Jumat, 19 Oktober 2012

Secrets Chapter 2



Pulang ke rumah.. dan rumah itu tidak akan terasa seperti rumah apabila tanpa Mandy di sisinya. Reinhart mengendarai mobilnya dengan muram dan pikirannya tak pernah lepas dari Mandy, dari ciumannya..
Astaga Reinhart.. itu hanya ciuman sayang biasa, tak akan lebih dari itu. Lagipula sudah biasa bukan Mandy atau dirimu melakukan itu..
Mobil Renault yang dikendarainya mendekati pintu gerbang rumahnya, Reinhart memperlambat  laju kendarannya dan menunggu pintu gerbang dibuka secara otomatis oleh Scott, salah satu petugas keamanan yang bertugas malam itu. Scotts mengenali mobil majikannya tersebut, laki-laki bertubuh kekar itu keluar dari pos keamanan yang terletak di samping pintu gerbang untuk menyapa Reinhart.
“Selamat Malam Sir.. kepulangan yang begitu tiba-tiba?” Scotts menyeringai lebar
Reinhart menurunkan kaca mobil, mengangguk  dan balas menyeringai pada laki-laki separuh baya yang sudah dianggap keluarganya dari balik setir mobil.
“tuan putri membuat sedikit masalah.. tentunya kau sudah tahu?”
Scotts tersenyum bijak,lalu mengangguk “Miss Mandy anak yang baik Sir..tidak sedikit pun ia membuat masalah walau seberat apapun keadaan yang dia hadapi”
“Aku tahu.. “
Pintu gerbang perlahan terbuka, Reinhart melambaikan tangan kepada Scotts dan mengemudikan mobilnya menuju rumah. Antara pintu gerbang dan rumah berjarak kurang lebih 3 kilometer, dan jarak sepanjang 3 kilometer itu terdiri dari hutan dan taman labyrinth. Sebetulnya rumah itu tidak pantas disebut rumah tapi kastil kecil karena mempunyai 24 kamar dan 1 ballroom yang cukup untuk menampung 500 orang. Bangunan berrwarna putih itu dibangun pada awal abad akhir abad 19, termasuk baru untuk standar umur sebuah kastil.
Reinhart memarkir mobil dan memberikan kunci mobil pada salah satu pelayan. Dengan langkah panjang dan cepat ia menaiki anak tangga, memberi senyum pada John, sang Kepala pelayan.
“Apa kabar John, omong-omong dimana aku bisa menemui Mrs. Adams?”
“Baik tuan, Mrs. Adams sedang merajut di ruang baca. Beliau telah menunggu kedatangan Anda sejak tadi.”
“Terima kasih John” Reinhart menepuk pundak laki-laki tua itu dan berjalan menuju ruang baca. Nenek Marge adalah nenek tiri Reinhart, Reinhart tidak mempunyai hubungan darah dengan beliau, hanya sebatas hubungan karena perkawinan. Kakek Frank yang merupakan kakek kandung Reinhart menikahi Marge ketika Reinhart berumur 25 tahun, 2 tahun kemudian Kakek Frank meninggal. Menurut hukum yang berlaku, Nenek Marge tidak mempunyai hak untuk tinggal di rumah itu, tetapi demi menghormati dan rasa sayangnya kepada kakek Frank, Reinhart memperbolehkan wanita itu tinggal dan memperlakukannya seperti keluarga sendiri.
Reinhart mendapati Marge sedang berkonsentrasi pada rajutan di pangkuannya. Dengan pelan ia menyapa wanita tua itu
“Halo Nek..”
Marge mengangkat wajahnya dan tersenyum dingin melihat sosok cucu tirinya itu.
“Bagaimana kabarmu di Amerika, Sayang? Dan Apa yang membuatmu kembali dengan begitu tergesa-gesa seperti ini?”
Tidak ada senyum atau kecupan hangat dalam sapaan mereka. Marge adalah wanita yang dingin, merasa tabu akan pertunjukkan kasih-sayang walau itu terjadi di dalam suatu keluarga.
“Ini mengenai Mandy. Apakah nenek tidak mencegah apa yang dilakukan Mandy?”
“Reinhart, aku rasa itu baik untuknya. Dia sudah cukup dewasa bukan? Tak selamanya ia tinggal di rumah ini, sayang.”
Reinhart mengamati wajah dingin Marge,ternyata wanita tua ini tetap tidak berubah. Ia masih tidak menyukai Mandy.
“Aku tetap tidak mengijinkan dia untuk tinggal sendiri. Aku hanya memberikan waktu percobaan 3 bulan, dan apabila terjadi sesuatu maka dia harus pulang ke rumah. Mandy selalu akan menjadi anggota keluarga ini”
Reinhart menegaskan keputusannya kepada Marge. Laki-laki itu secara halus mengingatkan Marge posisi Mandy sebagai anggota keluarga.
Marge memalingkan wajahnya dari Reinhart, mendengus tidak setuju.
Reinhart bersikap seolah tidak melihat sikap pernyataan tidak setuju dari  Marge. Apapun yang terjadi, Mandy adalah anggota keluarga ini.Sepertinya Darah Arya yang mengalir di tubuh Marge begitu kental hingga menghasilkan kesombongan yang cukup menakutkan. 

