Pulang ke rumah.. dan rumah itu tidak akan terasa seperti
rumah apabila tanpa Mandy di sisinya. Reinhart mengendarai mobilnya dengan
muram dan pikirannya tak pernah lepas dari Mandy, dari ciumannya..
Astaga Reinhart.. itu
hanya ciuman sayang biasa, tak akan lebih dari itu. Lagipula sudah biasa bukan
Mandy atau dirimu melakukan itu..
Mobil Renault yang dikendarainya mendekati pintu gerbang
rumahnya, Reinhart memperlambat laju
kendarannya dan menunggu pintu gerbang dibuka secara otomatis oleh Scott, salah
satu petugas keamanan yang bertugas malam itu. Scotts mengenali mobil
majikannya tersebut, laki-laki bertubuh kekar itu keluar dari pos keamanan yang
terletak di samping pintu gerbang untuk menyapa Reinhart.
“Selamat Malam Sir.. kepulangan yang begitu tiba-tiba?”
Scotts menyeringai lebar
Reinhart menurunkan kaca mobil, mengangguk dan balas menyeringai pada laki-laki separuh
baya yang sudah dianggap keluarganya dari balik setir mobil.
“tuan putri membuat sedikit masalah.. tentunya kau sudah
tahu?”
Scotts tersenyum bijak,lalu mengangguk “Miss Mandy anak yang
baik Sir..tidak sedikit pun ia membuat masalah walau seberat apapun keadaan
yang dia hadapi”
“Aku tahu.. “
Pintu gerbang perlahan terbuka, Reinhart melambaikan tangan
kepada Scotts dan mengemudikan mobilnya menuju rumah. Antara pintu gerbang dan
rumah berjarak kurang lebih 3 kilometer, dan jarak sepanjang 3 kilometer itu
terdiri dari hutan dan taman labyrinth. Sebetulnya rumah itu tidak pantas
disebut rumah tapi kastil kecil karena mempunyai 24 kamar dan 1 ballroom yang
cukup untuk menampung 500 orang. Bangunan berrwarna putih itu dibangun pada
awal abad akhir abad 19, termasuk baru untuk standar umur sebuah kastil.
Reinhart memarkir mobil dan memberikan kunci mobil pada salah
satu pelayan. Dengan langkah panjang dan cepat ia menaiki anak tangga, memberi
senyum pada John, sang Kepala pelayan.
“Apa kabar John, omong-omong dimana aku bisa menemui Mrs.
Adams?”
“Baik tuan, Mrs. Adams sedang merajut di ruang baca. Beliau
telah menunggu kedatangan Anda sejak tadi.”
“Terima kasih John” Reinhart menepuk pundak laki-laki tua
itu dan berjalan menuju ruang baca. Nenek Marge adalah nenek tiri Reinhart,
Reinhart tidak mempunyai hubungan darah dengan beliau, hanya sebatas hubungan
karena perkawinan. Kakek Frank yang merupakan kakek kandung Reinhart menikahi
Marge ketika Reinhart berumur 25 tahun, 2 tahun kemudian Kakek Frank meninggal.
Menurut hukum yang berlaku, Nenek Marge tidak mempunyai hak untuk tinggal di
rumah itu, tetapi demi menghormati dan rasa sayangnya kepada kakek Frank,
Reinhart memperbolehkan wanita itu tinggal dan memperlakukannya seperti
keluarga sendiri.
Reinhart mendapati Marge sedang berkonsentrasi pada rajutan
di pangkuannya. Dengan pelan ia menyapa wanita tua itu
“Halo Nek..”
Marge mengangkat wajahnya dan tersenyum dingin melihat sosok
cucu tirinya itu.
“Bagaimana kabarmu di Amerika, Sayang? Dan Apa yang
membuatmu kembali dengan begitu tergesa-gesa seperti ini?”
Tidak ada senyum atau kecupan hangat dalam sapaan mereka.
Marge adalah wanita yang dingin, merasa tabu akan pertunjukkan kasih-sayang
walau itu terjadi di dalam suatu keluarga.
“Ini mengenai Mandy. Apakah nenek tidak mencegah apa yang
dilakukan Mandy?”
“Reinhart, aku rasa itu baik untuknya. Dia sudah cukup dewasa
bukan? Tak selamanya ia tinggal di rumah ini, sayang.”
Reinhart mengamati wajah dingin Marge,ternyata wanita tua
ini tetap tidak berubah. Ia masih tidak menyukai Mandy.
