Stephan bertopang dagu, tangannya ia sandarkan di sisi
pinggir pintu mobil. Mandy melirik dengan tatapan geli melihat pemuda itu,
terlihat Stephan sedang bepikir keras walau ia berpura-pura sedang menikmati
pemandangan kota dari balik jendela
taxi. Mereka berdua sedang berada di bagian belakang taxi yang menuju ke
apartement Mandy.
“Jadi, laki-laki itu benar-benar ayah angkatmu sedari
anak-anak Mandy?” Stephan melihat gadis
itu dengan ujung matanya.
“Yup, bahkan dari aku baru dilahirkan.”
“Aku perkirakan ia masih berumur dibawah 40 tahun. Aku pikir
tak mungkin ia mengadopsi dirimu dari umur 19 tahun. Undang-undang tidak
memperbolehkan hal itu.”
“Hmmm.. sebetulnya dari bayi ayah angkatku adalah Kakek
Frank. Ketika Kakek meninggal, Ayah berumur 27 tahun dan mengambil alih hak
perwalian atas diriku. Tetapi bagaimanapun, dia lebih pantas disebut sebagai
Ayah daripada Kakek Frank.. karena dia mencurahkan perhatian kepadaku
sepenuhnya.”
Stephan menyimak kata-kata yang terlontar dari bibir mungil
Mandy, rasa sayang jelas terlihat dari nada suara Mandy ketika ia berbicara
tentang Ayahnya dan beberapa saat terdiam.
“Ayahmu sepertinya tidak terlihat asing. Sepertinya aku
sering melihat dia… hmm….” Stephan mencoba mengingat wajah laki-laki yang sepertinya
tidak asing baginya itu.
Ada jeda kembali di percakapan itu. Mandy hanya tersenyum
kecil melihat raut wajah Stephan yang berubah-ubah.
“Sebentar, nama keluarga kalian Adams bukan? Apa mungkin dia
Reinhart Adams, pemilik tunggal Adams Corporation?” Stephan tersentak dan
menoleh pada Mandy dengan dramatis.
Mandy tertawa kecil melihat reaksi berlebihan Stephan dan
mengangguk.
“ Oh astaga, padahal aku mengagumi sosoknya dari
majalah-majalah bisnis dan investasi yang rutin aku baca. Hmm, ternyata antara
kenyataan dan sosok di media begitu berbeda.” Stephan kembali mengerling pada
Mandy.
Mandy tersenyum mendengar kata-kata Stephan “Sebetulnya
tidak juga Stephan.. Aku mengerti apa yang kau bicarakan. Ayah adalah seorang
yang tenang dan penuh perhitungan,tapi entah kenapa dia tadi sedikit tak bisa
mengendalikan dirinya”
“Oh begitukah?”Stephan nyengir dan sedikit ide nakal bermain di benaknya.
Mandy memperhatikan begitu mempesonanya pemuda ini, sayang ia terlihat begitu pesolek. Kalau
tidak, mungkin Mandy sudah jatuh hati pada Stephan.
Tidak terasa, taxi telah membawa mereka ke depan gedung
apartemen Mandy. Dengan sigap, Stephan membayar sang supir dengan tip yang
lumayan banyak dan membuka pintu taxi untuk Mandy.
“Stephan, kau tidak perlu mengantarku hingga ke pintu
apartemenku. Seharusnya kau cukup menurunkan diriku disini dan melanjutkan
perjalanan dengan taxi menuju kantor untuk mengambil mobilmu.”Mandy merasa
jengah dengan perlakuan Stephan.
“Oh, jangan sungkan begitu Dear.. memang begini caraku
memperlakukan wanita. Apalagi wanita istimewa seperti dirimu.” Stephan membimbing
Mandy memasuki gedung apartemennya. Mandy menyapa petugas keamanan yang sedang
bertugas malam itu.
Begitu mereka sampai di depan pintu apartemen, Mandy
mengeluarkan kunci apartemen dari tas tangannya dan membuka pintu.