***

Setelah mandi, berusaha mengendurkan otot-otot tubuhnya yang tegang akibat jet lag dengan siraman air hangat, Reinhart duduk di sisi kanan tempat tidurnya, memandang beberapa frame foto kecil  yang terletak di atas nakas di samping tempat tidur. Reinhart mengambil  salah satu frame foto, di foto itu terdapat sosok seorang yang sangat mirip dengan Mandy, terutama senyum dan matanya. Yang hanya membedakan wajah Mandy sedikit bernuansa Kaukasus, tentunya pasti berasal dari Ayahnya. Wanita itu bernama Adinda, Ibu kandung Mandy yang berdarah Indonesia, salah satu alasan yang membuat Marge membenci Mandy.  Adinda adalah pengasuh Reinhart, wanita itu telah memberikan kasih-sayang layaknya ibu kandung pada reinhart ketika ia kehilangan kedua orang tua kandungnya pada umur 5 tahun. Dan 10 tahun kemudian, Adinda hamil dan menutup mulutnya rapat-rapat tentang siapa ayah dari janin yang dikandungnya itu. Kakek Frank sangat marah pada awalnya mengetahui hal itu, tetapi karena kasih sayangnya terhadap Adinda, akhirnya hati Frank melembut.
Kilasan detik-detik kelahiran Mandy dan kepergian Adinda berkelebat di benak Reinhart, jarak waktu 21 tahun masih tidak dapat menghapus rasa sakit itu. Malam itu kakek Frank tidak ada di rumah, ia sedang dalam perjalanan bisnisnya. Kelahiran Mandy lebih awal satu minggu di luar perkiraan. Dan sebelum Adinda di bawa ke ruang operasi, wanita itu meminta agar Reinhart menjaga bayinya apabila sesuatu yang buruk terjadi pada dirinya.  Reinhart sudah bertindak semampunya sebagai seorang remaja, tetapi tetap saja Adinda tidak tertolong. Tangisnya tumpah saat itu, dan rasa penyesalan begitu dan kehilangan sosok seorang Ibu sangat mengahncurkannya. Kalau saja ia lebih cepat membawa Adinda ke rumah sakit.. Tetapi semua rasa itu hilang, begitu ia menggendong Mandy. Kepalan kecil yang meninju dunia itu  dan genggaman kecil yang kuat pada jarinya menyadarkannya bahwa ada kehidupan baru setelah kepergian Adinda. Dan Reinhart jatuh  sayang pada bayi itu..
Dan ternyata rasa sayang itu perlahan-lahan berubah menjadi sesuatu yang tidak ia kira. Rasa yang membuat Reinhart membenci dirinya sendiri dan ia tau rasa itu membunuhnya pelan-pelan. Tapi di saat bersamaan rasa itu menghangatkan hatinya yang dingin dan menyinari hidupnya yang begitu membosankan.
Reinhart meletakkan foto itu kembali ,dan merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Mencoba untuk melupakan perasaan terlarangnya terhadap Amanda dengan terlelap sejenak.

***

Setelah makan malam dengan Reinhart, Amanda kembali merapikan apartemennya yang masih terlihat payah. Di sela-sela kesibukannya membereskan barang-barang, ia memikirkan kembali apa yang terjadi di depan pintu apartemennya. Mengapa wajah Ayahnya terlihat aneh setelah ciuman selamat malam itu? Bukankan itu merupakan ritual biasa di antara mereka? Tetapi Mandy juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri, ada sesuatu yang berbeda dalam hatinya ketika ia memandang Reinhart, Ayahnya. Apa mungkin karena ia begitu lama tidak bertemu laki-laki itu? Apa waktu selama 3 tahun bisa merubah hati seseorang? Sudahlah…  Mandy tidak ingin memikirkan itu lagi. Gadis itu menganggap mungkin hal-hal aneh yang terjadi karena Reinhart dan dirinya terlalu lelah sehingga memikirkan hal yang tidak-tidak.

***

Pagi itu, Mandy bangun dengan perasaan senang. Ternyata makan malam mewah dan bertemu dengan seseorang yang sangat disayanginya di malam sebelumnya sangat mempengaruhi kualitas tidur, pikir Mandy riang. Mandy memilih pakaian kerja 3 pieces berwarna hijau lumut muda, dengan syal berwarna broken white. Pakaian-pakaian  yang dimiliki gadis itu terlihat sederhana tetapi elegan, orang yang mengerti kualitas akan mengerti bahwa pakaian itu adalah rancangan desainer dengan harga yang cukup fantastis.
Setelah mandi dan sarapan sederhana, Mandy bergegas menuju kantornya di Georgstrasse yang terletak di pusat kota Hanover dengan subway. Mandy merasa sangat beruntung menemukan apartement murah di distrik Mitte, karena cukup dekat dengan kantornya. Pekerjaannya sebagai akuntan di sebuah bank devisa lokal sepertinya akan banyak menyita waktu,  dan lembur adalah kata wajib dalam pekerjaannya. Hari ini adalah tepat 2 minggu  ia telah bekerja di kantor ini, suasana di kantor sepertinya cukup menyenangkan karena lebih dari separuh pegawainya berusia 20-30 tahun. Dan juga mereka bersikap ramah terhadap Mandy yang terhitung sebagai karyawan termuda.
“Halo Stephan.” Mandy menyapa seorang pemuda tampan pirang, bertubuh tinggi  atletis di lobby. Wajah Stephan mengingatkan Mandy pada personil boyband Inggris. Stephan Winkler adalah Manajer Marketing di bank itu.
“Halo Mandy. Seperti biasa, selalu terlihat cantik dan ceria.” Stephan mengerling pada Mandy.
Mandy tertawa kecil, menganggap kata-kata Stephan hanya sekedar lip service yang dilontarkan sebagai seorang teman.
Mandy berjalan menuju kubikelnya, tetapi Stephan mengekor Mandy di belakang gadis itu. Mandy bersikap pura-pura tidak tahu dengan apa yang dilakukan Stephan. Ia tahu kalau Stephan pasti merayunya mengenai apartemen yang ditempati Mandy. Beberapa hari yang lalu Stephan menanyakan di mana ia tinggal, dan ketika ia tahu kalau Mandy menyewa apartemen di distrik Mitte pemuda itu terus bertanya mengenai keadaan apartemennya.
“Sudah selesai beres-beresnya,  my dear?” Stephan bersandar di partisi kubikel Mandy.
“Lumayan. Sudah terlihat sebagai tempat tinggal” Mandy mendongak tersenyum pada Stephan sambil mulai menyiapkan bahan-bahan yang harus ia kerjakan hari ini.
“Hmm.. kalau begitu, aku bersedia diundang ke tempatmu.” Lagi-lagi Stephan mengerling pada Mandy.
Mata Mandy melebar memandang Stephan, terkejut dengan sikap terang-terangan pemuda itu.
Melihat reaksi Mandy, Stephan memasang muka kecewa dengan dramatis.
“Yah, apabila kau keberatan.. paling tidak hang-out denganku seusai jam kerja nanti. Aku tahu ada klub yang bagus di sekitar sini.”
Mandy terdiam sejenak mempertimbangkan tawaran pemuda itu. Dan akhirnya ia menyerah dengan rayuan Stephan.
“Oke..”
“Aku tunggu kau di lobby jam 7.” Stephan menyeringai lebar dan langsung kembali ke ruang kerjanya yang terletak di seberang kubikel Mandy.
Mandy menghela nafas, memutar matanya dan tertawa kecil. Sungguh, Mandy tidak percaya dengan rayuan Stephan. Seorang pemuda metrosexual seperti Stephan tertarik padanya? Di hati kecilnya Mandy yakin ada maksud lain pemuda tampan itu, dan itu bukan tentang ketertarikan lawan jenis. Mandy menyadari bahwa seharusnya ia bersikap waspada, tetapi ia merasa aman apabila berdua dengan Stephan.. sama seperti apabila ia berdua dengan Reinhart dulu. Dulu? Mandy mengerutkan keningnya, merasa aneh dengan pemikirannya sendiri.

