Ringtone Home dari Michael Buble berkumandang dari ponsel
Reinhart. Dan laki-laki itu tahu siapa yang menghubunginya, orang itu tidak
akan menelpon apabila bukan ada sesuatu yang penting atau mendesak.
“sebentar Gloria, aku angkat telpon dulu” Reinhart berusaha
melepaskan pelukan dan ciuman dari gadis yang baru dikenalnya minggu lalu.
Gadis seksi berdarah latin itu masih belum bisa melepaskan Reinhart,
satu tangannya masih bergelayut di pundak Reinhart, kakinya terasa lemas karena
ciuman mereka yang begitu panas.
“Reinhart.. abaikan saja..”
rengekan protes keluar dari bibirnya yg bengkak krn pagutan Reinhart tadi
Laki-laki itu tidak peduli. Tangannya sibuk mencari ponsel
yang dia lupa diletakkan di saku jas sebelah mana. Dan akhirnya ponsel itu ia temukan di saku kiri jas bagian
dalam.
“Halo sweetheart. Apa kabar, tumben mengingat diriku yang
tua ini”
Gloria melotot, terkejut dengan panggilan sayang yang
dikatakan laki-laki itu pada lawan bicaranya di ponsel.
“Ayah.. lama sekali telponnya di angkat. Aku ingin
membicarakan sesuatu mengenai tempat tinggalku. Aku tidak ingin tinggal di
rumah ini lagi”
Suara gadis itu masih tetap sama, lembut sekaligus tegas.
Suara yang begitu ia rindukan dan juga enggan ia dengar.
“Hey.. ada apa Mandy? Apa yang terjadi di rumah, ada yang
tidak membuatmu senang atau ada yang menyakitimu?”
“tidak Ayah. Aku hanya ingin mandiri. Aku rasa aku sudah
cukup dewasa untuk tinggal sendiri dan bisa menghidupi diriku sendiri”.
“Kau sudah mendapatkan pekerjaan honey? Selamat kalau
begitu, tp itu bukan merupakan alasan yang tepat untuk keluar dari rumah kita.
Aku sudah berjanji pada Ibumu untuk menghidupimu sampai kau menemukan laki-laki
yang tepat untuk kau nikahi.”
“Ayah, aku tidak peduli dengan janji yang kau buat dengan
ibu. Ini adalah hidupku, dan aku bebas menentukan apa yang aku inginkan”
Reinhart berusaha berbicara dengan tenang, padahal
pikirannya kacau mendengar apa yang dikatakan putrinya. Dan ia tidak menyadari
Gloria, gadis yang baru 2 hari menjadi kekasihnya menatapnya dengan marah.
“Reinhart!!! Apa maksudnya ini” Gloria berkata dengan
sengit, cukup keras untuk didengar sang gadis yang menelpon dan merusak acara
kencannya.
“Siapa itu Ayah, kekasihmu yang baru lagi? Dan omong-omong,
kau ada di mana Ayah”
“Oh.. eh itu Gloria, dia salah satu mahasiswa sastra Jerman
di kampusku. Ya.. dia baru menjalin hubungan denganku satu minggu. Dan kami
sedang berada di kamar tidur hotel” Reinhart tergagap menjawab berondongan
pertanyaan putri kesayangannya itu.
“Oh Tuhan… maaf aku menganggu. Ayah, kewarasan otakmu perlu
dipertanyakan. Satu bulan dengan 4 gadis yang berbeda, eh? “
“rupanya kau membaca emailku juga.” Reinhart terkekeh pelan,
senang dengan kenyataan bahwa Mandy mengingat semua email yang ia tuliskan
padanya.
“Kau gila Ayah.. aku tutup telponnya sekarang”
Sambungan telpon ditutup dengan kasar, Reinhart hanya
melongo memandang ponselnya. Kemudian laki-laki itu tersadar dengan tatapan
penuh kemarahan yang ditujukan kepadanya.