“Terima kasih untuk malam yang menyenangkan Stephan” Mandy
mendongak dan tersenyum tulus pada Stephan, pemuda yang malam ini ia nobatkan
sebagai sahabat pertamanya di kantor .
“Aku menanti
kesempatan berikutnya untuk lebih dekat denganmu” Stephan tersenyum dan
mengerling pada Mandy. Pemuda itu
kemudian mengecup pipi Mandy sebagai tanda perpisahan dan memeluk tubuh mungil
Mandy erat
Ketika sedang memeluk Mandy, tanpa sengaja Stephan melihat sosok
yang keluar dari lift yang dikenalinya sebagai Reinhart sedang berjalan menuju
ke arah mereka. Tiba-tiba pemuda itu menunduk kembali dan secepat kilat
mengecup pipi dekat bagian samping bibir gadis itu.
“Tahan sebentar Mandy… ada sesuatu yang perlu kupastikan.”
bisik Stephan lembut
“Apa maksudmu..” Mandy berbisik bingung, tetapi kata-katanya
diputuskan oleh jemari Stephan yang
menyentuh lembut bibirnya, memberi tanda
untuk diam.
Dalam beberapa detik keheningan yang canggung dan
membingungkan Mandy, suara yang ia kenal sebagai suara Ayahnya memecahkan
suasana yang ganjil itu.
“Maaf..” Reinhart
berdeham mencoba memisahkan kedua orang yang sedang dimabuk cinta di dalam
pandangannya saat ini.
Dengan cepat, Mandy melepaskan pelukan dan ciuman palsu
Stephan dan berbalik untuk menyapa Ayahnya.
“Ayah.. ada apa? Ada sesuatu yang terlupa?” Mandy tersenyum
gugup, hatinya berdebar kencang karena takut melihat reaksi Reinhart.
Tetapi Reinhart hanya tersenyum lembut kepada Mandy “Tidak,
hanya ingin memberitahumu kalau besok kita sekeluarga akan makan siang di rumah.”
Reinhart melirik tajam kepada Stephan, memperingatkan pemuda
itu kalau dia tidak menyukai apa yang ia lakukan tadi terhadap Mandy.
“Aku akan datang Ayah. Omong-omong, kalau sekedar mengatakan
hal itu Ayah bisa menelpon atau mengirim pesan singkat bukan?”
Reinhart tertawa kecil “Oh, seharusnya iya. Tapi aku masih
sangat merindukan untuk bertemu denganmu gadis kecilku”
Reinhart memeluk dan mencium puncak kepala Mandy, sementara
matanya menatap Stephan dengan marah.
Stephan yang mulai mengerti apa yang telah terjadi hanya
membalas tatapan Reinhart dengan santai.
“Sampai besok, sweetheart. Kau bisa mengajak pemuda ini
sebagai partner, apabila tentunya ia berkenan.” Reinhart melepaskan
pelukannya dan mengibarkan bendera
tantangan kepada Stephan.
“Terima kasih Sir untuk undangannya. Saya akan pastikan
besok akan datang bersama Mandy.” Stephan tersenyum, menyambut tantangan
Reinhart.
Reinhart menatap Stephan tajam, menilai semua aspek yang ada
pada pemuda itu apakah pantas bersanding dengan Mandy.
“OK, aku menantikan
kehadiran kalian berdua pukul 11 siang. Ini acara keluarga, bukan acara resmi.
Selamat malam.” Reinhart berbalik dan
pergi dengan langkah cepat menuju lift.
Mandy dan Stephan memandang kepergian Reinhart dalam diam.
Setelah sosok Reinhart menghilang, Mandy mendelik marah pada Stephan.
“Apa-apaan tadi ? Jelaskan maksudmu apa, kau sengaja
melakukan hal itu karena kau tahu ada Ayahku kan?”
“Hei.. be calm dear. Aku mengakui aku punya maksud
terselubung dari apa yang kulakukan tadi. Tapi maaf, aku tidak bisa
memberitahukan padamu sekarang. Tunggu saja, suatu saat kau akan tahu alasannya
dan akan berterimakasih padaku.” Stephan
tertawa, pemuda itu menghadapi kemarahan Mandy dengan canda konyolnya.