***

Seperti yang dijanjikan Stephan, ternyata klub itu memang cukup trendi. Musik disko terbaru terdengar menggelegar dari speaker-speaker yang tidak terlihat. Klub itu berdekorasi modern-elektik, dengan lantai dansa yang cukup besar dan ceruk-ceruk di sekeliling lantai dansa yang digunakan sebagai ruang duduk yang cukup memberikan privasi bagi pengunjungnya.  Mandy terlihat menikmati suasana di klub itu, gadis itu duduk dengan tenang di salah satu ceruk sambil menyesap sparkling vodka nya. Sementara Stephan sedang asyik melantai dengan seorang gadis yang baru dikenalnya.
“Yang benar saja dear, sparkling vodka? ” Stephan menepuk bahu Mandy dan merengkuh pundak gadis itu.
“Aku bukan tipe yang tahan dengan alkohol”  Mandy meringis pada Stephan yang baru kembali dari lantai dansa.
Tiba-tiba Stephan mengambil gelas vodka yang ada di tangan Mandy, dan menarik gadis itu ke lantai dansa.
“Terlalu sayang untuk dilewatkan untuk tidak berdansa, Mandy.. “
Stephan meletakkan kedua tangannya di pundak Mandy, sambil menggoyangkan tubuhnya mengikuti lagu yang dimainkan disk jockey. Pemuda itu bermaksud menahan Mandy dengan kedua tangannya.
Mandy menatap Stephan bingung, pemuda ini begitu agresif pikir gadis mungil itu.. dan Mandy tidak merasa risih dengan perbuatan Stephan.
Tapi sudahlah, nikmati saja semua perhatian pemuda tampan ini padamu Mandy. Dan diriku juga sangat jarang dapat bersenang-senang seperti ini..  Mandy berbicara pada dirinya sendiri sambil menatap wajah tampan Stephan.