“Reinhart, sekarang jelaskan padaku.. Kau, mempunyai istri
dan seorang putri di Jerman?”
“Bagian yang mempunyai istri itu salah”
“Kalau aku menarik kesimpulan dari pembicaraan tadi, putrimu
itu sudah cukup dewasa”
“iya, umurnya 21 tahun. Dan Ia baru lulus dari universitas.”
Gloria ternganga mendengar penyataan Reinhart yang diucapkan
laki-laki itu dengan santai.
“21 tahun? Dan kau baru berumur 36 tahun? Kau mendapatkan
anak itu ketika berumur 15 tahun? Ini Gila”
“aku rasa tidak Gloria, Aku cukup bertanggung jawab pada
saat itu.”
“Sekarang ibunya di mana? Dan perempuan macam apa ia hingga
mempertaruhkan masa depannya demi melahirkan anak itu, dan ya ampun… kalau kau
berumur 15 tahun kenapa tidak kau minta dia menggugurkan kandungannya saja?”
Mata Reinhart berkilat marah, bibirnya menipis.
“Ibunya adalah wanita
yang sangat aku cintai dan paling terhormat yang pernah aku kenal. Ia meninggal
ketika melahirkan Mandy, dan aku jatuh cinta pada bayi itu seketika saat ia di
antar perawat untuk kugendong. Dan kata-kata mu cukup sampai disini, kau sudah
melanggar privasiku dengan mengatakan hal itu.”
Gloria terdiam, tak percaya kata-kata kasar keluar dari
mulut lelaki tampan yang ia harapkan bisa menjadi suaminya itu. Siapa yang
tidak menginginkan seorang Reinhart Adams untuk menjadi kekasih atau bahkan
suami? Semua gadis normal pasti memimpikan hal itu. Laki-laki berambut coklat
kehitaman dan bermata abu-abu tajam, dengan tubuh atletis dan tinggi 187 cm. Dengan
kekayaan berlimpah, mempunyai beberapa perusahaan berkelas multinasional dan
sedang mengembangkan grup perusahaan nya menjadi perusahaan internasional.
Ditambah dengan bonus otak yang lumayan encer, Reinhart mempunyai gelar
kesarjanaan hingga PhD dari Columbia University, yang baru ia dapatkan beberapa
bulan yang lalu.
Gloria menggelengkan kepalanya, mencoba mencerna apa yang
telah ia dengar.
“Hubungan kita cukup sampai di sini. Kau Gila Reinhart!”
Gloria dengan cepat merapikan bajunya, mengambil tas
tangannya yang tergeletak di lantai kamar hotel mewah berkarpet tebal itu dan
langsung keluar dari ruangan itu dengan membanting pintu keras-keras.
Reinhart tersenyum geli menyaksikan kemarahan dan kepergian
Gloria dari kamar hotelnya.
“Astaga.. aku dituduh gila oleh dua orang gadis dalam waktu
yang hampir bersamaan”
Kemudian laki-laki itu tertawa terbahak-bahak. Selalu
seperti ini yang terjadi, setiap gadis yang mendekatinya pasti akan mundur
ketika mereka mengetahui kalau ia telah mempunyai putri yang cukup dewasa dan
umurnya tidak berjauhan darinya. Hubungan Reinhart dan gadis-gadis yang
mendekatinya selalu putus di tengah jalan dan tidak pernah mencapai sesuatu
yang intim, yaitu hingga ke tempat tidur. Semua gadis pasti lari terbirit-birit
ketakutan ketika mengetahui hal ini. Tetapi, pikir Reinhart kembali, sebenarnya
memang dia tidak berniat menjalin hubungan dengan gadis-gadis itu, ia hanya
ingin menguji sampai di mana rasa cinta gadis-gadis itu terhadap dirinya. Dan
yang ia temukan memang mereka hanya memuja dan mencintai fisik dan kekayaannya,
tidak melihat dari dalam dirinya, pribadinya. Padahal ada satu hal lagi yang akan ia katakan
apabila gadis-gadis itu sedikit bersabar, bahwa Amanda atau Mandy bukanlah anak
kandungnya tetapi anak angkatnya. Dan mungkin salah satu gadis itu akan
sukarela menjadi istrinya apabila mendengar hal ini, Reinhart tersenyum masam.
