Rabu, 21 November 2012

SECRETS CHAPTER 3



Stephan bertopang dagu, tangannya ia sandarkan di sisi pinggir pintu mobil. Mandy melirik dengan tatapan geli melihat pemuda itu, terlihat Stephan sedang bepikir keras walau ia berpura-pura sedang menikmati pemandangan kota  dari balik jendela taxi. Mereka berdua sedang berada di bagian belakang taxi yang menuju ke apartement Mandy.

“Jadi, laki-laki itu benar-benar ayah angkatmu sedari anak-anak Mandy?”  Stephan melihat gadis itu dengan ujung matanya.

“Yup, bahkan dari aku baru dilahirkan.”

“Aku perkirakan ia masih berumur dibawah 40 tahun. Aku pikir tak mungkin ia mengadopsi dirimu dari umur 19 tahun. Undang-undang tidak memperbolehkan hal itu.”

“Hmmm.. sebetulnya dari bayi ayah angkatku adalah Kakek Frank. Ketika Kakek meninggal, Ayah berumur 27 tahun dan mengambil alih hak perwalian atas diriku. Tetapi bagaimanapun, dia lebih pantas disebut sebagai Ayah daripada Kakek Frank.. karena dia mencurahkan perhatian kepadaku sepenuhnya.”

Stephan menyimak kata-kata yang terlontar dari bibir mungil Mandy, rasa sayang jelas terlihat dari nada suara Mandy ketika ia berbicara tentang Ayahnya dan beberapa saat terdiam.

“Ayahmu sepertinya tidak terlihat asing. Sepertinya aku sering melihat dia… hmm….” Stephan mencoba mengingat wajah laki-laki yang sepertinya tidak asing baginya itu.

Ada jeda kembali di percakapan itu. Mandy hanya tersenyum kecil melihat raut wajah Stephan yang berubah-ubah.

“Sebentar, nama keluarga kalian Adams bukan? Apa mungkin dia Reinhart Adams, pemilik tunggal Adams Corporation?” Stephan tersentak dan menoleh pada Mandy dengan dramatis.

Mandy tertawa kecil melihat reaksi berlebihan Stephan dan mengangguk.

“ Oh astaga, padahal aku mengagumi sosoknya dari majalah-majalah bisnis dan investasi yang rutin aku baca. Hmm, ternyata antara kenyataan dan sosok di media begitu berbeda.” Stephan kembali mengerling pada Mandy.

Mandy tersenyum mendengar kata-kata Stephan “Sebetulnya tidak juga Stephan.. Aku mengerti apa yang kau bicarakan. Ayah adalah seorang yang tenang dan penuh perhitungan,tapi entah kenapa dia tadi sedikit tak bisa mengendalikan dirinya”

“Oh begitukah?”Stephan nyengir  dan sedikit ide nakal bermain di benaknya.

Mandy memperhatikan begitu mempesonanya pemuda ini,  sayang ia terlihat begitu pesolek. Kalau tidak, mungkin Mandy sudah jatuh hati pada Stephan.

Tidak terasa, taxi telah membawa mereka ke depan gedung apartemen Mandy. Dengan sigap, Stephan membayar sang supir dengan tip yang lumayan banyak dan membuka pintu taxi untuk Mandy.

“Stephan, kau tidak perlu mengantarku hingga ke pintu apartemenku. Seharusnya kau cukup menurunkan diriku disini dan melanjutkan perjalanan dengan taxi menuju kantor untuk mengambil mobilmu.”Mandy merasa jengah dengan perlakuan Stephan.

“Oh, jangan sungkan begitu Dear.. memang begini caraku memperlakukan wanita. Apalagi wanita istimewa seperti dirimu.” Stephan membimbing Mandy memasuki gedung apartemennya. Mandy menyapa petugas keamanan yang sedang bertugas malam itu.

Begitu mereka sampai di depan pintu apartemen, Mandy mengeluarkan kunci apartemen dari tas tangannya dan membuka pintu.