“Kau tahu Stephan… baru kali ini aku berdisko di sebuah klub malam” Mandy mengikuti gerak tubuh Stephan.
Mata Stephan membesar mendengar perkataan yang baru dikatakan gadis itu
“Mandy darling, kau berasal dari bagian bumi sebelah mana? Atau mungkin terlalu banyak larangan di keluarga mu? Umurmu sudah 21 tahun kan?
“Yang kau sebutkan sudah mendekati kebenaran” Mandy tersenyum kecil
“Betapa kolotnya..” Stephan mendecak dan memutar matanya.
Mandy tertawa kecil dan semakin merasa nyaman di pelukan Stephan. Tubuhnya bergerak mengikuti irama gerakan tubuh pemuda itu. Mereka berdansa seperti dua orang sahabat lama. Dan sekali lagi Mandy merasa takjub, betapa pemuda ini dapat membuatnya merasa nyaman. Ia rindu dengan seseorang yang membuatnya merasa tenang, nyaman, seperti apabila ia berada di dekat Ayahnya dulu. Tetapi 3 tahun belakangan ini, Mandy merasa ada yang berubah dari  Reinhart, laki-laki yang selama ini dipanggilnya Ayah itu mulai menjauhinya. Mandy merasa sedih, dan tidak mengerti apa ada yang salah dengan hubungan mereka selama ini. Dan ketika Ayahnya memutuskan untuk menetap di Amerika, hidupnya terasa hampa.. karena tidak ada lagi orang yang membuat gadis itu rindu akan rumah, dan tidak ada lagi perlindungan serta kenyamanan yang selalu disediakan Reinhart pada Mandy.
Mata Mandy berkilat sedih, dan Stephan seakan mengerti dengan perubahan suasana hati gadis itu.
“Sudahlah… ayo kita pergi makan malam, kau tidak terlihat tidak begitu bersemangat”
Stephan menggandeng Mandy keluar dari kerumunan orang-orang yang sedang asyik melantai berdansa.
Ketika mereka berdua telah berada di dekat meja bar, Stephan meninggalkan Mandy sebentar untuk pergi menyapa temannya sebentar dan tiba-tiba lengan Mandy di cekal oleh seseorang.
“Mandy, apa yang kau lakukan di sini?” Reinhart menatap Mandy tajam.
Laki-laki sedang bersandar di meja bar, masih mengenakan pakaian kerja berwarna gelap yang membungkus tubuhnya dengan elegan.
“Ayah!!” Mandy sangat terkejut dengan keberadaan Reinhart di klub malam ini, karena klub ini bukanlah tipe klub yang akan dikunjungi Reinhart karena rata-rata pengunjungnya adalah mahasiswa dan pekerja muda.
“Aku sedang bersenang-senang dengan temanku. Dan dirimu Ayah, apa yang kau lakukan di klub malam mahasiswa ini, menggoda mahasiswi lagi?” Mandy membalas pertanyaan Reinhart dengan telak.
Reinhart nyengir, mempesona Mandy dengan senyumannya yang sedikit miring.
“Hmm.. seorang kolega  mengajakku kemari. Dia bilang klub ini adalah klub yang paling hip saat ini.”
“Hei, Reinhart.. kau sudah memesan minuman?”
Seorang laki-laki muda berpenampilan menarik bermata hijau dan berambut coklat madu tiba-tiba menyapa dan memberikan segelas besar bir pada Reinhart. Laki-laki itu melihat Mandy dengan tatapan tertarik.
“Siapa ini? Tunggu, biarkan aku menebak. Ini pasti Mandy yang terkenal itu. Yang membuat Ayahnya kalang-kabut meninggalkan Amerika untuk menetap di sini kembali.”
Mandy terperangah, memandang laki-laki asing yang sedang tersenyum lebar padanya. Dengan cepat Mandy mengalihkan tatapannya ke Ayahnya dengan tatapan menuduh.
Reinhart terlihat salah tingkah, kemudian berdeham mencoba melegakan tenggorokannya yang sebetulnya tidak gatal sama sekali.
“Ehm, Mandy kenalkan ini Douglas Rutherford. Dia yang akan menjalankan perusahaan kita di Amerika. Dan Douglas, ini Amanda atau biasa dipanggil Mandy. Putriku tercinta yang baru menjalani karirnya sebagai seorang analis kredit perbankan”
Douglas tersenyum jenaka dan mengulurkan tangannya, menjabat tangan mungil Mandy dengan erat.
“Panggil saja aku Doug.. sayang sekali, mungkin di saat-saat mendatang kita akan jarang bertemu. Aku tidak menyangka ternyata Reinhart mempunyai Putri secantik dirimu”
Reinhart melirik tajam dengan cepat ke arah Doug. Berusaha tidak peduli, tetapi ia terlihat waspada dengan pernyataan Doug tadi.
“Sayang sekali juga Doug.. padahal aku ingin lebih sering berbicara denganmu.Aku ingin tahu mengenai sepak-terjang Ayah dalam menggoda perempuan-perempuan di Amerika. Kalau tidak salah Anda tinggal di New York selama ini kan?” Mandy tersenyum lebar, ia memutuskan menyukai laki-laki dengan sifat jenaka dan terus-terang itu.
Reinhart tersedak bir yang sedang diminumnya. Matanya memperingatkan Mandy..
“Oh begitukah Mandy yang diceritakan Ayahmu? Cukup menarik” Doug nyengir dan memandang Reinhart dengan penuh spekulasi.
“Hmm.. tidak ada hal yang harus kuklarifikasi. Bukan begitu Doug?” Reinhart berkata dengan suara bercanda dengan sedikit nada mengancam.
Mandy memandang Doug meminta penjelasan
“Maaf Mandy,aku tidak berani.. nasib pekerjaanku tergantung pada Ayahmu. Sangat sayang melepaskan posisi CEO yang telah lama kuincar sejak awal berkarir di perusahaannya.”
Doug menyeringai konyol pada Mandy.
Tiba-tiba obrolan mereka yang mulai memanas, terhenti karena kedatangan Stephan.Laki-laki itu sekonyong-konyongnya merengkuh dan mencium pipi Mandy.
“Sorry Dear..meninggalkanmu sedikit lama. Tapi kulihat kau sudah menemukan teman-teman baru.”
Reinhart menatap Stephan dengan penuh waspada, laki-laki itu dengan terang-terangan tidak menyembunyikan rasa tidak sukanya dengan apa yang dilakukan Stephan tadi. Kemudian Reinhart menatap Mandy meminta penjelasan segera.
Mandy terlihat bingung karena apa yang dilakukan Stephan baru-baru tadi. Otaknya belum mencerna isyarat yang ditujukan Reinhart pada dirinya.
Stephan menyadari rasa tidak suka Reinhart yang ditujukan padanya. Dan untuk menegaskan posisinya, Stephan mengenalkan dirinya langsung pada Reinhart.
“Stephan Franz Winkler. Sahabat Mandy dan sangat berpotensi untuk menjadi lebih dekat di masa mendatang.”  Stephan mengulurkan tangannya dan tersenyum lebar tanpa dosa.
Reinhart menyambut uluran tangan Stephan, laki-laki itu mengenggam tangan pemuda itu dengan kuat.
“Reinhart Heinrich Adams,Ayah dari kandidat pacarmu ini” Reinhart menggeram.
Stephan melongo, tidak menyangka apabila laki-laki yang cukup muda di depannya adalah Ayah Amanda.
Sementara Douglas nyengir, menyembunyikan dan menahan tawanya karena melihat perubahan wajah kedua laki-laki yang baru berkenalan tadi di depannya.Kemudian Douglas itu berpura-pura tidak melihat dan memandang ke arah lain.
“Oh..oh..”
Mandy mengusap keningnya dan mendesah panjang. Mimpi apa gadis itu semalam, dihadapkan pada situasi yang tidak menyenangkan seperti ini.