Reinhart mengambil ponselnya kembali, menelpon sekretarisnya
agar mengatur jadwal kepulangannya ke Jerman yang begitu tiba-tiba. Laki-laki
itu meminta agar sekretarisnya dapat menemukan
segera pesawat carteran yang kosong secepat mungkin. Rasa rindu terasa
tak tertahankan lagi, begitu menyesakkan dadanya. Ia rindu bertemu Mandy..
***
“Urusan pindah rumah
begitu menyebalkan kalau menyangkut hal seperti ini” Amanda Adams atau biasa
dipanggil Mandy menggerutu, gadis itu merasa kesulitan meletakkan barang-barang
di atas lemari ruang duduk di apartemen barunya. Tidak mengherankan, dengan tinggi badan 158
cm, dan berat badan sesuai dengan tinggi tubuhnya, gadis itu terlihat sangat
mungil. Tubuh mungilnya berusaha menjangkau bagian atas lemari dengan sedikit
berjinjit, padahal dia sudah berdiri di atas kursi kecil dan bagian atas lemari
itu masih sulit dijangkaunya.
“Apartemen ini didesain untuk orang-orang Jerman bertubuh
raksasa, salahku sendiri mewarisi gen Ibu yang berdarah Asia” Mandy menggerutu kembali, kali ini gerutuan
itu berbahasa Indonesia, bahasa Ibunya.
“Ckckck.. perlu bantuan Nona?”
Suara yang sangat familiar itu mengejutkan Mandy, suara yang
impikan dalam malam-malam kesendiriannya di rumah itu, bukan.. rumah itu tidak
tepat disebut rumah, tapi kastil kecil yang memiliki 24 kamar.
“A.. Ayah!!!” Mandy
menoleh ke belakang, melihat sosok Ayahnya yang begitu ia rindukan sedang
memandang ia dengan senyum geli. Laki-laki itu terlihat begitu tampan dengan
setelan jas berwarna abu-abu yang serasi dengan matanya. Kerah kemeja dan
dasinya terlihat longgar, menampilkan kesan pemberontak pada laki-laki itu.
Tiba-tiba Mandy kehilangan keseimbangan, kakinya terpeleset
dari kursi kecil yang ia pijak. Tetapi, dengan cepat Reinhart menangkapnya.
Tubuh atletisnya menopang Mandy, tangan-tangan kekar Reinhart memeluk pinggang
dan pundaknya. Mandy seketika menahan
nafas,karena rasa kaget hampir terjatuh
dan lalu tiba-tiba dalam pelukan kokoh Ayahnya.
“Wah, ini yang disebut mandiri ya gadis kecilku? Aku
bertaruh, mengganti lampu bohlam pun pasti kau tak bisa.” Reinhart berbisik
lembut di telinga kanan Mandy, menggoda gadis itu.
Dengan cepat, Mandy melepaskan pelukan Reinhart. Nafas gadis
itu menjadi tidak teratur dan mukanya merona merah.
“Ayah, kapan kau tiba di sini, kenapa tidak memberitahuku?
Dan omong-omong aku tidak sudi kau remehkan hanya karena tubuhku yang pendek.”
“Apabila aku memberitahumu kalau aku akan segera pulang, aku
jamin pasti kau berusaha tidak ingin bertemu denganku bukan?”
Reinhart mengaitkan kedua tangannya di saku celananya,
menatap Mandy tajam. Apartemen sederhana terlihat makin kecil karena kehadiran
laki-laki itu.