“Terima kasih untuk malam yang menyenangkan Stephan” Mandy mendongak dan tersenyum tulus pada Stephan, pemuda yang malam ini ia nobatkan sebagai  sahabat pertamanya di kantor .

“Aku menanti  kesempatan berikutnya untuk lebih dekat denganmu” Stephan tersenyum dan mengerling pada Mandy.  Pemuda itu kemudian mengecup pipi Mandy sebagai tanda perpisahan dan memeluk tubuh mungil Mandy erat

Ketika sedang memeluk Mandy, tanpa sengaja Stephan melihat sosok yang keluar dari lift yang dikenalinya sebagai Reinhart sedang berjalan menuju ke arah mereka. Tiba-tiba pemuda itu menunduk kembali dan secepat kilat mengecup pipi dekat bagian samping bibir gadis itu.

“Tahan sebentar Mandy… ada sesuatu yang perlu kupastikan.” bisik Stephan lembut

“Apa maksudmu..” Mandy berbisik bingung, tetapi kata-katanya diputuskan oleh jemari Stephan yang 
menyentuh lembut bibirnya, memberi tanda untuk diam.

Dalam beberapa detik keheningan yang canggung dan membingungkan Mandy, suara yang ia kenal sebagai suara Ayahnya memecahkan suasana yang ganjil itu.

“Maaf..”  Reinhart berdeham mencoba memisahkan kedua orang yang sedang dimabuk cinta di dalam pandangannya saat ini.

Dengan cepat, Mandy melepaskan pelukan dan ciuman palsu Stephan dan berbalik untuk menyapa Ayahnya.

“Ayah.. ada apa? Ada sesuatu yang terlupa?” Mandy tersenyum gugup, hatinya berdebar kencang karena takut melihat reaksi Reinhart.

Tetapi Reinhart hanya tersenyum lembut kepada Mandy “Tidak, hanya ingin memberitahumu kalau besok kita sekeluarga akan makan siang di rumah.”

Reinhart melirik tajam kepada Stephan, memperingatkan pemuda itu kalau dia tidak menyukai apa yang ia lakukan tadi terhadap Mandy.

“Aku akan datang Ayah. Omong-omong, kalau sekedar mengatakan hal itu Ayah bisa menelpon atau mengirim pesan singkat bukan?”

Reinhart tertawa kecil “Oh, seharusnya iya. Tapi aku masih sangat merindukan untuk bertemu denganmu gadis kecilku”

Reinhart memeluk dan mencium puncak kepala Mandy, sementara matanya menatap Stephan dengan marah.
Stephan yang mulai mengerti apa yang telah terjadi hanya membalas tatapan Reinhart dengan santai.

“Sampai besok, sweetheart. Kau bisa mengajak pemuda ini sebagai partner, apabila tentunya ia berkenan.” Reinhart melepaskan pelukannya  dan mengibarkan bendera tantangan kepada Stephan.

“Terima kasih Sir untuk undangannya. Saya akan pastikan besok akan datang bersama Mandy.” Stephan tersenyum, menyambut tantangan Reinhart.

Reinhart menatap Stephan tajam, menilai semua aspek yang ada pada pemuda itu apakah pantas bersanding dengan Mandy.

“OK,  aku menantikan kehadiran kalian berdua pukul 11 siang. Ini acara keluarga, bukan acara resmi. Selamat malam.”  Reinhart berbalik dan pergi dengan  langkah cepat menuju lift.

Mandy dan Stephan memandang kepergian Reinhart dalam diam. Setelah sosok Reinhart menghilang, Mandy mendelik marah pada Stephan.

“Apa-apaan tadi ? Jelaskan maksudmu apa, kau sengaja melakukan hal itu karena kau tahu ada Ayahku kan?”

“Hei.. be calm dear. Aku mengakui aku punya maksud terselubung dari apa yang kulakukan tadi. Tapi maaf, aku tidak bisa memberitahukan padamu sekarang. Tunggu saja, suatu saat kau akan tahu alasannya  dan akan berterimakasih padaku.” Stephan tertawa, pemuda itu menghadapi kemarahan Mandy dengan canda konyolnya.

