi jujur atau penuh dengan kebohongan?” Reinhart tersenyum lembut.

“Dua-duanya.”  Mandy menatap Reinhart dengan berani.

Reinhart kembali tersenyum.. Kadang gadis ini memang tidak bisa ditebak pikir Reinhart geli.

“Mari kita mulai dengan versi pertama. Kalau aku mengatakan padamu itu hanya kekhilafan semata, hanya gairah sesaat karena aku sedang membayangkan salah satu kekasihku yang jauh di Amerika.. Bagaimana? Apa kau percaya Mandy?”

“Yang bernama Gloria Entah-Siapa itu?” Mandy tersenyum mendengar kata-kata Reinhart. tetapi hati Mandy berdebar kencang menunggu apa yang akan keluar dari bibir Reinhart selanjutnya.

“ Ternyata kau masih mengingat nama perempuan itu..” Reinhart tertawa. 

“Dan sekarang versi kedua. Bagaimana kalau aku mengatakan padamu kalau aku mncintaimu Mandy? Bukan cinta antara orangtua dan anaknya, tetapi bentuk cinta yang lain. Cinta yang penuh hasrat, cinta antara seorang laki-laki terhadap seorang wanita, yang telah lama kurahasiakan padamu. “ Reinhart menatap Mandy tajam, jemari lelaki itu membelai tangan Mandy lembut. 

Mandy terperangah, sungguh diluar dugaannya Reinhart akan berkata seperti ini.

“Yang mana yang akan kau percaya Mandy? Itu terserah padamu.” Reinhart melepaskan tangan Mandy, berdiri menuju kotak P3K untuk mengembalikan salep dan tersenyum simpul pada gadis itu. Reinhart sudah lelah dengan apa yang ia tutupi selama ini, dan ia sudah tidak peduli dengan apa yang akan terjadi dengan pengakuan ini. Mandy sendiri yang telah mendorong dirinya untuk membuka semua rahasia yang disimpannya.

Kemudian Mandy berdiri dari sofa, berjalan menuju Reinhart. Mata gadis itu menatap Reinhart dengan berani.

“Versi pertama adalah yang ingin aku dengar tapi aku tidak percaya. Versi kedua adalah versi yang ingin kupercaya tapi yang ingin aku dengar. Tapi ini menyalahi semua aturan yang ada, kau ayahku, dan aku putrimu. Kita sama-sama menyandang nama Adams. Walau aku bukan putri kandungmu, semua akan menentang kita Ayah.” 

“Aku tidak peduli dengan orang-orang Mandy, di sini hanya ada kata ‘Kau dan Aku’. Bagaimana perasaanmu padaku, itu saja yang penting.”

“Aku masih tidak mengerti dengan yang aku rasakan sekarang Ayah.” Mandy menggeleng bingung.
“Tapi paling tidak sekarang sudah jelas, kau melihatku sekarang sebagai seorang laki-laki, bukan sebagai seorang Ayah lagi sepenuhnya. Dan persetan dengan semuanya Mandy..” 

Reinhart menggeram, meraih pundak Mandy. Kemudian Laki-laki itu merengkuh wajah Mandy dengan kedua tangannya. Bibir Reinhart memagut bibir Mandy dengan kasar, memaksa gadis itu untuk membuka dan menerima ciumannya. Mandy terkesiap, pada awalnya ia ingin berontak dari paksaan itu, tetapi ada sesuatu pada ciuman Reinhart yang membuat ia tetap diam. 

Reinhart mencium Mandy dengan rasa putus asa. Dan rasa itu yang dirasakan Mandy sekarang. Ciuman yang kasar itu perlahan melembut, lidah Reinhart membujuk bibir Mandy untuk membuka terhadap sentuhannya. Perlahan bibir gadis itu membuka dan lidah Reinhart menyerbu masuk, menggoda geligi Mandy, dan menyesap lidah gadis itu dengan lembut.  Mandy mabuk akan ciuman Reinhart, akal sehat gadis itu hilang karena kenikmatan yang ditimbulkan dari apa yang mereka lakukan sekarang. Sementara tangan Reinhart mengelus punggung  Mandy, menimbulkan gelenyar sensasi yang asing bagi gadis itu.

Reinhart  menghentikan ciuman itu, laki-laki itu tahu kalau apabila ia tidak berhenti sekarang juga ia akan kehilangan kendali dirinya, dan perlahan ia melepaskan dirinya sendiri dari ciuman panas itu.
“Mandy, aku mencintaimu..” Reinhart berbisik terengah di telinga Mandy, laki-laki itu masih memeluk Mandy dengan erat. Sementara Mandy menyandarkan dirinya sepenuhnya pada pelukan Reinhart, gadis itu tak sanggup berdiri dengan kedua kakinya.

Dan pintu bel apartemen Mandy berdering.

“Stephan..” Bisik Mandy pelan.

Reinhart terhenyak, begitu menyakitkan ternyata ketika apabila sedang menyatakan perasaan dan memeluk gadis yang ia cintai, tetapi dari bibir gadis itu nama pria lain yang terucap. 

Mandy melepaskan dirinya dari pelukan Reinhart , dengan langkah goyah ia berjalan menuju pintu depan.  Sebelum gadis itu sampai ke tujuannya, Reinhart menyentuh lengan Mandy dengan lembut.

“Kalau kau memilih dia, tidak apa-apa Mandy.  Tetapi pertimbangkanlah semua apa yang sudah kukatakan padamu.” Bisik Reinhart pelan. Hati laki-laki itu begitu pedih, karena dia tahu apa yang akan terjadi di malam itu antara Stephan dan Mandy.

Mandy hanya diam, kemudian menepiskan tangan Reinhart dan melangkah menuju pintu. Dan Reinhart tahu, bukan dia yang ada di hati gadis itu.

-    To be Continue  -

Rabu, 21 November 2012

SECRETS CHAPTER 3



Stephan bertopang dagu, tangannya ia sandarkan di sisi pinggir pintu mobil. Mandy melirik dengan tatapan geli melihat pemuda itu, terlihat Stephan sedang bepikir keras walau ia berpura-pura sedang menikmati pemandangan kota  dari balik jendela taxi. Mereka berdua sedang berada di bagian belakang taxi yang menuju ke apartement Mandy.

“Jadi, laki-laki itu benar-benar ayah angkatmu sedari anak-anak Mandy?”  Stephan melihat gadis itu dengan ujung matanya.

“Yup, bahkan dari aku baru dilahirkan.”

“Aku perkirakan ia masih berumur dibawah 40 tahun. Aku pikir tak mungkin ia mengadopsi dirimu dari umur 19 tahun. Undang-undang tidak memperbolehkan hal itu.”

“Hmmm.. sebetulnya dari bayi ayah angkatku adalah Kakek Frank. Ketika Kakek meninggal, Ayah berumur 27 tahun dan mengambil alih hak perwalian atas diriku. Tetapi bagaimanapun, dia lebih pantas disebut sebagai Ayah daripada Kakek Frank.. karena dia mencurahkan perhatian kepadaku sepenuhnya.”