To be Continued to Chapter 3




Senin, 08 Oktober 2012

Secret Chapter 1



Ringtone Home dari Michael Buble berkumandang dari ponsel Reinhart. Dan laki-laki itu tahu siapa yang menghubunginya, orang itu tidak akan menelpon apabila bukan ada sesuatu yang penting atau mendesak.
“sebentar Gloria, aku angkat telpon dulu” Reinhart berusaha melepaskan pelukan dan ciuman dari gadis yang baru dikenalnya minggu lalu. 
Gadis seksi berdarah latin itu masih belum bisa melepaskan Reinhart, satu tangannya masih bergelayut di pundak Reinhart, kakinya terasa lemas karena ciuman mereka yang begitu panas.
“Reinhart.. abaikan saja..”  rengekan protes keluar dari bibirnya yg bengkak  krn pagutan Reinhart tadi
Laki-laki itu tidak peduli. Tangannya sibuk mencari ponsel yang dia lupa diletakkan di saku jas sebelah mana. Dan akhirnya  ponsel itu ia temukan di saku kiri jas bagian dalam.
“Halo sweetheart. Apa kabar, tumben mengingat diriku yang tua ini”
Gloria melotot, terkejut dengan panggilan sayang yang dikatakan laki-laki itu pada lawan bicaranya di ponsel.
“Ayah.. lama sekali telponnya di angkat. Aku ingin membicarakan sesuatu mengenai tempat tinggalku. Aku tidak ingin tinggal di rumah ini lagi”
Suara gadis itu masih tetap sama, lembut sekaligus tegas. Suara yang begitu ia rindukan dan juga enggan ia dengar.
“Hey.. ada apa Mandy? Apa yang terjadi di rumah, ada yang tidak membuatmu senang atau ada yang menyakitimu?”
“tidak Ayah. Aku hanya ingin mandiri. Aku rasa aku sudah cukup dewasa untuk tinggal sendiri dan bisa menghidupi diriku sendiri”.
“Kau sudah mendapatkan pekerjaan honey? Selamat kalau begitu, tp itu bukan merupakan alasan yang tepat untuk keluar dari rumah kita. Aku sudah berjanji pada Ibumu untuk menghidupimu sampai kau menemukan laki-laki yang tepat untuk kau nikahi.”
“Ayah, aku tidak peduli dengan janji yang kau buat dengan ibu. Ini adalah hidupku, dan aku bebas menentukan apa yang aku inginkan”
Reinhart berusaha berbicara dengan tenang, padahal pikirannya kacau mendengar apa yang dikatakan putrinya. Dan ia tidak menyadari Gloria, gadis yang baru 2 hari menjadi kekasihnya menatapnya dengan marah.
“Reinhart!!! Apa maksudnya ini” Gloria berkata dengan sengit, cukup keras untuk didengar sang gadis yang menelpon dan merusak acara kencannya.
“Siapa itu Ayah, kekasihmu yang baru lagi? Dan omong-omong, kau ada di mana Ayah”
“Oh.. eh itu Gloria, dia salah satu mahasiswa sastra Jerman di kampusku. Ya.. dia baru menjalin hubungan denganku satu minggu. Dan kami sedang berada di kamar tidur hotel” Reinhart tergagap menjawab berondongan pertanyaan putri kesayangannya itu.
“Oh Tuhan… maaf aku menganggu. Ayah, kewarasan otakmu perlu dipertanyakan. Satu bulan dengan 4 gadis yang berbeda, eh? “
“rupanya kau membaca emailku juga.” Reinhart terkekeh pelan, senang dengan kenyataan bahwa Mandy mengingat semua email yang ia tuliskan padanya.
“Kau gila Ayah.. aku tutup telponnya sekarang”
Sambungan telpon ditutup dengan kasar, Reinhart hanya melongo memandang ponselnya. Kemudian laki-laki itu tersadar dengan tatapan penuh kemarahan yang ditujukan kepadanya.
“Reinhart, sekarang jelaskan padaku.. Kau, mempunyai istri dan seorang putri di Jerman?”
“Bagian yang mempunyai istri itu salah” 
“Kalau aku menarik kesimpulan dari pembicaraan tadi, putrimu itu sudah cukup dewasa”
“iya, umurnya 21 tahun. Dan Ia baru lulus dari universitas.”
Gloria ternganga mendengar penyataan Reinhart yang diucapkan laki-laki itu dengan santai.
“21 tahun? Dan kau baru berumur 36 tahun? Kau mendapatkan anak itu ketika berumur 15 tahun? Ini Gila”
“aku rasa tidak Gloria, Aku cukup bertanggung jawab pada saat itu.”
“Sekarang ibunya di mana? Dan perempuan macam apa ia hingga mempertaruhkan masa depannya demi melahirkan anak itu, dan ya ampun… kalau kau berumur 15 tahun kenapa tidak kau minta dia menggugurkan kandungannya saja?”
Mata Reinhart berkilat marah, bibirnya menipis.
“Ibunya adalah  wanita yang sangat aku cintai dan paling terhormat yang pernah aku kenal. Ia meninggal ketika melahirkan Mandy, dan aku jatuh cinta pada bayi itu seketika saat ia di antar perawat untuk kugendong. Dan kata-kata mu cukup sampai disini, kau sudah melanggar privasiku dengan mengatakan hal itu.”
Gloria terdiam, tak percaya kata-kata kasar keluar dari mulut lelaki tampan yang ia harapkan bisa menjadi suaminya itu. Siapa yang tidak menginginkan seorang Reinhart Adams untuk menjadi kekasih atau bahkan suami? Semua gadis normal pasti memimpikan hal itu. Laki-laki berambut coklat kehitaman dan bermata abu-abu tajam, dengan tubuh atletis dan tinggi 187 cm. Dengan kekayaan berlimpah, mempunyai beberapa perusahaan berkelas multinasional dan sedang mengembangkan grup perusahaan nya menjadi perusahaan internasional. Ditambah dengan bonus otak yang lumayan encer, Reinhart mempunyai gelar kesarjanaan hingga PhD dari Columbia University, yang baru ia dapatkan beberapa bulan yang lalu. 