“Aku tidak ingin Ayah berpikir macam-macam dengan hubungan
kita, gara-gara perbuatanmu Ayah pasti mengira kita adalah sepasang kekasih.”
Mandy bersedekap dan mencebikkan bibirnya tanda tidak setuju dengan apa yang
dilakukan Stephan tadi.
“Kalau dia menganggap kita sebagai sepasang kekasih, apa
salahnya Mandy?”
Mandy terdiam, memikirkan apa yang dikatakan Stephan. Kenapa
ia begitu takut Ayahnya salah kaprah dengan apa yang terjadi. Merupakan suatu
hal yang sangat wajar apabila gadis dewasa mempunyai seorang teman dekat.
“Baiklah, aku tidak mengerti apa maksudmu dibalik semua ini.
Tapi aku minta kesalahpahaman ini tidak terjadi lagi.”
Stephan hanya tersenyum lebar mendengar peringatan yang baru
dilontarkan oleh Mandy, pemuda itu tidak mengiyakan atau membantah peringatan
yang diberikan Mandy. Dengan cepat ia mencium kembali pipi gadis itu dan
mengucapkan salam perpisahan.
***
Di dalam mobilnya, Reinhart menyumpahi kecerobohannya dalam
bersikap di klub dan tindakannya membuntuti sepasang anak muda itu hingga ke
apartemen. Dan hasilnya, ia melihat pameran kemesraan yang begitu memuakkan di
matanya
“Huh.. kenapa juga aku masih terpaku disini mengamati
apartemen seperti orang bodoh. Sebenarnya apa yang kuharapkan dari kelakuan
tololku ini?” Reinhart bersungut-sungut kesal dari balik setir mobilnya.
Kemudian ia melihat Stephan keluar dari gedung apartemen dan
menghentikan sebuah taksi. Reinhart mengamati gerak-gerik pemuda itu dan
mengakui bahwa pemuda itu sangat menawan dan dengan berat hati mengakui Mandy
mempunyai selera yang cukup tinggi. Langkahnya yang anggun, senyuman yang
memikat hati, tubuh tinggi yang hanya terpaut paling tidak hanya 2 cm kurang
dari tubuhnya sendiri, karir yang bagus di dunia perbankan.. Reinhart telah mengantongi data lengkap pemuda
itu. Begitu mengetahui nama lengkap Stephan, Reinhart langsung mencari info
mengenainya, dan semua itu dia dapatkan dalam waktu kurang dari 15 menit dari
sekretaris pribadi Reinhart. Reinhart
memandangi sosok dirinya dari bayang-bayang kaca mobilnya, dan mengakui dia
terlihat semakin tua apabila berhadapan dengan pemuda itu.
***
“Astaga… ternyata kau kaya sekali ya Mandy.” Stephan bersiul melihat betapa luasnya
halaman rumah keluarga Adams. Pemuda itu menyetir mobilnya dan mengira-ngira
berapa jauh lagi mereka akan sampai di depan kastil yang baru terlihat atapnya
saja.
“Kenapa sih kau mau repot-repot bersusah-payah menjadi
karyawan rendahan sebuah bank lokal? Bukankah kau bisa meminta pada Ayahmu
suatu jabatan strategis di salah satu perusahaan miliknya?”
“Hei.. aku hanya anak angkat di keluarga itu Stephan sayang.
Dan pantang bagiku mengemis pekerjaan pada Ayahku.”
“Sayang sekali Mandy.. kalau aku jadi dirimu, akan
kumanfaatkan sebaik mungkin kesempatan yang ada.” Stephan nyengir dan
kata-katanya terlihat nyata bermakna ganda untuk menyindir Mandy.
Sayangnya yang disindir tidak menyadarinya dan Mandy hanya tertawa geli melihat tampang
dramatis Stephan yang sibuk ber oohh-ahhh mengagumi setiap pemandangan yang
mereka berdua lewati, dari hutan kecil, sungai-sungai buatan dan akhirnya
sebuah taman labyrinth raksasa dan taman bunga yang sangat indah yang menjadi
akhir perjalanan mereka menuju rumah keluarga Adams.