“Bisa dibilang begitu, karena Ayah memaksaku untuk kembali
ke rumah. Aku tidak ingin kembali lagi Ayah. Aku sudah mengatakanmu di telpon kemarin
kalau aku sudah bisa menghidupi diriku sendiri. Aku ingin mandiri, aku cukup
dewasa untuk melakukan hal ini.”
Mandy bersedekap menatap ayahnya, matanya membalas tatapan
Reinhart dengan berani.
“Wow..wow.. Mari kita
bicarakan pelan-pelan, Sayang. Aku tidak ingin hal seperti ini dibicarakan
dengan penuh emosi.”
Reinhart kembali merasa kewalahan menghadapi gadis ini.
Bibirnya membentuk seulas senyum, senang karena gadis yang ditinggalkannya
untuk mengembangkan bisnisnya sambil melanjutkan pendidikannya di Amerika
ternyata tidak berubah, masih tetap penuh semangat seperti ia tinggalkan 3
tahun yang lalu.
“Ayah, dirimu yang memulai dengan meremehkan kemampuanku”
“OK.. aku mengaku salah. Omong-omong kau punya makanan layak
makan tidak untukku. Aku sangat lapar setelah penerbangan 10 jam tanpa jeda
dari Amerika, dan kau tahu makanan pesawat seperti apa. “
“Aduh.. maaf Ayah. Aku tidak punya, hanya makanan instant
yang sementara ini aku punya karena tidak sempat memasak. “
Reinhart nyengir lebar kepada Mandy dan dengan tatapan ‘nah-kan-sudah-kubilang-apa’.
“Salahmu sendiri ayah, tidak memberitahuku sebelumnya” Mandy
memberengut
“Ayo kita makan di luar saja. Aku harap kali ini kau
mentraktirku, katanya kau sudah mendapat pekerjaan bukan?”
“Ayaah.. gajiku sudah hampir habis untuk membayar sewa
apartemen ini untuk 3 bulan ke depan.” Mandy merengek
Tatapan ‘nah-kan-sudah-kubilang-apa’ kembali dilontarkan
Reinhart dengan jahil kepada Mandy.
“Kalau begitu silakan makan di luar sendiri. Aku tidak
sanggup mentraktirmu, apalagi mengingat seleramu yang sangat tinggi itu.” Kali
ini Mandy benar-benar merasa tersinggung dengan ledekan Ayahnya.
Reinhart tertawa terbahak-bahak. Dengan cepat ia memeluk pundak putrinya dan menyeretnya ke luar apartemen, mencari restoran untuk makan
malam. Mandy tentu saja tidak dapat menolak, karena i ia sangat lapar dan bosan
dengan makanan siap saji yang terpaksa ia santap selama 3 hari berturut-turut.
***
Restoran tempat makan malam mereka merupakan restoran hotel
bintang lima, dengan suasana yang eksklusif yang mewah. Alunan piano berdenting
menghibur tamu yang sedang menikmati sajian makanan yang telah mereka pesan.
“Seperti biasa, selera mu tidak berubah Ayah.” Mandy telah
selesai menyantap makan malamnya yang hanya berupa cesar salad. Mandy berusaha
menjaga kesehatannya dengan memakan hanya sayuran atau buah pada makan
malamnya. Minuman yang ia pesan juga hanya jus jeruk tanpa gula.
“Sedang berdiet sweetheart?” Reinhart mengunyah potongan
terakhir tenderloin steaknya, dan merasa heran dengan pilihan menu makan malam
putrinya.
“Tidak, hanya menjaga menjaga kesehatan dengan pola makan.
Karena aku akan tinggal sendiri, aku tidak ingin tubuhku gampang terserang
penyakit”
Reinhart tersenyum, lalu mengangkat gelas red wine nya,
memberi tanda pada Mandy untuk bersulang.