Stephan menyimak kata-kata yang terlontar dari bibir mungil Mandy, rasa sayang jelas terlihat dari nada suara Mandy ketika ia berbicara tentang Ayahnya dan beberapa saat terdiam.

“Ayahmu sepertinya tidak terlihat asing. Sepertinya aku sering melihat dia… hmm….” Stephan mencoba mengingat wajah laki-laki yang sepertinya tidak asing baginya itu.

Ada jeda kembali di percakapan itu. Mandy hanya tersenyum kecil melihat raut wajah Stephan yang berubah-ubah.

“Sebentar, nama keluarga kalian Adams bukan? Apa mungkin dia Reinhart Adams, pemilik tunggal Adams Corporation?” Stephan tersentak dan menoleh pada Mandy dengan dramatis.

Mandy tertawa kecil melihat reaksi berlebihan Stephan dan mengangguk.

“ Oh astaga, padahal aku mengagumi sosoknya dari majalah-majalah bisnis dan investasi yang rutin aku baca. Hmm, ternyata antara kenyataan dan sosok di media begitu berbeda.” Stephan kembali mengerling pada Mandy.

Mandy tersenyum mendengar kata-kata Stephan “Sebetulnya tidak juga Stephan.. Aku mengerti apa yang kau bicarakan. Ayah adalah seorang yang tenang dan penuh perhitungan,tapi entah kenapa dia tadi sedikit tak bisa mengendalikan dirinya”

“Oh begitukah?”Stephan nyengir  dan sedikit ide nakal bermain di benaknya.

Mandy memperhatikan begitu mempesonanya pemuda ini,  sayang ia terlihat begitu pesolek. Kalau tidak, mungkin Mandy sudah jatuh hati pada Stephan.

Tidak terasa, taxi telah membawa mereka ke depan gedung apartemen Mandy. Dengan sigap, Stephan membayar sang supir dengan tip yang lumayan banyak dan membuka pintu taxi untuk Mandy.

“Stephan, kau tidak perlu mengantarku hingga ke pintu apartemenku. Seharusnya kau cukup menurunkan diriku disini dan melanjutkan perjalanan dengan taxi menuju kantor untuk mengambil mobilmu.”Mandy merasa jengah dengan perlakuan Stephan.

“Oh, jangan sungkan begitu Dear.. memang begini caraku memperlakukan wanita. Apalagi wanita istimewa seperti dirimu.” Stephan membimbing Mandy memasuki gedung apartemennya. Mandy menyapa petugas keamanan yang sedang bertugas malam itu.

Begitu mereka sampai di depan pintu apartemen, Mandy mengeluarkan kunci apartemen dari tas tangannya dan membuka pintu.

“Terima kasih untuk malam yang menyenangkan Stephan” Mandy mendongak dan tersenyum tulus pada Stephan, pemuda yang malam ini ia nobatkan sebagai  sahabat pertamanya di kantor .

“Aku menanti  kesempatan berikutnya untuk lebih dekat denganmu” Stephan tersenyum dan mengerling pada Mandy.  Pemuda itu kemudian mengecup pipi Mandy sebagai tanda perpisahan dan memeluk tubuh mungil Mandy erat

Ketika sedang memeluk Mandy, tanpa sengaja Stephan melihat sosok yang keluar dari lift yang dikenalinya sebagai Reinhart sedang berjalan menuju ke arah mereka. Tiba-tiba pemuda itu menunduk kembali dan secepat kilat mengecup pipi dekat bagian samping bibir gadis itu.

“Tahan sebentar Mandy… ada sesuatu yang perlu kupastikan.” bisik Stephan lembut

“Apa maksudmu..” Mandy berbisik bingung, tetapi kata-katanya diputuskan oleh jemari Stephan yang 
menyentuh lembut bibirnya, memberi tanda untuk diam.

Dalam beberapa detik keheningan yang canggung dan membingungkan Mandy, suara yang ia kenal sebagai suara Ayahnya memecahkan suasana yang ganjil itu.

“Maaf..”  Reinhart berdeham mencoba memisahkan kedua orang yang sedang dimabuk cinta di dalam pandangannya saat ini.

Dengan cepat, Mandy melepaskan pelukan dan ciuman palsu Stephan dan berbalik untuk menyapa Ayahnya.

“Ayah.. ada apa? Ada sesuatu yang terlupa?” Mandy tersenyum gugup, hatinya berdebar kencang karena takut melihat reaksi Reinhart.

Tetapi Reinhart hanya tersenyum lembut kepada Mandy “Tidak, hanya ingin memberitahumu kalau besok kita sekeluarga akan makan siang di rumah.”

Reinhart melirik tajam kepada Stephan, memperingatkan pemuda itu kalau dia tidak menyukai apa yang ia lakukan tadi terhadap Mandy.

“Aku akan datang Ayah. Omong-omong, kalau sekedar mengatakan hal itu Ayah bisa menelpon atau mengirim pesan singkat bukan?”

Reinhart tertawa kecil “Oh, seharusnya iya. Tapi aku masih sangat merindukan untuk bertemu denganmu gadis kecilku”

Reinhart memeluk dan mencium puncak kepala Mandy, sementara matanya menatap Stephan dengan marah.
Stephan yang mulai mengerti apa yang telah terjadi hanya membalas tatapan Reinhart dengan santai.

“Sampai besok, sweetheart. Kau bisa mengajak pemuda ini sebagai partner, apabila tentunya ia berkenan.” Reinhart melepaskan pelukannya  dan mengibarkan bendera tantangan kepada Stephan.

“Terima kasih Sir untuk undangannya. Saya akan pastikan besok akan datang bersama Mandy.” Stephan tersenyum, menyambut tantangan Reinhart.

Reinhart menatap Stephan tajam, menilai semua aspek yang ada pada pemuda itu apakah pantas bersanding dengan Mandy.

“OK,  aku menantikan kehadiran kalian berdua pukul 11 siang. Ini acara keluarga, bukan acara resmi. Selamat malam.”  Reinhart berbalik dan pergi dengan  langkah cepat menuju lift.

Mandy dan Stephan memandang kepergian Reinhart dalam diam. Setelah sosok Reinhart menghilang, Mandy mendelik marah pada Stephan.

“Apa-apaan tadi ? Jelaskan maksudmu apa, kau sengaja melakukan hal itu karena kau tahu ada Ayahku kan?”

“Hei.. be calm dear. Aku mengakui aku punya maksud terselubung dari apa yang kulakukan tadi. Tapi maaf, aku tidak bisa memberitahukan padamu sekarang. Tunggu saja, suatu saat kau akan tahu alasannya  dan akan berterimakasih padaku.” Stephan tertawa, pemuda itu menghadapi kemarahan Mandy dengan canda konyolnya.

“Aku tidak ingin Ayah berpikir macam-macam dengan hubungan kita, gara-gara perbuatanmu Ayah pasti mengira kita adalah sepasang kekasih.” Mandy bersedekap dan mencebikkan bibirnya tanda tidak setuju dengan apa yang dilakukan Stephan tadi.

“Kalau dia menganggap kita sebagai sepasang kekasih, apa salahnya Mandy?”