Terlihat di pekarangan itu, para pelayan mondar-mandir
menyiapkan segala sesuatu untuk keperluan pesta kebun kecil. Sebuah meja makan
berukiran indahyang cukup besar dan beberapa kursi telah diletakkan di dekat
taman bunga. Tenda berhiaskan tirai putih yang manis juga telah didirikan untuk
berteduh apabila matahari semakin terik. Sebuah orchestra kecil juga telah
disiapkan untuk menghibur tamu-tamu yang ada.
“Oh la-la… acara keluarga eh? Tidak salahkah?” Stephan
melirik Mandy sebelum menghentikan mobilnya.
Reinhart yang menunggu kedatangan Mandy begitu melihat mobil Stephan behenti di depan kastil, laki-laki itu langsung membuka pintu penumpang di sebelah kiri dan menyambut Putri
tercintanya dengan pelukan hangat.
“Cantik sekali sayang..” Reinhart memandang Mandy dengan
kagum dan memutar tubuh gadis itu. Mandy tertawa riang dalam pelukan Reinhat,
gadis itu mengenakan gaun musim panas tidak berlengan berwarna gading selutut.
Di kepalanya tersampir topi jerami berhiaskan pita organdi berwarna krem.
Stephan turun dari mobil dan menonton pertunjukan kasih
sayang yang dinilainya sedikit berlebihan. Setelah Reinhart puas bercanda
dengan Mandy, ia melihat Stephan dan tersenyum ramah.
“Kunci mobilmu bisa serahkan ke petugas valet, Stephan.
Selamat datang.”
“Terima kasih Sir.. omong-omong rumah yang sangat indah”
Stephan menjabat tangan Reinhart dan memuji keanggunan kastil kecil itu.
“Terima kasih kembali… Aku pinjam gadis cantik ini dulu, anggap
saja rumah sendiri.” Reinhart tertawa kecil sambil menggandeng Mandy dan
meninggalkan Stephan sendirian.
Stephan heran melihat keramahan Reinhart, sungguh berbeda
dengan sikap yang ditunjukkannya kemarin malam.
***
Reinhart membawa Mandy untuk menyapa Nenek Marge. Wanita tua
itu sedang duduk di kursi yang diletakkan di bawah sebuah pohon rindang.
“Apa kabar Nek?” Mandy menyapa wanita itu dengan lembut dan
tersenyum kaku.
“Sebaik dan sesehat yang kau lihat sekarang, Mandy… dan
siapa pemuda yang kau bawa tapi kau tinggalkan sendiri itu?” Marge mengedikkan
dagunya pada Stephan yang sedang mengambil limun.
“Hanya seorang teman baik Nek.”
“Oh begitukah? Reinhart, aku harap kau tidak bersikap
protektif pada Mandy karena kehadiran pemuda itu.” Marge menyindir halus
Reinhart dengan senyum dinginnya.
“Aku juga berharap seperti itu Nek.. tetapi sayang,
kadang-kadang otakku tidak bisa berpikir dengan jernih apabila menyangkut gadis
kecil kesayanganku ini.”
Reinhart hanya tertawa kecil, merangkul erat Mandy dan
menatap gadis itu dengan penuh rasa sayang. Tidak mempedulikan senyum dingin
yang dipaksakan Nenek Marge yang sedang melihat mereka dengan pandangan tidak
suka. Sedangkan Mandy hanya tersenyum rikuh, bingung menempatkan sikap antara
menanggapi limpahan kasih sayang Ayahnya dan tatapan memperingatkan Nenek Marge
yang terlihat mengancam di mata Mandy.
“Permisi, aku ambil gadisku kembali.” Stephan menyela
pembicaraan keluarga Adams dengan pesonanya, pemuda itu mengulurkan tangannya
kepada Mandy sambil tersenyum kepada Reinhart dan Nenek Marge.
Reinhart mengangguk ramah dan melepaskan rangkulannya pada Mandy,
sang Ayah berusaha keras memainkan perannya sebagai pemilik rumah dan orangtua
yang baik.