“Selamat untuk pekerjaan baru mu , Mandy…”
“Terima kasih Ayah.” Mandy tersenyum dan mengangkat
gelasnya, kemudian gelas-gelas berdenting pelan.
Beberapa wanita cantik bergaun indah mengerling pada
Reinhart, Mandy memperhatikan hal itu dan gadis itu juga tahu kalau Reinhart
sangat sadar akan pesona dirinya sebagai laki-laki tampan dan mapan. Tetapi
laki-laki itu hanya memasang wajah tenang dan senyum dingin. Mandy menunduk
menatap jeans dan cardigan yang ia kenakan walaupun pakaian yang ia kenakan
cukup mahal, cardigan dan jeans tetap tidak pantas dengan suasana restoran ini.
Tidak heran secara kurang ajar dan terang-terangan wanita-wanita itu
memandangnya sebelah mata karena penampilannya saat ini.
“Kenapa Mandy?” Reinhart menyadari perubahan suasana
hati putrinya.
“Aku pasti terlihat aneh dengan pakaian ini di restoran
mewah ini” Mandy meringis kecil.
“Aku suka dirimu apa adanya sweetheart. Apapun yang kau
kenakan tidak akan mengurangi kecantikanmu.” Reinhart menatap Mandy dengan
intens, apa yang ia katakan bukanlah suatu rayuan ataupun basa-basi. Ia
menyukai gadis itu, dia mencintainya tanpa syarat, mencintai dengan rasa cinta
seorang laki-laki terhadap seorang wanita. Suatu hal yang ia sembunyikan selama 6 tahun,
dan rasa itu selalu ingin ia enyahkan, tapi hingga saat ini perasaan itu bahkan
makin dalam.. dan itu juga membuatnya
merasa berdosa. Dan ini juga merupakan hal yang membuat ia meninggalkan Mandy
di Jerman untuk mengembangkan perusahaannya
sekaligus melanjutkan pendidikannya di Amerika. Ia ingin membunuh
perasaan ini, tapi sia-sia.. Karena buktinya sekarang, ia berada di depan gadis
itu dengan perasaan cinta dan rindu yang tak tertahankan. Hanya norma-norma
masyarakat yang mengendalikan hasratnya, norma-norma yang membuatnya merasa
bersalah. Dan juga rasa takut, takut menghadapi kenyataan apabila Mandy hanya
menganggapnya sebagai seorang Ayah, tidak lebih dari itu..
Mandy menyeringai lebar kepada Ayahnya. Di sudut hatinya ia
merasa bahagia dengan pujian yang dilontarkan Reinhart, tetapi semua itu ia
sembunyikan dibalik seringai konyolnya. Ia masih belum mengerti dengan perasaan
apa yang tumbuh di dalam hatinya, karena ia tahu hubungan dirinya dengan
Reinhart adalah ayah dan anak, walaupun ia tahu kalau Reinhart bukanlah ayah
kandungnya.Dan status dia sebagai anak angkat juga yang medorong ia untuk
segera keluar dari rumah itu, walau juga ada faktor-faktor lain yang ia
sembunyikan rapat-rapat dari laki-laki itu.
“Ok , kita bicara sekarang Mandy, aku tidak ingin kau keluar
dari rumah kita. Aku sudah berjanji bahkan bersumpah pada Ibumu, sesaat sebelum
ia melahirkanmu, bahwa aku akan menjagamu baik-baik. Sulit bagiku untuk
mengkhianati sumpah itu Mandy.. dan juga kau tahu aku sangat menyayangimu.
Hanya dirimu yang aku punya saat ini, yah di samping Nenek Marge. Tapi aku
tidak mempunyai kedekatan emosionil dengan beliau, tidak seperti dengan
dirimu.”
Mandy mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir
Reinhart, dari awal gadis itu tahu tindakan yang ia lakukan sekarang akan
berakhir dengan pernyataan tidak setuju dari ayahnya.