Gloria menggelengkan kepalanya, mencoba mencerna apa yang telah ia dengar.
“Hubungan kita cukup sampai di sini. Kau Gila Reinhart!” 
Gloria dengan cepat merapikan bajunya, mengambil tas tangannya yang tergeletak di lantai kamar hotel mewah berkarpet tebal itu dan langsung keluar dari ruangan itu dengan membanting pintu keras-keras.
Reinhart tersenyum geli menyaksikan kemarahan dan kepergian Gloria dari kamar hotelnya. 
“Astaga.. aku dituduh gila oleh dua orang gadis dalam waktu yang hampir bersamaan”
Kemudian laki-laki itu tertawa terbahak-bahak. Selalu seperti ini yang terjadi, setiap gadis yang mendekatinya pasti akan mundur ketika mereka mengetahui kalau ia telah mempunyai putri yang cukup dewasa dan umurnya tidak berjauhan darinya. Hubungan Reinhart dan gadis-gadis yang mendekatinya selalu putus di tengah jalan dan tidak pernah mencapai sesuatu yang intim, yaitu hingga ke tempat tidur. Semua gadis pasti lari terbirit-birit ketakutan ketika mengetahui hal ini. Tetapi, pikir Reinhart kembali, sebenarnya memang dia tidak berniat menjalin hubungan dengan gadis-gadis itu, ia hanya ingin menguji sampai di mana rasa cinta gadis-gadis itu terhadap dirinya. Dan yang ia temukan memang mereka hanya memuja dan mencintai fisik dan kekayaannya, tidak melihat dari dalam dirinya, pribadinya. Padahal  ada satu hal lagi yang akan ia katakan apabila gadis-gadis itu sedikit bersabar, bahwa Amanda atau Mandy bukanlah anak kandungnya tetapi anak angkatnya. Dan mungkin salah satu gadis itu akan sukarela menjadi istrinya apabila mendengar hal ini, Reinhart tersenyum masam.  
Reinhart mengambil ponselnya kembali, menelpon sekretarisnya agar mengatur jadwal kepulangannya ke Jerman yang begitu tiba-tiba. Laki-laki itu meminta agar sekretarisnya dapat menemukan  segera pesawat carteran yang kosong secepat mungkin. Rasa rindu terasa tak tertahankan lagi, begitu menyesakkan dadanya. Ia  rindu bertemu Mandy..
***
 “Urusan pindah rumah begitu menyebalkan kalau menyangkut hal seperti ini” Amanda Adams atau biasa dipanggil Mandy menggerutu, gadis itu merasa kesulitan meletakkan barang-barang di atas lemari ruang duduk di apartemen barunya.  Tidak mengherankan, dengan tinggi badan 158 cm, dan berat badan sesuai dengan tinggi tubuhnya, gadis itu terlihat sangat mungil. Tubuh mungilnya berusaha menjangkau bagian atas lemari dengan sedikit berjinjit, padahal dia sudah berdiri di atas kursi kecil dan bagian atas lemari itu masih sulit dijangkaunya.
“Apartemen ini didesain untuk orang-orang Jerman bertubuh raksasa, salahku sendiri mewarisi gen Ibu yang berdarah Asia”  Mandy menggerutu kembali, kali ini gerutuan itu berbahasa Indonesia, bahasa Ibunya. 
“Ckckck.. perlu bantuan Nona?”
Suara yang sangat familiar itu mengejutkan Mandy, suara yang impikan dalam malam-malam kesendiriannya di rumah itu, bukan.. rumah itu tidak tepat disebut rumah, tapi kastil kecil yang memiliki 24 kamar.
“A.. Ayah!!!”  Mandy menoleh ke belakang, melihat sosok Ayahnya yang begitu ia rindukan sedang memandang ia dengan senyum geli. Laki-laki itu terlihat begitu tampan dengan setelan jas berwarna abu-abu yang serasi dengan matanya. Kerah kemeja dan dasinya terlihat longgar, menampilkan kesan pemberontak pada laki-laki itu. 
Tiba-tiba Mandy kehilangan keseimbangan, kakinya terpeleset dari kursi kecil yang ia pijak. Tetapi, dengan cepat Reinhart menangkapnya. Tubuh atletisnya menopang Mandy, tangan-tangan kekar Reinhart memeluk pinggang dan pundaknya.  Mandy seketika menahan nafas,karena  rasa kaget hampir terjatuh dan lalu tiba-tiba dalam pelukan kokoh Ayahnya.
“Wah, ini yang disebut mandiri ya gadis kecilku? Aku bertaruh, mengganti lampu bohlam pun pasti kau tak bisa.” Reinhart berbisik lembut di telinga kanan Mandy, menggoda gadis itu.
Dengan cepat, Mandy melepaskan pelukan Reinhart. Nafas gadis itu menjadi tidak teratur dan mukanya merona merah.  
“Ayah, kapan kau tiba di sini, kenapa tidak memberitahuku? Dan omong-omong aku tidak sudi kau remehkan hanya karena tubuhku yang pendek.”
“Apabila aku memberitahumu kalau aku akan segera pulang, aku jamin pasti kau berusaha tidak ingin bertemu denganku bukan?”
Reinhart mengaitkan kedua tangannya di saku celananya, menatap Mandy tajam. Apartemen sederhana terlihat makin kecil karena kehadiran laki-laki itu.
“Bisa dibilang begitu, karena Ayah memaksaku untuk kembali ke rumah. Aku tidak ingin kembali lagi Ayah. Aku sudah mengatakanmu di telpon kemarin kalau aku sudah bisa menghidupi diriku sendiri. Aku ingin mandiri, aku cukup dewasa untuk melakukan hal ini.”
Mandy bersedekap menatap ayahnya, matanya membalas tatapan Reinhart dengan berani.
“Wow..wow..  Mari kita bicarakan pelan-pelan, Sayang. Aku tidak ingin hal seperti ini dibicarakan dengan penuh emosi.”