Mandy terdiam, memikirkan apa yang dikatakan Stephan. Kenapa ia begitu takut Ayahnya salah kaprah dengan apa yang terjadi. Merupakan suatu hal yang sangat wajar apabila gadis dewasa mempunyai seorang teman dekat.

“Baiklah, aku tidak mengerti apa maksudmu dibalik semua ini. Tapi aku minta kesalahpahaman ini tidak terjadi lagi.”

Stephan hanya tersenyum lebar mendengar peringatan yang baru dilontarkan oleh Mandy, pemuda itu tidak mengiyakan atau membantah peringatan yang diberikan Mandy. Dengan cepat ia mencium kembali pipi gadis itu dan mengucapkan salam perpisahan.

***

Di dalam mobilnya, Reinhart menyumpahi kecerobohannya dalam bersikap di klub dan tindakannya membuntuti sepasang anak muda itu hingga ke apartemen. Dan hasilnya, ia melihat pameran kemesraan yang begitu memuakkan di matanya

“Huh.. kenapa juga aku masih terpaku disini mengamati apartemen seperti orang bodoh. Sebenarnya apa yang kuharapkan dari kelakuan tololku ini?” Reinhart bersungut-sungut kesal dari balik setir mobilnya.

Kemudian ia melihat Stephan keluar dari gedung apartemen dan menghentikan sebuah taksi. Reinhart mengamati gerak-gerik pemuda itu dan mengakui bahwa pemuda itu sangat menawan dan dengan berat hati mengakui Mandy mempunyai selera yang cukup tinggi. Langkahnya yang anggun, senyuman yang memikat hati, tubuh tinggi yang hanya terpaut paling tidak hanya 2 cm kurang dari tubuhnya sendiri, karir yang bagus di dunia perbankan..  Reinhart telah mengantongi data lengkap pemuda itu. Begitu mengetahui nama lengkap Stephan, Reinhart langsung mencari info mengenainya, dan semua itu dia dapatkan dalam waktu kurang dari 15 menit dari sekretaris pribadi Reinhart.  Reinhart memandangi sosok dirinya dari bayang-bayang kaca mobilnya, dan mengakui dia terlihat semakin tua apabila berhadapan dengan pemuda itu.

***

“Astaga… ternyata kau kaya sekali ya Mandy.”  Stephan bersiul melihat betapa luasnya halaman rumah keluarga Adams. Pemuda itu menyetir mobilnya dan mengira-ngira berapa jauh lagi mereka akan sampai di depan kastil yang baru terlihat atapnya saja.

“Kenapa sih kau mau repot-repot bersusah-payah menjadi karyawan rendahan sebuah bank lokal? Bukankah kau bisa meminta pada Ayahmu suatu jabatan strategis di salah satu perusahaan miliknya?”

“Hei.. aku hanya anak angkat di keluarga itu Stephan sayang. Dan pantang bagiku mengemis pekerjaan pada Ayahku.”  

“Sayang sekali Mandy.. kalau aku jadi dirimu, akan kumanfaatkan sebaik mungkin kesempatan yang ada.” Stephan nyengir dan kata-katanya terlihat nyata bermakna ganda untuk menyindir Mandy.

Sayangnya yang disindir tidak menyadarinya  dan Mandy hanya tertawa geli melihat tampang dramatis Stephan yang sibuk ber oohh-ahhh mengagumi setiap pemandangan yang mereka berdua lewati, dari hutan kecil, sungai-sungai buatan dan akhirnya sebuah taman labyrinth raksasa dan taman bunga yang sangat indah yang menjadi akhir perjalanan mereka menuju rumah keluarga Adams.

Terlihat di pekarangan itu, para pelayan mondar-mandir menyiapkan segala sesuatu untuk keperluan pesta kebun kecil. Sebuah meja makan berukiran indahyang cukup besar dan beberapa kursi telah diletakkan di dekat taman bunga. Tenda berhiaskan tirai putih yang manis juga telah didirikan untuk berteduh apabila matahari semakin terik. Sebuah orchestra kecil juga telah disiapkan untuk menghibur tamu-tamu yang ada.

“Oh la-la… acara keluarga eh? Tidak salahkah?” Stephan melirik Mandy sebelum menghentikan mobilnya.
Reinhart yang menunggu kedatangan Mandy begitu melihat mobil Stephan behenti di depan kastil, laki-laki itu langsung membuka pintu penumpang di sebelah kiri dan menyambut Putri tercintanya dengan pelukan hangat.

“Cantik sekali sayang..” Reinhart memandang Mandy dengan kagum dan memutar tubuh gadis itu. Mandy tertawa riang dalam pelukan Reinhat, gadis itu mengenakan gaun musim panas tidak berlengan berwarna gading selutut. Di kepalanya tersampir topi jerami berhiaskan pita organdi berwarna krem.

Stephan turun dari mobil dan menonton pertunjukan kasih sayang yang dinilainya sedikit berlebihan. Setelah Reinhart puas bercanda dengan Mandy, ia melihat Stephan dan tersenyum ramah.

“Kunci mobilmu bisa serahkan ke petugas valet, Stephan. Selamat datang.”

“Terima kasih Sir.. omong-omong rumah yang sangat indah” Stephan menjabat tangan Reinhart dan memuji keanggunan kastil kecil itu.

“Terima kasih kembali… Aku pinjam gadis cantik ini dulu, anggap saja rumah sendiri.” Reinhart tertawa kecil sambil menggandeng Mandy dan meninggalkan Stephan sendirian.

Stephan heran melihat keramahan Reinhart, sungguh berbeda dengan sikap yang ditunjukkannya kemarin malam.

***

Reinhart membawa Mandy untuk menyapa Nenek Marge. Wanita tua itu sedang duduk di kursi yang diletakkan di bawah sebuah pohon rindang.

“Apa kabar Nek?” Mandy menyapa wanita itu dengan lembut dan tersenyum kaku.

“Sebaik dan sesehat yang kau lihat sekarang, Mandy… dan siapa pemuda yang kau bawa tapi kau tinggalkan sendiri itu?” Marge mengedikkan dagunya pada Stephan yang sedang mengambil limun.

“Hanya seorang teman baik Nek.”

“Oh begitukah? Reinhart, aku harap kau tidak bersikap protektif pada Mandy karena kehadiran pemuda itu.” Marge menyindir halus Reinhart dengan senyum dinginnya.

“Aku juga berharap seperti itu Nek.. tetapi sayang, kadang-kadang otakku tidak bisa berpikir dengan jernih apabila menyangkut gadis kecil kesayanganku ini.”

Reinhart hanya tertawa kecil, merangkul erat Mandy dan menatap gadis itu dengan penuh rasa sayang. Tidak mempedulikan senyum dingin yang dipaksakan Nenek Marge yang sedang melihat mereka dengan pandangan tidak suka. Sedangkan Mandy hanya tersenyum rikuh, bingung menempatkan sikap antara menanggapi limpahan kasih sayang Ayahnya dan tatapan memperingatkan Nenek Marge yang terlihat mengancam di mata Mandy.