“Aku tidak ingin Ayah berpikir macam-macam dengan hubungan kita, gara-gara perbuatanmu Ayah pasti mengira kita adalah sepasang kekasih.” Mandy bersedekap dan mencebikkan bibirnya tanda tidak setuju dengan apa yang dilakukan Stephan tadi.

“Kalau dia menganggap kita sebagai sepasang kekasih, apa salahnya Mandy?”

Mandy terdiam, memikirkan apa yang dikatakan Stephan. Kenapa ia begitu takut Ayahnya salah kaprah dengan apa yang terjadi. Merupakan suatu hal yang sangat wajar apabila gadis dewasa mempunyai seorang teman dekat.

“Baiklah, aku tidak mengerti apa maksudmu dibalik semua ini. Tapi aku minta kesalahpahaman ini tidak terjadi lagi.”

Stephan hanya tersenyum lebar mendengar peringatan yang baru dilontarkan oleh Mandy, pemuda itu tidak mengiyakan atau membantah peringatan yang diberikan Mandy. Dengan cepat ia mencium kembali pipi gadis itu dan mengucapkan salam perpisahan.

***

Di dalam mobilnya, Reinhart menyumpahi kecerobohannya dalam bersikap di klub dan tindakannya membuntuti sepasang anak muda itu hingga ke apartemen. Dan hasilnya, ia melihat pameran kemesraan yang begitu memuakkan di matanya

“Huh.. kenapa juga aku masih terpaku disini mengamati apartemen seperti orang bodoh. Sebenarnya apa yang kuharapkan dari kelakuan tololku ini?” Reinhart bersungut-sungut kesal dari balik setir mobilnya.

Kemudian ia melihat Stephan keluar dari gedung apartemen dan menghentikan sebuah taksi. Reinhart mengamati gerak-gerik pemuda itu dan mengakui bahwa pemuda itu sangat menawan dan dengan berat hati mengakui Mandy mempunyai selera yang cukup tinggi. Langkahnya yang anggun, senyuman yang memikat hati, tubuh tinggi yang hanya terpaut paling tidak hanya 2 cm kurang dari tubuhnya sendiri, karir yang bagus di dunia perbankan..  Reinhart telah mengantongi data lengkap pemuda itu. Begitu mengetahui nama lengkap Stephan, Reinhart langsung mencari info mengenainya, dan semua itu dia dapatkan dalam waktu kurang dari 15 menit dari sekretaris pribadi Reinhart.  Reinhart memandangi sosok dirinya dari bayang-bayang kaca mobilnya, dan mengakui dia terlihat semakin tua apabila berhadapan dengan pemuda itu.

***

“Astaga… ternyata kau kaya sekali ya Mandy.”  Stephan bersiul melihat betapa luasnya halaman rumah keluarga Adams. Pemuda itu menyetir mobilnya dan mengira-ngira berapa jauh lagi mereka akan sampai di depan kastil yang baru terlihat atapnya saja.

“Kenapa sih kau mau repot-repot bersusah-payah menjadi karyawan rendahan sebuah bank lokal? Bukankah kau bisa meminta pada Ayahmu suatu jabatan strategis di salah satu perusahaan miliknya?”

“Hei.. aku hanya anak angkat di keluarga itu Stephan sayang. Dan pantang bagiku mengemis pekerjaan pada Ayahku.”  

“Sayang sekali Mandy.. kalau aku jadi dirimu, akan kumanfaatkan sebaik mungkin kesempatan yang ada.” Stephan nyengir dan kata-katanya terlihat nyata bermakna ganda untuk menyindir Mandy.

Sayangnya yang disindir tidak menyadarinya  dan Mandy hanya tertawa geli melihat tampang dramatis Stephan yang sibuk ber oohh-ahhh mengagumi setiap pemandangan yang mereka berdua lewati, dari hutan kecil, sungai-sungai buatan dan akhirnya sebuah taman labyrinth raksasa dan taman bunga yang sangat indah yang menjadi akhir perjalanan mereka menuju rumah keluarga Adams.