Dan tak dinyana, nenek Marge meminta dikenalkan kepada
Stephan, ternyata pesona Stephan menyihir wanita tua itu. Mandy tersenyum simpul,
telah lama ia tidak melihat wanita itu tertawa senang mendengar pujian yang
dilontarkan Stephan dengan gaya perayu ulungnya. Siang itu dipenuhi canda tawa
di meja makan, beberapa kolega Reinhart termasuk Douglas yang telah dianggap
sebagai keluarga juga diundang. Stephan menjadi bintang saat itu, semua orang
takluk akan pesonanya kecuali Reinhart. Sebenarnya Reinhart mengundang Stephan
untuk menilai sampai dimana kapasitas pemuda itu apakah pantas menjadi kekasih
Mandy. Dan dengan berat hati dan muram, sambil memandang Mandy dan Stephan yang
tertawa bahagia saling berbalas lelucon, pemuda itu memang pantas untuk Mandy
pikir Reinhart masam.
“Apa yang membebanimu Reinhart? Wajahmu terlihat memikirkan
suatu hal yang buruk.” Douglas mengambil tempat di samping atasannya. Mereka
telah selesai menyantap makan siang,dan orang-orang membentuk kelompoknya
masing-masing dan mengobrol.
Reinhart menggeram muram, matanya masih menatap Mandy dan
Stephan yang sedang mengobrol dan tertawa dengan mesra. Mata Douglas mengikuti
apa yang ditatap oleh Reinhart dan langsung paham apa yang tengah dipikirkan
orang nomor satu di Adams Corporation itu.
“Pemandangan yang indah bukan? Yang laki-laki tampan dan
yang perempuan cantik, mereka berdua terlihat sangat bahagia. Sepertinya suara
lonceng pernikahan terdengar tidak akan lama lagi.”
Reinhart tidak menanggapi apa yang dikatakan Douglas,
laki-laki itu hanya memandang Douglas dari ujung matanya, memperingati CEO nya
dengan lirikan tajam
Douglas menyesap cocktailnya, dan bertingkah seolah-olah apa
yang ia katakan tidak pernah ia ucapkan. Kemudian laki-laki itu terkekeh pelan.
“Sindrom seorang Ayah yang takut kehilangan gadis kecilnya.”
***
Malam itu Mandy tidak pulang ke apartemennya, ia menginap di
rumah keluarga Adams. Mandy memandang interior kamarnya yang mewah,yang sangat
berbeda dengan apartemennya yang sederhana dan begitu kecil. Tempat tidur
queen-size berkanopi, jendela-jendela raksasa dengan tirai beledu berenda,
lampu Kristal mungil yang tergantung di tengah-tengah ruangan, sepasang sofa
dan meja cantik berhias bunga segar.. betapa kehidupan mewahnya berubah menjadi
kehidupan sederhana. Tetapi Mandy tidak akan pernah menyesali apa yang menjadi
keputusannya, ia mencintai kehidupan sederhana tetapi bebas yang dimilikinya
sekarang. Tidak ada lagi yang membuat ia takut dan selalu merasa berhutang
budi. Mandy menelusuri kain linen berkualitas tinggi yang menutupi tempat
tidurnya, gadis itu baru selesai mandi dan mengenakan piyama katun sederhana
yang membuat ia semakin terlihat seperti remaja. Kemudian, ketukan lembut
terdengar dari pintu kamar dan Mandy yakin itu pasti Ayahnya.
“Masuk saja Ayah, pintunya tidak dikunci.”
Pintu terbuka dengan pelan, dan seraut wajah dengan senyum yang selalu membuat Mandy bahagia itu melongok dari pintu.
“Tok-tok-tok, Tuan Puteri belum tidurkah?”
Mandy tersenyum lebar karena tingkah laku konyol Ayahnya.
“Senang melihatmu di kamar ini Mandy. Seharusnya memang tempatmu di sini, bukan di apartemen kecil yang tidak berselera itu.”