“Permisi, aku ambil gadisku kembali.” Stephan menyela pembicaraan keluarga Adams dengan pesonanya, pemuda itu mengulurkan tangannya kepada Mandy sambil tersenyum kepada Reinhart dan Nenek Marge.
Reinhart mengangguk ramah dan melepaskan rangkulannya pada Mandy, sang Ayah berusaha keras memainkan perannya sebagai pemilik rumah dan orangtua yang baik.

Dan tak dinyana, nenek Marge meminta dikenalkan kepada Stephan, ternyata pesona Stephan menyihir wanita tua itu. Mandy tersenyum simpul, telah lama ia tidak melihat wanita itu tertawa senang mendengar pujian yang dilontarkan Stephan dengan gaya perayu ulungnya. Siang itu dipenuhi canda tawa di meja makan, beberapa kolega Reinhart termasuk Douglas yang telah dianggap sebagai keluarga juga diundang. Stephan menjadi bintang saat itu, semua orang takluk akan pesonanya kecuali Reinhart. Sebenarnya Reinhart mengundang Stephan untuk menilai sampai dimana kapasitas pemuda itu apakah pantas menjadi kekasih Mandy. Dan dengan berat hati dan muram, sambil memandang Mandy dan Stephan yang tertawa bahagia saling berbalas lelucon, pemuda itu memang pantas untuk Mandy pikir Reinhart masam.

“Apa yang membebanimu Reinhart? Wajahmu terlihat memikirkan suatu hal yang buruk.” Douglas mengambil tempat di samping atasannya. Mereka telah selesai menyantap makan siang,dan orang-orang membentuk kelompoknya masing-masing dan mengobrol.

Reinhart menggeram muram, matanya masih menatap Mandy dan Stephan yang sedang mengobrol dan tertawa dengan mesra. Mata Douglas mengikuti apa yang ditatap oleh Reinhart dan langsung paham apa yang tengah dipikirkan orang nomor satu di Adams Corporation itu.

“Pemandangan yang indah bukan? Yang laki-laki tampan dan yang perempuan cantik, mereka berdua terlihat sangat bahagia. Sepertinya suara lonceng pernikahan terdengar tidak akan lama lagi.”

Reinhart tidak menanggapi apa yang dikatakan Douglas, laki-laki itu hanya memandang Douglas dari ujung matanya, memperingati CEO nya dengan lirikan tajam

Douglas menyesap cocktailnya, dan bertingkah seolah-olah apa yang ia katakan tidak pernah ia ucapkan. Kemudian laki-laki itu terkekeh pelan.

“Sindrom seorang Ayah yang takut kehilangan gadis kecilnya.”

***

Malam itu Mandy tidak pulang ke apartemennya, ia menginap di rumah keluarga Adams. Mandy memandang interior kamarnya yang mewah,yang sangat berbeda dengan apartemennya yang sederhana dan begitu kecil. Tempat tidur queen-size berkanopi, jendela-jendela raksasa dengan tirai beledu berenda, lampu Kristal mungil yang tergantung di tengah-tengah ruangan, sepasang sofa dan meja cantik berhias bunga segar.. betapa kehidupan mewahnya berubah menjadi kehidupan sederhana. Tetapi Mandy tidak akan pernah menyesali apa yang menjadi keputusannya, ia mencintai kehidupan sederhana tetapi bebas yang dimilikinya sekarang. Tidak ada lagi yang membuat ia takut dan selalu merasa berhutang budi. Mandy menelusuri kain linen berkualitas tinggi yang menutupi tempat tidurnya, gadis itu baru selesai mandi dan mengenakan piyama katun sederhana yang membuat ia semakin terlihat seperti remaja. Kemudian, ketukan lembut terdengar dari pintu kamar dan Mandy yakin itu pasti Ayahnya.

“Masuk saja Ayah, pintunya tidak dikunci.”

Pintu terbuka dengan pelan, dan seraut wajah dengan senyum yang selalu membuat Mandy bahagia itu melongok dari pintu.

“Tok-tok-tok, Tuan Puteri belum tidurkah?”

Mandy tersenyum lebar karena tingkah laku konyol Ayahnya.

“Senang melihatmu di kamar ini Mandy. Seharusnya memang tempatmu di sini, bukan di apartemen kecil yang tidak berselera itu.”

Mandy menjulurkan lidahnya kepada Reinhart

“Jelek-jelek begitu, itu hasil keringatku sendiri Ayah.”

Reinhart terkekeh,laki-laki itu berjalan mendekati Mandy,  mengacak kepala putrinya dengan penuh rasa sayang. Kemudian laki-laki itu duduk di samping Mandy di pinggir tempat tidur berkanopinya.

“Omong-omong, bagaimana dengan Stephan? Apa dia sudah memenangkan hatimu, sweetheart?”

“Tidak Ayah. Kami hanya sekedar teman, dan sepertinya tidak akan lebih dari itu.”

“Benarkah? Aku rasa dia sangat memujamu, dan dia juga laki-laki yang baik, tampan, sopan, dan punya karir yang bagus. Aku rasa banyak gadis patah hati olehnya. Dan jangan sampai menyesal karena menolaknya Mandy… Stephan benar-benar seorang pemuda yang baik.” Reinhart mengerling menggoda Mandy, ingin tahu apakah Mandy memang tidak menyukai Stephan atau hanya malu mengakui perasaannya.

“Oh Ayah, jangan bercanda. Aku tahu dia laki-laki yang sangat baik, mendekati kategori sempurna. Aku pun tersanjung karena dia memberikan perhatian yang lebih padaku. Tapi hubungan kami tidak seperti yang ayah kira, aku menyayangi dan menyukai Stephan seperti seorang saudara laki-laki yang tidak pernah kumiliki. Dan aku merasa aman disampingnya seperti aku dulu berada disampingmu Ayah.”

Reinhart tersentak mendengar apa yang diucapkan Mandy. Matanya tajam menyipit menatap gadis itu.

“Dulu? Jadi bagaimana dengan sekarang Mandy? Kau tidak merasa aman lagi? Kenapa dan jelaskan alasannya. Dan aku tidak ingin dibohongi.”

Wajah Mandy memucat, menyadari betapa ceroboh dirinya. Dan terlambat bagi dirinya untuk meralat kata itu.

“Ah..  aku tidak mengerti Ayah. Aku juga tidak tahu mengapa berkata seperti itu.” Mandy tergagap, jengah dengan tatapan Reinhart yang menguncinya.

“Tolong, jangan bohongi aku Mandy..”

Mandy diam, matanya ia alihkan pada tangannya yang ia letakkan di pangkuannya.Reinhart menatap gadis itu dan merasa iba dengan ketakutan Mandy. Dengan lembut ia meletakkan tangannya di pundak Mandy, membujuk gadis itu agar menatapnya kembali dan berbicara.

“Mandy sayang..”

Mandy masih tidak mau menatap Reinhart merasa bersalah dengan semua yang ia katakana tadi, tiba-tiba pundak gadis itu bergetar dan isakan pelan terdengar dari bibirnya.