“Aku tetap tidak mengijinkan dia untuk tinggal sendiri. Aku
hanya memberikan waktu percobaan 3 bulan, dan apabila terjadi sesuatu maka dia
harus pulang ke rumah. Mandy selalu akan menjadi anggota keluarga ini”
Reinhart menegaskan keputusannya kepada Marge. Laki-laki itu
secara halus mengingatkan Marge posisi Mandy sebagai anggota keluarga.
Marge memalingkan wajahnya dari Reinhart, mendengus tidak
setuju.
Reinhart bersikap seolah tidak melihat sikap pernyataan
tidak setuju dari Marge. Apapun yang
terjadi, Mandy adalah anggota keluarga ini.Sepertinya Darah Arya yang mengalir
di tubuh Marge begitu kental hingga menghasilkan kesombongan yang cukup
menakutkan.
***
Setelah mandi, berusaha mengendurkan otot-otot tubuhnya yang
tegang akibat jet lag dengan siraman air hangat, Reinhart duduk di sisi kanan
tempat tidurnya, memandang beberapa frame foto kecil yang terletak di atas nakas di samping tempat
tidur. Reinhart mengambil salah satu
frame foto, di foto itu terdapat sosok seorang yang sangat mirip dengan Mandy,
terutama senyum dan matanya. Yang hanya membedakan wajah Mandy sedikit
bernuansa Kaukasus, tentunya pasti berasal dari Ayahnya. Wanita itu bernama
Adinda, Ibu kandung Mandy yang berdarah Indonesia, salah satu alasan yang
membuat Marge membenci Mandy. Adinda
adalah pengasuh Reinhart, wanita itu telah memberikan kasih-sayang layaknya ibu
kandung pada reinhart ketika ia kehilangan kedua orang tua kandungnya pada umur
5 tahun. Dan 10 tahun kemudian, Adinda hamil dan menutup mulutnya rapat-rapat
tentang siapa ayah dari janin yang dikandungnya itu. Kakek Frank sangat marah
pada awalnya mengetahui hal itu, tetapi karena kasih sayangnya terhadap Adinda,
akhirnya hati Frank melembut.
Kilasan detik-detik kelahiran Mandy dan kepergian Adinda
berkelebat di benak Reinhart, jarak waktu 21 tahun masih tidak dapat menghapus
rasa sakit itu. Malam itu kakek Frank tidak ada di rumah, ia sedang dalam
perjalanan bisnisnya. Kelahiran Mandy lebih awal satu minggu di luar perkiraan.
Dan sebelum Adinda di bawa ke ruang operasi, wanita itu meminta agar Reinhart
menjaga bayinya apabila sesuatu yang buruk terjadi pada dirinya. Reinhart sudah bertindak semampunya sebagai
seorang remaja, tetapi tetap saja Adinda tidak tertolong. Tangisnya tumpah saat
itu, dan rasa penyesalan begitu dan kehilangan sosok seorang Ibu sangat
mengahncurkannya. Kalau saja ia lebih cepat membawa Adinda ke rumah sakit..
Tetapi semua rasa itu hilang, begitu ia menggendong Mandy. Kepalan kecil yang
meninju dunia itu dan genggaman kecil
yang kuat pada jarinya menyadarkannya bahwa ada kehidupan baru setelah kepergian
Adinda. Dan Reinhart jatuh sayang pada
bayi itu..
Dan ternyata rasa sayang itu perlahan-lahan berubah menjadi
sesuatu yang tidak ia kira. Rasa yang membuat Reinhart membenci dirinya sendiri
dan ia tau rasa itu membunuhnya pelan-pelan. Tapi di saat bersamaan rasa itu
menghangatkan hatinya yang dingin dan menyinari hidupnya yang begitu
membosankan.
Reinhart meletakkan foto itu kembali ,dan merebahkan dirinya
di atas tempat tidur. Mencoba untuk melupakan perasaan terlarangnya terhadap
Amanda dengan terlelap sejenak.