Terlihat di pekarangan itu, para pelayan mondar-mandir menyiapkan segala sesuatu untuk keperluan pesta kebun kecil. Sebuah meja makan berukiran indahyang cukup besar dan beberapa kursi telah diletakkan di dekat taman bunga. Tenda berhiaskan tirai putih yang manis juga telah didirikan untuk berteduh apabila matahari semakin terik. Sebuah orchestra kecil juga telah disiapkan untuk menghibur tamu-tamu yang ada.

“Oh la-la… acara keluarga eh? Tidak salahkah?” Stephan melirik Mandy sebelum menghentikan mobilnya.
Reinhart yang menunggu kedatangan Mandy begitu melihat mobil Stephan behenti di depan kastil, laki-laki itu langsung membuka pintu penumpang di sebelah kiri dan menyambut Putri tercintanya dengan pelukan hangat.

“Cantik sekali sayang..” Reinhart memandang Mandy dengan kagum dan memutar tubuh gadis itu. Mandy tertawa riang dalam pelukan Reinhat, gadis itu mengenakan gaun musim panas tidak berlengan berwarna gading selutut. Di kepalanya tersampir topi jerami berhiaskan pita organdi berwarna krem.

Stephan turun dari mobil dan menonton pertunjukan kasih sayang yang dinilainya sedikit berlebihan. Setelah Reinhart puas bercanda dengan Mandy, ia melihat Stephan dan tersenyum ramah.

“Kunci mobilmu bisa serahkan ke petugas valet, Stephan. Selamat datang.”

“Terima kasih Sir.. omong-omong rumah yang sangat indah” Stephan menjabat tangan Reinhart dan memuji keanggunan kastil kecil itu.

“Terima kasih kembali… Aku pinjam gadis cantik ini dulu, anggap saja rumah sendiri.” Reinhart tertawa kecil sambil menggandeng Mandy dan meninggalkan Stephan sendirian.

Stephan heran melihat keramahan Reinhart, sungguh berbeda dengan sikap yang ditunjukkannya kemarin malam.

***

Reinhart membawa Mandy untuk menyapa Nenek Marge. Wanita tua itu sedang duduk di kursi yang diletakkan di bawah sebuah pohon rindang.

“Apa kabar Nek?” Mandy menyapa wanita itu dengan lembut dan tersenyum kaku.

“Sebaik dan sesehat yang kau lihat sekarang, Mandy… dan siapa pemuda yang kau bawa tapi kau tinggalkan sendiri itu?” Marge mengedikkan dagunya pada Stephan yang sedang mengambil limun.

“Hanya seorang teman baik Nek.”

“Oh begitukah? Reinhart, aku harap kau tidak bersikap protektif pada Mandy karena kehadiran pemuda itu.” Marge menyindir halus Reinhart dengan senyum dinginnya.

“Aku juga berharap seperti itu Nek.. tetapi sayang, kadang-kadang otakku tidak bisa berpikir dengan jernih apabila menyangkut gadis kecil kesayanganku ini.”

Reinhart hanya tertawa kecil, merangkul erat Mandy dan menatap gadis itu dengan penuh rasa sayang. Tidak mempedulikan senyum dingin yang dipaksakan Nenek Marge yang sedang melihat mereka dengan pandangan tidak suka. Sedangkan Mandy hanya tersenyum rikuh, bingung menempatkan sikap antara menanggapi limpahan kasih sayang Ayahnya dan tatapan memperingatkan Nenek Marge yang terlihat mengancam di mata Mandy.

“Permisi, aku ambil gadisku kembali.” Stephan menyela pembicaraan keluarga Adams dengan pesonanya, pemuda itu mengulurkan tangannya kepada Mandy sambil tersenyum kepada Reinhart dan Nenek Marge.
Reinhart mengangguk ramah dan melepaskan rangkulannya pada Mandy, sang Ayah berusaha keras memainkan perannya sebagai pemilik rumah dan orangtua yang baik.