“Ayah, maafkan aku. Aku juga tidak mengerti mengapa aku jadi seperti ini. Bukan berarti aku tidak sayang kepadamu.. aku sayang padamu, masih sangat sayang. Tapi, kemarin aku menyadari kau tidak seperti dirimu 3 tahun yang lalu. Ada yang berubah, dan aku juga tidak tahu yang berubah itu dirimu atau diriku. Apa mungkin faktor waktu yang menyebabkan semua ini? Sungguh, aku tidak tahu dan tidak mengerti Ayah.”

Mandy terisak. Dan Reinhart merasa ditampar dengan apa yang dikatakan Mandy. Apakah  perasaan cintanya terhadap Mandy dapat dirasakan juga oleh gadis itu, tetapi gadis itu tidak menyadarinya. Melihat Mandy menangis juga membuat hati Reinhart pedih, dia menyebabkan gadis yang sangat ia cintai ini menumpahkan air matanya dan Reinhart pantang melakukan hal itu. Dengan lembut ia peluk Mandy, lelaki itu meletakkan kepala gadis itu di dadanya. Tetapi Mandy tetap  diam, kedua tangannya berada di samping tubuhnya, tidak mebalas pelukan Reinhart.

“Maaf sweetheart. Maaf.. Aku bersalah dalam hal ini. Aku terus-terusan meninggalkanmu di Jerman sendiri. Dan walaupun aku di Jerman sesekali, aku terlalu sibuk dengan bisnisku dan kurang memperhatikanmu 3 tahun terakhir ini. Mungkin ini membuat kita sedikit merasa asing satu sama lain.”

Reinhart membelai rambut Mandy dengan lembut, tetapi hanya isakan yang terdengar. Gadis itu masih belum mau bicara.Reinhart mengecup puncak kepala gadis itu, mencoba meredakan isakan yang menghancurkan hatinya. Tiba-tiba Mandy membalas memeluk Reinhart dengan erat, seolah meminta maaf juga dan tidak ingin kehilangan Reinhart.

“Jangan tinggalkan aku lagi Ayah. Aku selalu sendiri di rumah ini, dan itu menyakitkan..”

Akhirnya Mandy mengatakan sesuatu yang ia sembunyikan dari dulu. Perasaan kehilangan akan Reinhart, kehilangan cinta dan kasih sayang Ayahnya. Hati Reinhart semakin pedih mendengar kata-kata Mandy, ia mengutuki kebodohannya selama ini bersikap menjaga jarak dengan gadis ini.

“Tidak akan lagi Mandy… Tidak akan pernah. Aku berjanji.”

Reinhart mengecup kening Mandy, mencoba menunjukkan kasih sayangnya, mencoba untuk memperbaiki sedikit apa yang telah di rusaknya. Kemudian Mandy menatap Reinhart, mata gadis itu masih basah,tetapi secercah sinar kebahagiaan ada di sana. Reinhart terhenyak, menyadari betapa berharga gadis ini baginya.

“Aku mencintaimu…” Mandy berbisik pelan dan merengkuh wajah Reinhart, gadis itu menegakkan badannya ,menjangkau laki-laki itu untuk memberi kecupan sayang di kening Reinhart. Tetapi Mandy pada saat itu tidak menyadari, bahwa Reinhart kehilangan kendali dirinya akibat kata-kata cinta yang ia ucapkan. Reinhart merengkuh wajah Mandy, menahan agar Mandy  untuk dapat ia tatap. Laki-laki itu merundukkan wajahnya, mengecup garis rahang mungil gadis itu dengan lembut. Mandy bergetar, tidak mengerti apa yang dilakukan oleh Reinhart karena sangat terasa apa yang ciuman dilakukan Ayahnya tidak seperti biasanya. Tetapi disudut dalam hati kecilnya, Mandy mengakui ia menyukai apa yang mereka lakukan sekarang.
Mulut Reinhart menjelajah wajah Mandy, mengecup kedua matanya yang terpejam, ujung hidungnya, dan kembali menelusuri garis rahang satunya. Dan semakin lama, kecupan itu semakin mendekati  bibir mungil gadis itu. Pikiran Mandy menjerit memperingatkan apa yang akan terjadi apabila ia membiarkan apa yang dilakukan Reinhart, tetapi hati kecilnya tetap ingin membiarkan hal ini. Bibir Reinhart akhirnya menyentuh bibir Mandy, ciuman itu selembut kelopak mawar tetapi seketika membuat bel peringatan di otak Mandy berdering nyaring.

“Ayah…” Mandy berbisik lemah di bibir Reinhart, mencoba menghentikan apa yang mereka lakukan saat ini.

Satu kata dari Mandy itu menyadarkan Reinhart siapa dirinya dan siapa Mandy. Wajah Reinhart membeku dan tersadar, seolah baru terguyur air es. Dengan cepat ia menarik dirinya dari Mandy.

“Oh Tuhan.. Mandy, maafkan aku.”

Mandy membeku, matanya memandang Reinhart dengan kosong. Shock melanda dirinya dan tidak mengerti dengan apa yang mereka lakukan tadi.

Reinhart mengerjapkan matanya dan menarik nafasnya pelan, kehilangan kata-kata. Dan saat itu Reinhart merasa dirinya begitu hina dan rendah.