Mandy menjulurkan lidahnya kepada Reinhart
“Jelek-jelek begitu, itu hasil keringatku sendiri Ayah.”
Reinhart terkekeh,laki-laki itu berjalan mendekati Mandy, mengacak kepala putrinya dengan penuh rasa sayang. Kemudian laki-laki itu duduk di samping Mandy di pinggir tempat tidur berkanopinya.
“Omong-omong, bagaimana dengan Stephan? Apa dia sudah memenangkan hatimu, sweetheart?”
“Tidak Ayah. Kami hanya sekedar teman, dan sepertinya tidak akan lebih dari itu.”
“Benarkah? Aku rasa dia sangat memujamu, dan dia juga laki-laki yang baik, tampan, sopan, dan punya karir yang bagus. Aku rasa banyak gadis patah hati olehnya. Dan jangan sampai menyesal karena menolaknya Mandy… Stephan benar-benar seorang pemuda yang baik.” Reinhart mengerling menggoda Mandy, ingin tahu apakah Mandy memang tidak menyukai Stephan atau hanya malu mengakui perasaannya.
“Oh Ayah, jangan bercanda. Aku tahu dia laki-laki yang sangat baik, mendekati kategori sempurna. Aku pun tersanjung karena dia memberikan perhatian yang lebih padaku. Tapi hubungan kami tidak seperti yang ayah kira, aku menyayangi dan menyukai Stephan seperti seorang saudara laki-laki yang tidak pernah kumiliki. Dan aku merasa aman disampingnya seperti aku dulu berada disampingmu Ayah.”
Reinhart tersentak mendengar apa yang diucapkan Mandy. Matanya tajam menyipit menatap gadis itu.
“Dulu? Jadi bagaimana dengan sekarang Mandy? Kau tidak merasa aman lagi? Kenapa dan jelaskan alasannya. Dan aku tidak ingin dibohongi.”
Wajah Mandy memucat, menyadari betapa ceroboh dirinya. Dan terlambat bagi dirinya untuk meralat kata itu.
“Ah.. aku tidak mengerti Ayah. Aku juga tidak tahu mengapa berkata seperti itu.” Mandy tergagap, jengah dengan tatapan Reinhart yang menguncinya.
“Tolong, jangan bohongi aku Mandy..”
Mandy diam, matanya ia alihkan pada tangannya yang ia letakkan di pangkuannya.Reinhart menatap gadis itu dan merasa iba dengan ketakutan Mandy. Dengan lembut ia meletakkan tangannya di pundak Mandy, membujuk gadis itu agar menatapnya kembali dan berbicara.
“Mandy sayang..”
Mandy masih tidak mau menatap Reinhart merasa bersalah dengan semua yang ia katakana tadi, tiba-tiba pundak gadis itu bergetar dan isakan pelan terdengar dari bibirnya.
“Ayah, maafkan aku. Aku juga tidak mengerti mengapa aku jadi seperti ini. Bukan berarti aku tidak sayang kepadamu.. aku sayang padamu, masih sangat sayang. Tapi, kemarin aku menyadari kau tidak seperti dirimu 3 tahun yang lalu. Ada yang berubah, dan aku juga tidak tahu yang berubah itu dirimu atau diriku. Apa mungkin faktor waktu yang menyebabkan semua ini? Sungguh, aku tidak tahu dan tidak mengerti Ayah.”
Mandy terisak. Dan Reinhart merasa ditampar dengan apa yang dikatakan Mandy. Apakah perasaan cintanya terhadap Mandy dapat dirasakan juga oleh gadis itu, tetapi gadis itu tidak menyadarinya. Melihat Mandy menangis juga membuat hati Reinhart pedih, dia menyebabkan gadis yang sangat ia cintai ini menumpahkan air matanya dan Reinhart pantang melakukan hal itu. Dengan lembut ia peluk Mandy, lelaki itu meletakkan kepala gadis itu di dadanya. Tetapi Mandy tetap diam, kedua tangannya berada di samping tubuhnya, tidak mebalas pelukan Reinhart.