Dan tak dinyana, nenek Marge meminta dikenalkan kepada Stephan, ternyata pesona Stephan menyihir wanita tua itu. Mandy tersenyum simpul, telah lama ia tidak melihat wanita itu tertawa senang mendengar pujian yang dilontarkan Stephan dengan gaya perayu ulungnya. Siang itu dipenuhi canda tawa di meja makan, beberapa kolega Reinhart termasuk Douglas yang telah dianggap sebagai keluarga juga diundang. Stephan menjadi bintang saat itu, semua orang takluk akan pesonanya kecuali Reinhart. Sebenarnya Reinhart mengundang Stephan untuk menilai sampai dimana kapasitas pemuda itu apakah pantas menjadi kekasih Mandy. Dan dengan berat hati dan muram, sambil memandang Mandy dan Stephan yang tertawa bahagia saling berbalas lelucon, pemuda itu memang pantas untuk Mandy pikir Reinhart masam.

“Apa yang membebanimu Reinhart? Wajahmu terlihat memikirkan suatu hal yang buruk.” Douglas mengambil tempat di samping atasannya. Mereka telah selesai menyantap makan siang,dan orang-orang membentuk kelompoknya masing-masing dan mengobrol.

Reinhart menggeram muram, matanya masih menatap Mandy dan Stephan yang sedang mengobrol dan tertawa dengan mesra. Mata Douglas mengikuti apa yang ditatap oleh Reinhart dan langsung paham apa yang tengah dipikirkan orang nomor satu di Adams Corporation itu.

“Pemandangan yang indah bukan? Yang laki-laki tampan dan yang perempuan cantik, mereka berdua terlihat sangat bahagia. Sepertinya suara lonceng pernikahan terdengar tidak akan lama lagi.”

Reinhart tidak menanggapi apa yang dikatakan Douglas, laki-laki itu hanya memandang Douglas dari ujung matanya, memperingati CEO nya dengan lirikan tajam

Douglas menyesap cocktailnya, dan bertingkah seolah-olah apa yang ia katakan tidak pernah ia ucapkan. Kemudian laki-laki itu terkekeh pelan.

“Sindrom seorang Ayah yang takut kehilangan gadis kecilnya.”

***

Malam itu Mandy tidak pulang ke apartemennya, ia menginap di rumah keluarga Adams. Mandy memandang interior kamarnya yang mewah,yang sangat berbeda dengan apartemennya yang sederhana dan begitu kecil. Tempat tidur queen-size berkanopi, jendela-jendela raksasa dengan tirai beledu berenda, lampu Kristal mungil yang tergantung di tengah-tengah ruangan, sepasang sofa dan meja cantik berhias bunga segar.. betapa kehidupan mewahnya berubah menjadi kehidupan sederhana. Tetapi Mandy tidak akan pernah menyesali apa yang menjadi keputusannya, ia mencintai kehidupan sederhana tetapi bebas yang dimilikinya sekarang. Tidak ada lagi yang membuat ia takut dan selalu merasa berhutang budi. Mandy menelusuri kain linen berkualitas tinggi yang menutupi tempat tidurnya, gadis itu baru selesai mandi dan mengenakan piyama katun sederhana yang membuat ia semakin terlihat seperti remaja. Kemudian, ketukan lembut terdengar dari pintu kamar dan Mandy yakin itu pasti Ayahnya.

“Masuk saja Ayah, pintunya tidak dikunci.”

Pintu terbuka dengan pelan, dan seraut wajah dengan senyum yang selalu membuat Mandy bahagia itu melongok dari pintu.

“Tok-tok-tok, Tuan Puteri belum tidurkah?”

Mandy tersenyum lebar karena tingkah laku konyol Ayahnya.

“Senang melihatmu di kamar ini Mandy. Seharusnya memang tempatmu di sini, bukan di apartemen kecil yang tidak berselera itu.”

Mandy menjulurkan lidahnya kepada Reinhart

“Jelek-jelek begitu, itu hasil keringatku sendiri Ayah.”