- To be Continued-

Jumat, 19 Oktober 2012

Secrets Chapter 2



Pulang ke rumah.. dan rumah itu tidak akan terasa seperti rumah apabila tanpa Mandy di sisinya. Reinhart mengendarai mobilnya dengan muram dan pikirannya tak pernah lepas dari Mandy, dari ciumannya..
Astaga Reinhart.. itu hanya ciuman sayang biasa, tak akan lebih dari itu. Lagipula sudah biasa bukan Mandy atau dirimu melakukan itu..
Mobil Renault yang dikendarainya mendekati pintu gerbang rumahnya, Reinhart memperlambat  laju kendarannya dan menunggu pintu gerbang dibuka secara otomatis oleh Scott, salah satu petugas keamanan yang bertugas malam itu. Scotts mengenali mobil majikannya tersebut, laki-laki bertubuh kekar itu keluar dari pos keamanan yang terletak di samping pintu gerbang untuk menyapa Reinhart.
“Selamat Malam Sir.. kepulangan yang begitu tiba-tiba?” Scotts menyeringai lebar
Reinhart menurunkan kaca mobil, mengangguk  dan balas menyeringai pada laki-laki separuh baya yang sudah dianggap keluarganya dari balik setir mobil.
“tuan putri membuat sedikit masalah.. tentunya kau sudah tahu?”
Scotts tersenyum bijak,lalu mengangguk “Miss Mandy anak yang baik Sir..tidak sedikit pun ia membuat masalah walau seberat apapun keadaan yang dia hadapi”
“Aku tahu.. “
Pintu gerbang perlahan terbuka, Reinhart melambaikan tangan kepada Scotts dan mengemudikan mobilnya menuju rumah. Antara pintu gerbang dan rumah berjarak kurang lebih 3 kilometer, dan jarak sepanjang 3 kilometer itu terdiri dari hutan dan taman labyrinth. Sebetulnya rumah itu tidak pantas disebut rumah tapi kastil kecil karena mempunyai 24 kamar dan 1 ballroom yang cukup untuk menampung 500 orang. Bangunan berrwarna putih itu dibangun pada awal abad akhir abad 19, termasuk baru untuk standar umur sebuah kastil.
Reinhart memarkir mobil dan memberikan kunci mobil pada salah satu pelayan. Dengan langkah panjang dan cepat ia menaiki anak tangga, memberi senyum pada John, sang Kepala pelayan.
“Apa kabar John, omong-omong dimana aku bisa menemui Mrs. Adams?”
“Baik tuan, Mrs. Adams sedang merajut di ruang baca. Beliau telah menunggu kedatangan Anda sejak tadi.”
“Terima kasih John” Reinhart menepuk pundak laki-laki tua itu dan berjalan menuju ruang baca. Nenek Marge adalah nenek tiri Reinhart, Reinhart tidak mempunyai hubungan darah dengan beliau, hanya sebatas hubungan karena perkawinan. Kakek Frank yang merupakan kakek kandung Reinhart menikahi Marge ketika Reinhart berumur 25 tahun, 2 tahun kemudian Kakek Frank meninggal. Menurut hukum yang berlaku, Nenek Marge tidak mempunyai hak untuk tinggal di rumah itu, tetapi demi menghormati dan rasa sayangnya kepada kakek Frank, Reinhart memperbolehkan wanita itu tinggal dan memperlakukannya seperti keluarga sendiri.
Reinhart mendapati Marge sedang berkonsentrasi pada rajutan di pangkuannya. Dengan pelan ia menyapa wanita tua itu
“Halo Nek..”
Marge mengangkat wajahnya dan tersenyum dingin melihat sosok cucu tirinya itu.
“Bagaimana kabarmu di Amerika, Sayang? Dan Apa yang membuatmu kembali dengan begitu tergesa-gesa seperti ini?”
Tidak ada senyum atau kecupan hangat dalam sapaan mereka. Marge adalah wanita yang dingin, merasa tabu akan pertunjukkan kasih-sayang walau itu terjadi di dalam suatu keluarga.
“Ini mengenai Mandy. Apakah nenek tidak mencegah apa yang dilakukan Mandy?”
“Reinhart, aku rasa itu baik untuknya. Dia sudah cukup dewasa bukan? Tak selamanya ia tinggal di rumah ini, sayang.”
Reinhart mengamati wajah dingin Marge,ternyata wanita tua ini tetap tidak berubah. Ia masih tidak menyukai Mandy.
“Aku tetap tidak mengijinkan dia untuk tinggal sendiri. Aku hanya memberikan waktu percobaan 3 bulan, dan apabila terjadi sesuatu maka dia harus pulang ke rumah. Mandy selalu akan menjadi anggota keluarga ini”
Reinhart menegaskan keputusannya kepada Marge. Laki-laki itu secara halus mengingatkan Marge posisi Mandy sebagai anggota keluarga.
Marge memalingkan wajahnya dari Reinhart, mendengus tidak setuju.
Reinhart bersikap seolah tidak melihat sikap pernyataan tidak setuju dari  Marge. Apapun yang terjadi, Mandy adalah anggota keluarga ini.Sepertinya Darah Arya yang mengalir di tubuh Marge begitu kental hingga menghasilkan kesombongan yang cukup menakutkan. 

***

Setelah mandi, berusaha mengendurkan otot-otot tubuhnya yang tegang akibat jet lag dengan siraman air hangat, Reinhart duduk di sisi kanan tempat tidurnya, memandang beberapa frame foto kecil  yang terletak di atas nakas di samping tempat tidur. Reinhart mengambil  salah satu frame foto, di foto itu terdapat sosok seorang yang sangat mirip dengan Mandy, terutama senyum dan matanya. Yang hanya membedakan wajah Mandy sedikit bernuansa Kaukasus, tentunya pasti berasal dari Ayahnya. Wanita itu bernama Adinda, Ibu kandung Mandy yang berdarah Indonesia, salah satu alasan yang membuat Marge membenci Mandy.  Adinda adalah pengasuh Reinhart, wanita itu telah memberikan kasih-sayang layaknya ibu kandung pada reinhart ketika ia kehilangan kedua orang tua kandungnya pada umur 5 tahun. Dan 10 tahun kemudian, Adinda hamil dan menutup mulutnya rapat-rapat tentang siapa ayah dari janin yang dikandungnya itu. Kakek Frank sangat marah pada awalnya mengetahui hal itu, tetapi karena kasih sayangnya terhadap Adinda, akhirnya hati Frank melembut.
Kilasan detik-detik kelahiran Mandy dan kepergian Adinda berkelebat di benak Reinhart, jarak waktu 21 tahun masih tidak dapat menghapus rasa sakit itu. Malam itu kakek Frank tidak ada di rumah, ia sedang dalam perjalanan bisnisnya. Kelahiran Mandy lebih awal satu minggu di luar perkiraan. Dan sebelum Adinda di bawa ke ruang operasi, wanita itu meminta agar Reinhart menjaga bayinya apabila sesuatu yang buruk terjadi pada dirinya.  Reinhart sudah bertindak semampunya sebagai seorang remaja, tetapi tetap saja Adinda tidak tertolong. Tangisnya tumpah saat itu, dan rasa penyesalan begitu dan kehilangan sosok seorang Ibu sangat mengahncurkannya. Kalau saja ia lebih cepat membawa Adinda ke rumah sakit.. Tetapi semua rasa itu hilang, begitu ia menggendong Mandy. Kepalan kecil yang meninju dunia itu  dan genggaman kecil yang kuat pada jarinya menyadarkannya bahwa ada kehidupan baru setelah kepergian Adinda. Dan Reinhart jatuh  sayang pada bayi itu..
Dan ternyata rasa sayang itu perlahan-lahan berubah menjadi sesuatu yang tidak ia kira. Rasa yang membuat Reinhart membenci dirinya sendiri dan ia tau rasa itu membunuhnya pelan-pelan. Tapi di saat bersamaan rasa itu menghangatkan hatinya yang dingin dan menyinari hidupnya yang begitu membosankan.
Reinhart meletakkan foto itu kembali ,dan merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Mencoba untuk melupakan perasaan terlarangnya terhadap Amanda dengan terlelap sejenak.

***

Setelah makan malam dengan Reinhart, Amanda kembali merapikan apartemennya yang masih terlihat payah. Di sela-sela kesibukannya membereskan barang-barang, ia memikirkan kembali apa yang terjadi di depan pintu apartemennya. Mengapa wajah Ayahnya terlihat aneh setelah ciuman selamat malam itu? Bukankan itu merupakan ritual biasa di antara mereka? Tetapi Mandy juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri, ada sesuatu yang berbeda dalam hatinya ketika ia memandang Reinhart, Ayahnya. Apa mungkin karena ia begitu lama tidak bertemu laki-laki itu? Apa waktu selama 3 tahun bisa merubah hati seseorang? Sudahlah…  Mandy tidak ingin memikirkan itu lagi. Gadis itu menganggap mungkin hal-hal aneh yang terjadi karena Reinhart dan dirinya terlalu lelah sehingga memikirkan hal yang tidak-tidak.