“Maaf sweetheart. Maaf.. Aku bersalah dalam hal ini. Aku terus-terusan meninggalkanmu di Jerman sendiri. Dan walaupun aku di Jerman sesekali, aku terlalu sibuk dengan bisnisku dan kurang memperhatikanmu 3 tahun terakhir ini. Mungkin ini membuat kita sedikit merasa asing satu sama lain.”
Reinhart membelai rambut Mandy dengan lembut, tetapi hanya
isakan yang terdengar. Gadis itu masih belum mau bicara.Reinhart mengecup
puncak kepala gadis itu, mencoba meredakan isakan yang menghancurkan hatinya.
Tiba-tiba Mandy membalas memeluk Reinhart dengan erat, seolah meminta maaf juga
dan tidak ingin kehilangan Reinhart.
“Jangan tinggalkan aku lagi Ayah. Aku selalu sendiri di rumah ini, dan itu menyakitkan..”
Akhirnya Mandy mengatakan sesuatu yang ia sembunyikan dari dulu. Perasaan kehilangan akan Reinhart, kehilangan cinta dan kasih sayang Ayahnya. Hati Reinhart semakin pedih mendengar kata-kata Mandy, ia mengutuki kebodohannya selama ini bersikap menjaga jarak dengan gadis ini.
“Tidak akan lagi Mandy… Tidak akan pernah. Aku berjanji.”
Reinhart mengecup kening Mandy, mencoba menunjukkan kasih sayangnya, mencoba untuk memperbaiki sedikit apa yang telah di rusaknya. Kemudian Mandy menatap Reinhart, mata gadis itu masih basah,tetapi secercah sinar kebahagiaan ada di sana. Reinhart terhenyak, menyadari betapa berharga gadis ini baginya.
“Aku mencintaimu…” Mandy berbisik pelan dan merengkuh wajah Reinhart, gadis itu menegakkan badannya ,menjangkau laki-laki itu untuk memberi kecupan sayang di kening Reinhart. Tetapi Mandy pada saat itu tidak menyadari, bahwa Reinhart kehilangan kendali dirinya akibat kata-kata cinta yang ia ucapkan. Reinhart merengkuh wajah Mandy, menahan agar Mandy untuk dapat ia tatap. Laki-laki itu merundukkan wajahnya, mengecup garis rahang mungil gadis itu dengan lembut. Mandy bergetar, tidak mengerti apa yang dilakukan oleh Reinhart karena sangat terasa apa yang ciuman dilakukan Ayahnya tidak seperti biasanya. Tetapi disudut dalam hati kecilnya, Mandy mengakui ia menyukai apa yang mereka lakukan sekarang.
Mulut Reinhart menjelajah wajah Mandy, mengecup kedua
matanya yang terpejam, ujung hidungnya, dan kembali menelusuri garis rahang
satunya. Dan semakin lama, kecupan itu semakin mendekati bibir mungil gadis itu. Pikiran Mandy
menjerit memperingatkan apa yang akan terjadi apabila ia membiarkan apa yang
dilakukan Reinhart, tetapi hati kecilnya tetap ingin membiarkan hal ini. Bibir
Reinhart akhirnya menyentuh bibir Mandy, ciuman itu selembut kelopak mawar
tetapi seketika membuat bel peringatan di otak Mandy berdering nyaring.
“Ayah…” Mandy berbisik lemah di bibir Reinhart, mencoba menghentikan apa yang mereka lakukan saat ini.
Satu kata dari Mandy itu menyadarkan Reinhart siapa dirinya dan siapa Mandy. Wajah Reinhart membeku dan tersadar, seolah baru terguyur air es. Dengan cepat ia menarik dirinya dari Mandy.
“Oh Tuhan.. Mandy, maafkan aku.”
Mandy membeku, matanya memandang Reinhart dengan kosong. Shock melanda dirinya dan tidak mengerti dengan apa yang mereka lakukan tadi.
Reinhart mengerjapkan matanya dan menarik nafasnya pelan, kehilangan kata-kata. Dan saat itu Reinhart merasa dirinya begitu hina dan rendah.
- To be Continued-