Reinhart terkekeh,laki-laki itu berjalan mendekati Mandy,  mengacak kepala putrinya dengan penuh rasa sayang. Kemudian laki-laki itu duduk di samping Mandy di pinggir tempat tidur berkanopinya.

“Omong-omong, bagaimana dengan Stephan? Apa dia sudah memenangkan hatimu, sweetheart?”

“Tidak Ayah. Kami hanya sekedar teman, dan sepertinya tidak akan lebih dari itu.”

“Benarkah? Aku rasa dia sangat memujamu, dan dia juga laki-laki yang baik, tampan, sopan, dan punya karir yang bagus. Aku rasa banyak gadis patah hati olehnya. Dan jangan sampai menyesal karena menolaknya Mandy… Stephan benar-benar seorang pemuda yang baik.” Reinhart mengerling menggoda Mandy, ingin tahu apakah Mandy memang tidak menyukai Stephan atau hanya malu mengakui perasaannya.

“Oh Ayah, jangan bercanda. Aku tahu dia laki-laki yang sangat baik, mendekati kategori sempurna. Aku pun tersanjung karena dia memberikan perhatian yang lebih padaku. Tapi hubungan kami tidak seperti yang ayah kira, aku menyayangi dan menyukai Stephan seperti seorang saudara laki-laki yang tidak pernah kumiliki. Dan aku merasa aman disampingnya seperti aku dulu berada disampingmu Ayah.”

Reinhart tersentak mendengar apa yang diucapkan Mandy. Matanya tajam menyipit menatap gadis itu.

“Dulu? Jadi bagaimana dengan sekarang Mandy? Kau tidak merasa aman lagi? Kenapa dan jelaskan alasannya. Dan aku tidak ingin dibohongi.”

Wajah Mandy memucat, menyadari betapa ceroboh dirinya. Dan terlambat bagi dirinya untuk meralat kata itu.

“Ah..  aku tidak mengerti Ayah. Aku juga tidak tahu mengapa berkata seperti itu.” Mandy tergagap, jengah dengan tatapan Reinhart yang menguncinya.

“Tolong, jangan bohongi aku Mandy..”

Mandy diam, matanya ia alihkan pada tangannya yang ia letakkan di pangkuannya.Reinhart menatap gadis itu dan merasa iba dengan ketakutan Mandy. Dengan lembut ia meletakkan tangannya di pundak Mandy, membujuk gadis itu agar menatapnya kembali dan berbicara.

“Mandy sayang..”

Mandy masih tidak mau menatap Reinhart merasa bersalah dengan semua yang ia katakana tadi, tiba-tiba pundak gadis itu bergetar dan isakan pelan terdengar dari bibirnya.

“Ayah, maafkan aku. Aku juga tidak mengerti mengapa aku jadi seperti ini. Bukan berarti aku tidak sayang kepadamu.. aku sayang padamu, masih sangat sayang. Tapi, kemarin aku menyadari kau tidak seperti dirimu 3 tahun yang lalu. Ada yang berubah, dan aku juga tidak tahu yang berubah itu dirimu atau diriku. Apa mungkin faktor waktu yang menyebabkan semua ini? Sungguh, aku tidak tahu dan tidak mengerti Ayah.”

Mandy terisak. Dan Reinhart merasa ditampar dengan apa yang dikatakan Mandy. Apakah  perasaan cintanya terhadap Mandy dapat dirasakan juga oleh gadis itu, tetapi gadis itu tidak menyadarinya. Melihat Mandy menangis juga membuat hati Reinhart pedih, dia menyebabkan gadis yang sangat ia cintai ini menumpahkan air matanya dan Reinhart pantang melakukan hal itu. Dengan lembut ia peluk Mandy, lelaki itu meletakkan kepala gadis itu di dadanya. Tetapi Mandy tetap  diam, kedua tangannya berada di samping tubuhnya, tidak mebalas pelukan Reinhart.