***

Pagi itu, Mandy bangun dengan perasaan senang. Ternyata makan malam mewah dan bertemu dengan seseorang yang sangat disayanginya di malam sebelumnya sangat mempengaruhi kualitas tidur, pikir Mandy riang. Mandy memilih pakaian kerja 3 pieces berwarna hijau lumut muda, dengan syal berwarna broken white. Pakaian-pakaian  yang dimiliki gadis itu terlihat sederhana tetapi elegan, orang yang mengerti kualitas akan mengerti bahwa pakaian itu adalah rancangan desainer dengan harga yang cukup fantastis.
Setelah mandi dan sarapan sederhana, Mandy bergegas menuju kantornya di Georgstrasse yang terletak di pusat kota Hanover dengan subway. Mandy merasa sangat beruntung menemukan apartement murah di distrik Mitte, karena cukup dekat dengan kantornya. Pekerjaannya sebagai akuntan di sebuah bank devisa lokal sepertinya akan banyak menyita waktu,  dan lembur adalah kata wajib dalam pekerjaannya. Hari ini adalah tepat 2 minggu  ia telah bekerja di kantor ini, suasana di kantor sepertinya cukup menyenangkan karena lebih dari separuh pegawainya berusia 20-30 tahun. Dan juga mereka bersikap ramah terhadap Mandy yang terhitung sebagai karyawan termuda.
“Halo Stephan.” Mandy menyapa seorang pemuda tampan pirang, bertubuh tinggi  atletis di lobby. Wajah Stephan mengingatkan Mandy pada personil boyband Inggris. Stephan Winkler adalah Manajer Marketing di bank itu.
“Halo Mandy. Seperti biasa, selalu terlihat cantik dan ceria.” Stephan mengerling pada Mandy.
Mandy tertawa kecil, menganggap kata-kata Stephan hanya sekedar lip service yang dilontarkan sebagai seorang teman.
Mandy berjalan menuju kubikelnya, tetapi Stephan mengekor Mandy di belakang gadis itu. Mandy bersikap pura-pura tidak tahu dengan apa yang dilakukan Stephan. Ia tahu kalau Stephan pasti merayunya mengenai apartemen yang ditempati Mandy. Beberapa hari yang lalu Stephan menanyakan di mana ia tinggal, dan ketika ia tahu kalau Mandy menyewa apartemen di distrik Mitte pemuda itu terus bertanya mengenai keadaan apartemennya.
“Sudah selesai beres-beresnya,  my dear?” Stephan bersandar di partisi kubikel Mandy.
“Lumayan. Sudah terlihat sebagai tempat tinggal” Mandy mendongak tersenyum pada Stephan sambil mulai menyiapkan bahan-bahan yang harus ia kerjakan hari ini.
“Hmm.. kalau begitu, aku bersedia diundang ke tempatmu.” Lagi-lagi Stephan mengerling pada Mandy.
Mata Mandy melebar memandang Stephan, terkejut dengan sikap terang-terangan pemuda itu.
Melihat reaksi Mandy, Stephan memasang muka kecewa dengan dramatis.
“Yah, apabila kau keberatan.. paling tidak hang-out denganku seusai jam kerja nanti. Aku tahu ada klub yang bagus di sekitar sini.”
Mandy terdiam sejenak mempertimbangkan tawaran pemuda itu. Dan akhirnya ia menyerah dengan rayuan Stephan.
“Oke..”
“Aku tunggu kau di lobby jam 7.” Stephan menyeringai lebar dan langsung kembali ke ruang kerjanya yang terletak di seberang kubikel Mandy.
Mandy menghela nafas, memutar matanya dan tertawa kecil. Sungguh, Mandy tidak percaya dengan rayuan Stephan. Seorang pemuda metrosexual seperti Stephan tertarik padanya? Di hati kecilnya Mandy yakin ada maksud lain pemuda tampan itu, dan itu bukan tentang ketertarikan lawan jenis. Mandy menyadari bahwa seharusnya ia bersikap waspada, tetapi ia merasa aman apabila berdua dengan Stephan.. sama seperti apabila ia berdua dengan Reinhart dulu. Dulu? Mandy mengerutkan keningnya, merasa aneh dengan pemikirannya sendiri.

***

Seperti yang dijanjikan Stephan, ternyata klub itu memang cukup trendi. Musik disko terbaru terdengar menggelegar dari speaker-speaker yang tidak terlihat. Klub itu berdekorasi modern-elektik, dengan lantai dansa yang cukup besar dan ceruk-ceruk di sekeliling lantai dansa yang digunakan sebagai ruang duduk yang cukup memberikan privasi bagi pengunjungnya.  Mandy terlihat menikmati suasana di klub itu, gadis itu duduk dengan tenang di salah satu ceruk sambil menyesap sparkling vodka nya. Sementara Stephan sedang asyik melantai dengan seorang gadis yang baru dikenalnya.
“Yang benar saja dear, sparkling vodka? ” Stephan menepuk bahu Mandy dan merengkuh pundak gadis itu.
“Aku bukan tipe yang tahan dengan alkohol”  Mandy meringis pada Stephan yang baru kembali dari lantai dansa.
Tiba-tiba Stephan mengambil gelas vodka yang ada di tangan Mandy, dan menarik gadis itu ke lantai dansa.
“Terlalu sayang untuk dilewatkan untuk tidak berdansa, Mandy.. “
Stephan meletakkan kedua tangannya di pundak Mandy, sambil menggoyangkan tubuhnya mengikuti lagu yang dimainkan disk jockey. Pemuda itu bermaksud menahan Mandy dengan kedua tangannya.
Mandy menatap Stephan bingung, pemuda ini begitu agresif pikir gadis mungil itu.. dan Mandy tidak merasa risih dengan perbuatan Stephan.
Tapi sudahlah, nikmati saja semua perhatian pemuda tampan ini padamu Mandy. Dan diriku juga sangat jarang dapat bersenang-senang seperti ini..  Mandy berbicara pada dirinya sendiri sambil menatap wajah tampan Stephan.