Reinhart kembali merasa kewalahan menghadapi gadis ini. Bibirnya membentuk seulas senyum, senang karena gadis yang ditinggalkannya untuk mengembangkan bisnisnya sambil melanjutkan pendidikannya di Amerika ternyata tidak berubah, masih tetap penuh semangat seperti ia tinggalkan 3 tahun yang lalu.
“Ayah, dirimu yang memulai dengan meremehkan kemampuanku”
“OK.. aku mengaku salah. Omong-omong kau punya makanan layak makan tidak untukku. Aku sangat lapar setelah penerbangan 10 jam tanpa jeda dari Amerika, dan kau tahu makanan pesawat seperti apa. “
“Aduh.. maaf Ayah. Aku tidak punya, hanya makanan instant yang sementara ini aku punya karena tidak sempat memasak. “
Reinhart nyengir lebar kepada Mandy dan dengan tatapan ‘nah-kan-sudah-kubilang-apa’.
“Salahmu sendiri ayah, tidak memberitahuku sebelumnya” Mandy memberengut
“Ayo kita makan di luar saja. Aku harap kali ini kau mentraktirku, katanya kau sudah mendapat pekerjaan bukan?”
“Ayaah.. gajiku sudah hampir habis untuk membayar sewa apartemen ini untuk 3 bulan ke depan.” Mandy merengek 
Tatapan ‘nah-kan-sudah-kubilang-apa’ kembali dilontarkan Reinhart dengan jahil kepada Mandy.
“Kalau begitu silakan makan di luar sendiri. Aku tidak sanggup mentraktirmu, apalagi mengingat seleramu yang sangat tinggi itu.” Kali ini Mandy benar-benar merasa tersinggung dengan ledekan Ayahnya.
Reinhart tertawa terbahak-bahak. Dengan cepat ia memeluk pundak putrinya dan menyeretnya ke luar apartemen, mencari restoran untuk makan malam. Mandy tentu saja tidak dapat menolak, karena i ia sangat lapar dan bosan dengan makanan siap saji yang terpaksa ia santap selama 3 hari berturut-turut.
***
Restoran tempat makan malam mereka merupakan restoran hotel bintang lima, dengan suasana yang eksklusif yang mewah. Alunan piano berdenting menghibur tamu yang sedang menikmati sajian makanan yang telah mereka pesan. 
“Seperti biasa, selera mu tidak berubah Ayah.” Mandy telah selesai menyantap makan malamnya yang hanya berupa cesar salad. Mandy berusaha menjaga kesehatannya dengan memakan hanya sayuran atau buah pada makan malamnya. Minuman yang ia pesan juga hanya jus jeruk tanpa gula.
“Sedang berdiet sweetheart?” Reinhart mengunyah potongan terakhir tenderloin steaknya, dan merasa heran dengan pilihan menu makan malam putrinya. 
“Tidak, hanya menjaga menjaga kesehatan dengan pola makan. Karena aku akan tinggal sendiri, aku tidak ingin tubuhku gampang terserang penyakit”
Reinhart tersenyum, lalu mengangkat gelas red wine nya, memberi tanda pada Mandy untuk bersulang.
“Selamat untuk pekerjaan baru mu , Mandy…” 
“Terima kasih Ayah.” Mandy tersenyum dan mengangkat gelasnya, kemudian gelas-gelas berdenting pelan.
Beberapa wanita cantik bergaun indah mengerling pada Reinhart, Mandy memperhatikan hal itu dan gadis itu juga tahu kalau Reinhart sangat sadar akan pesona dirinya sebagai laki-laki tampan dan mapan. Tetapi laki-laki itu hanya memasang wajah tenang dan senyum dingin. Mandy menunduk menatap jeans dan cardigan yang ia kenakan walaupun pakaian yang ia kenakan cukup mahal, cardigan dan jeans tetap tidak pantas dengan suasana restoran ini. Tidak heran secara kurang ajar dan terang-terangan wanita-wanita itu memandangnya sebelah mata karena penampilannya saat ini.
“Kenapa Mandy?” Reinhart menyadari perubahan suasana hati  putrinya.
“Aku pasti terlihat aneh dengan pakaian ini di restoran mewah ini” Mandy meringis kecil.
“Aku suka dirimu apa adanya sweetheart. Apapun yang kau kenakan tidak akan mengurangi kecantikanmu.” Reinhart menatap Mandy dengan intens, apa yang ia katakan bukanlah suatu rayuan ataupun basa-basi. Ia menyukai gadis itu, dia mencintainya tanpa syarat, mencintai dengan rasa cinta seorang laki-laki terhadap seorang wanita.  Suatu hal yang ia sembunyikan selama 6 tahun, dan rasa itu selalu ingin ia enyahkan, tapi hingga saat ini perasaan itu bahkan makin  dalam.. dan itu juga membuatnya merasa berdosa. Dan ini juga merupakan hal yang membuat ia meninggalkan Mandy di Jerman untuk mengembangkan perusahaannya  sekaligus melanjutkan pendidikannya di Amerika. Ia ingin membunuh perasaan ini, tapi sia-sia.. Karena buktinya sekarang, ia berada di depan gadis itu dengan perasaan cinta dan rindu yang tak tertahankan. Hanya norma-norma masyarakat yang mengendalikan hasratnya, norma-norma yang membuatnya merasa bersalah. Dan juga rasa takut, takut menghadapi kenyataan apabila Mandy hanya menganggapnya sebagai seorang Ayah, tidak lebih dari itu..
Mandy menyeringai lebar kepada Ayahnya. Di sudut hatinya ia merasa bahagia dengan pujian yang dilontarkan Reinhart, tetapi semua itu ia sembunyikan dibalik seringai konyolnya. Ia masih belum mengerti dengan perasaan apa yang tumbuh di dalam hatinya, karena ia tahu hubungan dirinya dengan Reinhart adalah ayah dan anak, walaupun ia tahu kalau Reinhart bukanlah ayah kandungnya.Dan status dia sebagai anak angkat juga yang medorong ia untuk segera keluar dari rumah itu, walau juga ada faktor-faktor lain yang ia sembunyikan rapat-rapat dari laki-laki itu.