“Maaf sweetheart. Maaf.. Aku bersalah dalam hal ini. Aku terus-terusan meninggalkanmu di Jerman sendiri. Dan walaupun aku di Jerman sesekali, aku terlalu sibuk dengan bisnisku dan kurang memperhatikanmu 3 tahun terakhir ini. Mungkin ini membuat kita sedikit merasa asing satu sama lain.”

Reinhart membelai rambut Mandy dengan lembut, tetapi hanya isakan yang terdengar. Gadis itu masih belum mau bicara.Reinhart mengecup puncak kepala gadis itu, mencoba meredakan isakan yang menghancurkan hatinya. Tiba-tiba Mandy membalas memeluk Reinhart dengan erat, seolah meminta maaf juga dan tidak ingin kehilangan Reinhart.

“Jangan tinggalkan aku lagi Ayah. Aku selalu sendiri di rumah ini, dan itu menyakitkan..”

Akhirnya Mandy mengatakan sesuatu yang ia sembunyikan dari dulu. Perasaan kehilangan akan Reinhart, kehilangan cinta dan kasih sayang Ayahnya. Hati Reinhart semakin pedih mendengar kata-kata Mandy, ia mengutuki kebodohannya selama ini bersikap menjaga jarak dengan gadis ini.

“Tidak akan lagi Mandy… Tidak akan pernah. Aku berjanji.”

Reinhart mengecup kening Mandy, mencoba menunjukkan kasih sayangnya, mencoba untuk memperbaiki sedikit apa yang telah di rusaknya. Kemudian Mandy menatap Reinhart, mata gadis itu masih basah,tetapi secercah sinar kebahagiaan ada di sana. Reinhart terhenyak, menyadari betapa berharga gadis ini baginya.

“Aku mencintaimu…” Mandy berbisik pelan dan merengkuh wajah Reinhart, gadis itu menegakkan badannya ,menjangkau laki-laki itu untuk memberi kecupan sayang di kening Reinhart. Tetapi Mandy pada saat itu tidak menyadari, bahwa Reinhart kehilangan kendali dirinya akibat kata-kata cinta yang ia ucapkan. Reinhart merengkuh wajah Mandy, menahan agar Mandy  untuk dapat ia tatap. Laki-laki itu merundukkan wajahnya, mengecup garis rahang mungil gadis itu dengan lembut. Mandy bergetar, tidak mengerti apa yang dilakukan oleh Reinhart karena sangat terasa apa yang ciuman dilakukan Ayahnya tidak seperti biasanya. Tetapi disudut dalam hati kecilnya, Mandy mengakui ia menyukai apa yang mereka lakukan sekarang.
Mulut Reinhart menjelajah wajah Mandy, mengecup kedua matanya yang terpejam, ujung hidungnya, dan kembali menelusuri garis rahang satunya. Dan semakin lama, kecupan itu semakin mendekati  bibir mungil gadis itu. Pikiran Mandy menjerit memperingatkan apa yang akan terjadi apabila ia membiarkan apa yang dilakukan Reinhart, tetapi hati kecilnya tetap ingin membiarkan hal ini. Bibir Reinhart akhirnya menyentuh bibir Mandy, ciuman itu selembut kelopak mawar tetapi seketika membuat bel peringatan di otak Mandy berdering nyaring.

“Ayah…” Mandy berbisik lemah di bibir Reinhart, mencoba menghentikan apa yang mereka lakukan saat ini.

Satu kata dari Mandy itu menyadarkan Reinhart siapa dirinya dan siapa Mandy. Wajah Reinhart membeku dan tersadar, seolah baru terguyur air es. Dengan cepat ia menarik dirinya dari Mandy.

“Oh Tuhan.. Mandy, maafkan aku.”

Mandy membeku, matanya memandang Reinhart dengan kosong. Shock melanda dirinya dan tidak mengerti dengan apa yang mereka lakukan tadi.

Reinhart mengerjapkan matanya dan menarik nafasnya pelan, kehilangan kata-kata. Dan saat itu Reinhart merasa dirinya begitu hina dan rendah.

- To be Continued-