“Kau tahu Stephan… baru kali ini aku berdisko di sebuah klub malam” Mandy mengikuti gerak tubuh Stephan.
Mata Stephan membesar mendengar perkataan yang baru dikatakan gadis itu
“Mandy darling, kau berasal dari bagian bumi sebelah mana? Atau mungkin terlalu banyak larangan di keluarga mu? Umurmu sudah 21 tahun kan?
“Yang kau sebutkan sudah mendekati kebenaran” Mandy tersenyum kecil
“Betapa kolotnya..” Stephan mendecak dan memutar matanya.
Mandy tertawa kecil dan semakin merasa nyaman di pelukan Stephan. Tubuhnya bergerak mengikuti irama gerakan tubuh pemuda itu. Mereka berdansa seperti dua orang sahabat lama. Dan sekali lagi Mandy merasa takjub, betapa pemuda ini dapat membuatnya merasa nyaman. Ia rindu dengan seseorang yang membuatnya merasa tenang, nyaman, seperti apabila ia berada di dekat Ayahnya dulu. Tetapi 3 tahun belakangan ini, Mandy merasa ada yang berubah dari  Reinhart, laki-laki yang selama ini dipanggilnya Ayah itu mulai menjauhinya. Mandy merasa sedih, dan tidak mengerti apa ada yang salah dengan hubungan mereka selama ini. Dan ketika Ayahnya memutuskan untuk menetap di Amerika, hidupnya terasa hampa.. karena tidak ada lagi orang yang membuat gadis itu rindu akan rumah, dan tidak ada lagi perlindungan serta kenyamanan yang selalu disediakan Reinhart pada Mandy.
Mata Mandy berkilat sedih, dan Stephan seakan mengerti dengan perubahan suasana hati gadis itu.
“Sudahlah… ayo kita pergi makan malam, kau tidak terlihat tidak begitu bersemangat”
Stephan menggandeng Mandy keluar dari kerumunan orang-orang yang sedang asyik melantai berdansa.
Ketika mereka berdua telah berada di dekat meja bar, Stephan meninggalkan Mandy sebentar untuk pergi menyapa temannya sebentar dan tiba-tiba lengan Mandy di cekal oleh seseorang.
“Mandy, apa yang kau lakukan di sini?” Reinhart menatap Mandy tajam.
Laki-laki sedang bersandar di meja bar, masih mengenakan pakaian kerja berwarna gelap yang membungkus tubuhnya dengan elegan.
“Ayah!!” Mandy sangat terkejut dengan keberadaan Reinhart di klub malam ini, karena klub ini bukanlah tipe klub yang akan dikunjungi Reinhart karena rata-rata pengunjungnya adalah mahasiswa dan pekerja muda.
“Aku sedang bersenang-senang dengan temanku. Dan dirimu Ayah, apa yang kau lakukan di klub malam mahasiswa ini, menggoda mahasiswi lagi?” Mandy membalas pertanyaan Reinhart dengan telak.
Reinhart nyengir, mempesona Mandy dengan senyumannya yang sedikit miring.
“Hmm.. seorang kolega  mengajakku kemari. Dia bilang klub ini adalah klub yang paling hip saat ini.”
“Hei, Reinhart.. kau sudah memesan minuman?”
Seorang laki-laki muda berpenampilan menarik bermata hijau dan berambut coklat madu tiba-tiba menyapa dan memberikan segelas besar bir pada Reinhart. Laki-laki itu melihat Mandy dengan tatapan tertarik.
“Siapa ini? Tunggu, biarkan aku menebak. Ini pasti Mandy yang terkenal itu. Yang membuat Ayahnya kalang-kabut meninggalkan Amerika untuk menetap di sini kembali.”
Mandy terperangah, memandang laki-laki asing yang sedang tersenyum lebar padanya. Dengan cepat Mandy mengalihkan tatapannya ke Ayahnya dengan tatapan menuduh.
Reinhart terlihat salah tingkah, kemudian berdeham mencoba melegakan tenggorokannya yang sebetulnya tidak gatal sama sekali.
“Ehm, Mandy kenalkan ini Douglas Rutherford. Dia yang akan menjalankan perusahaan kita di Amerika. Dan Douglas, ini Amanda atau biasa dipanggil Mandy. Putriku tercinta yang baru menjalani karirnya sebagai seorang analis kredit perbankan”
Douglas tersenyum jenaka dan mengulurkan tangannya, menjabat tangan mungil Mandy dengan erat.
“Panggil saja aku Doug.. sayang sekali, mungkin di saat-saat mendatang kita akan jarang bertemu. Aku tidak menyangka ternyata Reinhart mempunyai Putri secantik dirimu”
Reinhart melirik tajam dengan cepat ke arah Doug. Berusaha tidak peduli, tetapi ia terlihat waspada dengan pernyataan Doug tadi.
“Sayang sekali juga Doug.. padahal aku ingin lebih sering berbicara denganmu.Aku ingin tahu mengenai sepak-terjang Ayah dalam menggoda perempuan-perempuan di Amerika. Kalau tidak salah Anda tinggal di New York selama ini kan?” Mandy tersenyum lebar, ia memutuskan menyukai laki-laki dengan sifat jenaka dan terus-terang itu.
Reinhart tersedak bir yang sedang diminumnya. Matanya memperingatkan Mandy..
“Oh begitukah Mandy yang diceritakan Ayahmu? Cukup menarik” Doug nyengir dan memandang Reinhart dengan penuh spekulasi.
“Hmm.. tidak ada hal yang harus kuklarifikasi. Bukan begitu Doug?” Reinhart berkata dengan suara bercanda dengan sedikit nada mengancam.
Mandy memandang Doug meminta penjelasan
“Maaf Mandy,aku tidak berani.. nasib pekerjaanku tergantung pada Ayahmu. Sangat sayang melepaskan posisi CEO yang telah lama kuincar sejak awal berkarir di perusahaannya.”
Doug menyeringai konyol pada Mandy.
Tiba-tiba obrolan mereka yang mulai memanas, terhenti karena kedatangan Stephan.Laki-laki itu sekonyong-konyongnya merengkuh dan mencium pipi Mandy.
“Sorry Dear..meninggalkanmu sedikit lama. Tapi kulihat kau sudah menemukan teman-teman baru.”
Reinhart menatap Stephan dengan penuh waspada, laki-laki itu dengan terang-terangan tidak menyembunyikan rasa tidak sukanya dengan apa yang dilakukan Stephan tadi. Kemudian Reinhart menatap Mandy meminta penjelasan segera.
Mandy terlihat bingung karena apa yang dilakukan Stephan baru-baru tadi. Otaknya belum mencerna isyarat yang ditujukan Reinhart pada dirinya.
Stephan menyadari rasa tidak suka Reinhart yang ditujukan padanya. Dan untuk menegaskan posisinya, Stephan mengenalkan dirinya langsung pada Reinhart.
“Stephan Franz Winkler. Sahabat Mandy dan sangat berpotensi untuk menjadi lebih dekat di masa mendatang.”  Stephan mengulurkan tangannya dan tersenyum lebar tanpa dosa.
Reinhart menyambut uluran tangan Stephan, laki-laki itu mengenggam tangan pemuda itu dengan kuat.
“Reinhart Heinrich Adams,Ayah dari kandidat pacarmu ini” Reinhart menggeram.
Stephan melongo, tidak menyangka apabila laki-laki yang cukup muda di depannya adalah Ayah Amanda.
Sementara Douglas nyengir, menyembunyikan dan menahan tawanya karena melihat perubahan wajah kedua laki-laki yang baru berkenalan tadi di depannya.Kemudian Douglas itu berpura-pura tidak melihat dan memandang ke arah lain.
“Oh..oh..”
Mandy mengusap keningnya dan mendesah panjang. Mimpi apa gadis itu semalam, dihadapkan pada situasi yang tidak menyenangkan seperti ini.

To be Continued to Chapter 3