“Ayah… mohon mengerti keadaanku. Tidak bisakah aku hidup
seperti teman-temanku yang lain. Yang sudah bisa menentukan apa yang mereka
inginkan, bahkan teman-temanku sudah bisa lepas dari orangtuanya ketika mereka
kuliah. Dan sekarang aku sudah mendapatkan pekerjaan, gaji yang kudapat bisa
membiayai kehidupanku sehari-hari. Aku sudah cukup bersabar selama 3 tahun
Ayah” dengan hati-hati Mandy mengucapkan permohonannya, ia berharap dengan
kesopanan dan kesabarannya Ayahnya bisa meloloskan keinginannya.
Reinhart terdiam,
mendengarkan argumen putrinya. Ia mengerti dengan semua keinginan putrinya dan
ia tahu itu masuk akal. Tetapi, laki-laki itu merasa tidak bisa menerima
kenyataan bahwa Mandy akan lepas dari pengawasannya, terlebih lagi memikirkan
kemungkinan besar Mandy akan mempunyai kekasih. Mandy, kekasihnya dan
apartemen.. Reinhart memejamkan matanya..
“Mandy.. aku mengerti apa yang kau inginkan. Tetapi
melepaskanmu begitu saja seperti ini sangat sulit bagiku. Bertahun-tahun kau berada
di dalam pengawasanku, dan secara tiba-tiba kau meminta untuk tinggal sendiri.”
Reinhart berbohong, menutupi alasan sebenarnya yang takut ia akui.
Mandy menghela nafas panjang
“Ayah, kepergianmu ke Amerika 3 tahun terakhir sudah bisa
membuktikan paling tidak aku bisa mandiri tanpamu. Walau memang masih ada nenek
Marge yang mengawasiku. Apakah Ayah menerima laporan kalau aku tidak menjadi
anak yang kau banggakan selama ini, tidak bukan?” Mandy sedikit bergetar ketika
bibirnya mengucapkan nama wanita yang disebutnya nenek itu, kilasan rasa sakit
berkelebat di benaknya.
Mata tajam Reinhart mengamati Mandy, ia tahu ada yang salah..
ada yang tidak benar dibalik keputusan Mandy untuk keluar dari rumah.
“Sepertinya ada yang kau sembunyikan sweetheart?”
Selintas Mandy terlihat gugup dan sedikit panik karena
pertanyaan Reinhart yang begitu frontal. Mandy tak mengira kalau dirinya begitu
mudah terbaca.
“Tidak ada apa-apa Ayah. Mohon hormati keinginanku,walau kau
tidak ijinkan juga aku akan tetap keluar dari rumah.” Dalam hati Mandy mengumpati kecerobohannya.
Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk lebih berhati-hati karena kalau tidak
semuanya akan terbongkar.
Reinhart hanya menatap Mandy, ia tahu kalau gadis itu
berbohong. Tapi Reinhart tidak berkeinginan mengkonfrontir Mandy dengan
pertanyaan-pertanyaan lagi. Cukup, ia akan mencari tahu sendiri.
Reinhart masih diam, tangannya memainkan gelas red wine.
Mengguncang pelan isi gelas itu hingga beriak kecil sambil menatap Mandy.
Mencoba memutuskan sikap yang akan ia ambil. Mandy menggigit bibirnya dan
berdoa di dalam hati.
“OK honey… kau boleh tinggal di apartemen itu selama 3 bulan
karena kau sudah membayar untuk 3 bulan ke depan. Ini bentuk penghargaanku pada
mu. Tetapi apabila terjadi sesuatu yang tidak diharapkan, kau harus kembali ke
rumah. Dan omong-omong, aku memutuskan untuk menetap di sini kembali, untuk
memantau keadaan dirimu, cabang perusahaan di Amerika akan aku serahkan pada Doug.
“
“Ayah.. kau kembali menetap di sini?”