“Ok , kita bicara sekarang Mandy, aku tidak ingin kau keluar dari rumah kita. Aku sudah berjanji bahkan bersumpah pada Ibumu, sesaat sebelum ia melahirkanmu, bahwa aku akan menjagamu baik-baik. Sulit bagiku untuk mengkhianati sumpah itu Mandy.. dan juga kau tahu aku sangat menyayangimu. Hanya dirimu yang aku punya saat ini, yah di samping Nenek Marge. Tapi aku tidak mempunyai kedekatan emosionil dengan beliau, tidak seperti dengan dirimu.” 
Mandy mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir Reinhart, dari awal gadis itu tahu tindakan yang ia lakukan sekarang akan berakhir dengan pernyataan tidak setuju dari ayahnya. 
“Ayah… mohon mengerti keadaanku. Tidak bisakah aku hidup seperti teman-temanku yang lain. Yang sudah bisa menentukan apa yang mereka inginkan, bahkan teman-temanku sudah bisa lepas dari orangtuanya ketika mereka kuliah. Dan sekarang aku sudah mendapatkan pekerjaan, gaji yang kudapat bisa membiayai kehidupanku sehari-hari. Aku sudah cukup bersabar selama 3 tahun Ayah” dengan hati-hati Mandy mengucapkan permohonannya, ia berharap dengan kesopanan dan kesabarannya Ayahnya bisa meloloskan keinginannya.
Reinhart  terdiam, mendengarkan argumen putrinya. Ia mengerti dengan semua keinginan putrinya dan ia tahu itu masuk akal. Tetapi, laki-laki itu merasa tidak bisa menerima kenyataan bahwa Mandy akan lepas dari pengawasannya, terlebih lagi memikirkan kemungkinan besar Mandy akan mempunyai kekasih. Mandy, kekasihnya dan apartemen..  Reinhart memejamkan matanya..
“Mandy.. aku mengerti apa yang kau inginkan. Tetapi melepaskanmu begitu saja seperti ini sangat sulit bagiku. Bertahun-tahun kau berada di dalam pengawasanku, dan secara tiba-tiba kau meminta untuk tinggal sendiri.” Reinhart berbohong, menutupi alasan sebenarnya yang takut ia akui.
Mandy menghela nafas panjang
“Ayah, kepergianmu ke Amerika 3 tahun terakhir sudah bisa membuktikan paling tidak aku bisa mandiri tanpamu. Walau memang masih ada nenek Marge yang mengawasiku. Apakah Ayah menerima laporan kalau aku tidak menjadi anak yang kau banggakan selama ini, tidak bukan?” Mandy sedikit bergetar ketika bibirnya mengucapkan nama wanita yang disebutnya nenek itu, kilasan rasa sakit berkelebat di benaknya.
Mata tajam Reinhart mengamati Mandy, ia tahu ada yang salah.. ada yang tidak benar dibalik keputusan Mandy untuk keluar dari rumah.
“Sepertinya ada yang kau sembunyikan sweetheart?”
Selintas Mandy terlihat gugup dan sedikit panik karena pertanyaan Reinhart yang begitu frontal. Mandy tak mengira kalau dirinya begitu mudah terbaca.
“Tidak ada apa-apa Ayah. Mohon hormati keinginanku,walau kau tidak ijinkan juga aku akan tetap keluar dari rumah.”  Dalam hati Mandy mengumpati kecerobohannya. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk lebih berhati-hati karena kalau tidak semuanya akan terbongkar.
Reinhart hanya menatap Mandy, ia tahu kalau gadis itu berbohong. Tapi Reinhart tidak berkeinginan mengkonfrontir Mandy dengan pertanyaan-pertanyaan lagi. Cukup, ia akan mencari tahu sendiri.
Reinhart masih diam, tangannya memainkan gelas red wine. Mengguncang pelan isi gelas itu hingga beriak kecil sambil menatap Mandy. Mencoba memutuskan sikap yang akan ia ambil. Mandy menggigit bibirnya dan berdoa di dalam hati.
“OK honey… kau boleh tinggal di apartemen itu selama 3 bulan karena kau sudah membayar untuk 3 bulan ke depan. Ini bentuk penghargaanku pada mu. Tetapi apabila terjadi sesuatu yang tidak diharapkan, kau harus kembali ke rumah. Dan omong-omong, aku memutuskan untuk menetap di sini kembali, untuk memantau keadaan dirimu, cabang perusahaan di Amerika akan aku serahkan pada Doug. “
“Ayah.. kau kembali menetap di sini?” 
“3 tahun waktu yang cukup panjang, Mandy. Atau kau memang tidak ingin melihat ayahmu yang tua ini lagi” Reinhart menggoda Mandy kembali.
Mandy tertawa kecil mendengar betapa hiperbola nya kata-kata Reinhart. Tua? Mandy tidak pernah menganggap Reinhart seperti itu.
“Ayo kita pulang, aku akan mengantarmu ke sarang kecilmu itu. Aku tadi langsung ke apartemenmu begitu sampai di Bandara, aku belum pulang ke rumah.” Reinhart beranjak dari kursinya, dan mengulurkan tangannya untuk menggandeng Mandy. Mandy tersenyum dan menggamit lengan Reinhart. 
***
Di depan pintu apartemennya, Mandy menaikkan alisnya dan tersenyum lebar. Ia memberi tanda pada Reinhart untuk sedikit menunduk.
“Oh iya Ayah, terima kasih untuk pengertiannya. Dan welcome home…” Mandy berjinjit mengucapkan terima kasih pada Reinhart, kemudian dengan lembut mengecup pipi laki-laki itu.
Sapuan bibir Mandy yang begitu lugu dan sederhana itu di pipinya seketika menjungkirbalikkan perasaan Reinhart. Saat itu juga laki-laki itu tahu, perasaannya pada Mandy tak akan bisa tertolong lagi.
-to be continued to chapter 2-