“3 tahun waktu yang cukup panjang, Mandy. Atau kau memang
tidak ingin melihat ayahmu yang tua ini lagi” Reinhart menggoda Mandy kembali.
Mandy tertawa kecil mendengar betapa hiperbola nya kata-kata
Reinhart. Tua? Mandy tidak pernah menganggap Reinhart seperti itu.
“Ayo kita pulang, aku akan mengantarmu ke sarang kecilmu itu.
Aku tadi langsung ke apartemenmu begitu sampai di Bandara, aku belum pulang ke
rumah.” Reinhart beranjak dari kursinya, dan mengulurkan tangannya untuk
menggandeng Mandy. Mandy tersenyum dan menggamit lengan Reinhart.
***
Di depan pintu apartemennya, Mandy menaikkan alisnya dan
tersenyum lebar. Ia memberi tanda pada Reinhart untuk sedikit menunduk.
“Oh iya Ayah, terima kasih untuk pengertiannya. Dan welcome
home…” Mandy berjinjit mengucapkan terima kasih pada Reinhart, kemudian dengan
lembut mengecup pipi laki-laki itu.
Sapuan bibir Mandy yang begitu lugu dan sederhana itu di
pipinya seketika menjungkirbalikkan perasaan Reinhart. Saat itu juga laki-laki
itu tahu, perasaannya pada Mandy tak akan bisa tertolong lagi.
-to be continued to chapter 2-
menunggu chapter 2... *penasaran*
BalasHapuswkwkwkwk.. ternyata izet mendeteksi blog gw.. ga nyangka hehehe.pecah telornya jg blog ini
BalasHapusiya.. bs kebetulan gtu ya?? telornya digoreng mak...sedap koq rasanya bwehehe
Hapus~kayanya td gw salah tempat komen ~ hehehee...
BalasHapusrasa2nya.. gw udah jatuh cinta ama sosok reinhart... menggiurkan... :D
ditunggu lanjutannya....
OK mom shizou.... nambah lg satu pens nya reinhart..
Hapusnice ^^
BalasHapusthanks for the appreciation :)
HapusYeeey....aku suka cerita innniii...!
BalasHapusJadi gimana sebenernya hubungan reinhart dan mandy? apa sih yg dilakukan nenek marge?
Jawabannya ada di chapter 2, so momdini, lanjooott...
Jgn lupa aku diinfo ya kalo udah diupdate
hmmm... ga semuanya terungkap di chapter 2.
Hapusklo semuanya terungkap, ga seru dong momsean...
thanksss..
mupeng deh kalo berbau bau pedo gini... terusin ya.. ditunggu apdetnya
BalasHapuswkwkwkwk hidup pedo!!!!
Hapusasiiik,cerita baru dr momdini...lanjuutt
BalasHapusThanks sis Mia udah mampir.. :)
Hapustante din,ini enayyy ikutan komen ahhh mumpung udah baca hihihi,bagus tan lanjutkan ,nanti kalo udah jd chapter2nya kasih tau yaak ^^
BalasHapusmakasih ya nayyy...
Hapuskenafaaah aku br tau blogmu ini mom diiin??koq ga dipublis aja.? Bagus,ceritanya menarik. Ayah dan anak sama2 nyimpen rasa..
BalasHapusaihhhh momdiniiii ayah n anak#melipir ke chapter 2....hihihihihi
BalasHapustema yg sgt terlarang ya sebetulnya heheheh
Hapusprtama kali bwt cerita ini aku pun bingung, ini bs diterima ga oleh yg baca, ternyata bisa.. *menghembuskan nafas lega*
iiiiih suka deh sama papa reinhart hihihiiii.
BalasHapuskyahahahah.... co cwetttt... sukaaa sukaaa
BalasHapusWah wah,berarti Om Reinhart dah mulai fall in love sejak Mandy masih 15 th nie. Trus sepertinya nenek Marge bakal jd batu karang ini...
BalasHapus