***
Setelah makan malam dengan Reinhart, Amanda kembali
merapikan apartemennya yang masih terlihat payah. Di sela-sela kesibukannya
membereskan barang-barang, ia memikirkan kembali apa yang terjadi di depan
pintu apartemennya. Mengapa wajah Ayahnya terlihat aneh setelah ciuman selamat
malam itu? Bukankan itu merupakan ritual biasa di antara mereka? Tetapi Mandy
juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri, ada sesuatu yang berbeda dalam
hatinya ketika ia memandang Reinhart, Ayahnya. Apa mungkin karena ia begitu
lama tidak bertemu laki-laki itu? Apa waktu selama 3 tahun bisa merubah hati
seseorang? Sudahlah… Mandy tidak ingin
memikirkan itu lagi. Gadis itu menganggap mungkin hal-hal aneh yang terjadi
karena Reinhart dan dirinya terlalu lelah sehingga memikirkan hal yang
tidak-tidak.
***
Pagi itu, Mandy bangun dengan perasaan senang. Ternyata
makan malam mewah dan bertemu dengan seseorang yang sangat disayanginya di
malam sebelumnya sangat mempengaruhi kualitas tidur, pikir Mandy riang. Mandy
memilih pakaian kerja 3 pieces berwarna hijau lumut muda, dengan syal berwarna
broken white. Pakaian-pakaian yang
dimiliki gadis itu terlihat sederhana tetapi elegan, orang yang mengerti
kualitas akan mengerti bahwa pakaian itu adalah rancangan desainer dengan harga
yang cukup fantastis.
Setelah mandi dan sarapan sederhana, Mandy bergegas menuju
kantornya di Georgstrasse yang terletak di pusat kota Hanover dengan subway.
Mandy merasa sangat beruntung menemukan apartement murah di distrik Mitte,
karena cukup dekat dengan kantornya. Pekerjaannya sebagai akuntan di sebuah
bank devisa lokal sepertinya akan banyak menyita waktu, dan lembur adalah kata wajib dalam
pekerjaannya. Hari ini adalah tepat 2 minggu
ia telah bekerja di kantor ini, suasana di kantor sepertinya cukup
menyenangkan karena lebih dari separuh pegawainya berusia 20-30 tahun. Dan juga
mereka bersikap ramah terhadap Mandy yang terhitung sebagai karyawan termuda.
“Halo Stephan.” Mandy menyapa seorang pemuda tampan pirang,
bertubuh tinggi atletis di lobby. Wajah
Stephan mengingatkan Mandy pada personil boyband Inggris. Stephan Winkler adalah
Manajer Marketing di bank itu.
“Halo Mandy. Seperti biasa, selalu terlihat cantik dan
ceria.” Stephan mengerling pada Mandy.
Mandy tertawa kecil, menganggap kata-kata Stephan hanya
sekedar lip service yang dilontarkan sebagai seorang teman.
Mandy berjalan menuju kubikelnya, tetapi Stephan mengekor
Mandy di belakang gadis itu. Mandy bersikap pura-pura tidak tahu dengan apa
yang dilakukan Stephan. Ia tahu kalau Stephan pasti merayunya mengenai
apartemen yang ditempati Mandy. Beberapa hari yang lalu Stephan menanyakan di
mana ia tinggal, dan ketika ia tahu kalau Mandy menyewa apartemen di distrik
Mitte pemuda itu terus bertanya mengenai keadaan apartemennya.
“Sudah selesai beres-beresnya, my dear?” Stephan bersandar di partisi kubikel
Mandy.
“Lumayan. Sudah terlihat sebagai tempat tinggal” Mandy
mendongak tersenyum pada Stephan sambil mulai menyiapkan bahan-bahan yang harus
ia kerjakan hari ini.
“Hmm.. kalau begitu, aku bersedia diundang ke tempatmu.”
Lagi-lagi Stephan mengerling pada Mandy.
Mata Mandy melebar memandang Stephan, terkejut dengan sikap
terang-terangan pemuda itu.
Melihat reaksi Mandy, Stephan memasang muka kecewa dengan
dramatis.
“Yah, apabila kau keberatan.. paling tidak hang-out denganku
seusai jam kerja nanti. Aku tahu ada klub yang bagus di sekitar sini.”
Mandy terdiam sejenak mempertimbangkan tawaran pemuda itu.
Dan akhirnya ia menyerah dengan rayuan Stephan.
“Oke..”
“Aku tunggu kau di lobby jam 7.” Stephan menyeringai lebar
dan langsung kembali ke ruang kerjanya yang terletak di seberang kubikel Mandy.
Mandy menghela nafas, memutar matanya dan tertawa kecil.
Sungguh, Mandy tidak percaya dengan rayuan Stephan. Seorang pemuda metrosexual
seperti Stephan tertarik padanya? Di hati kecilnya Mandy yakin ada maksud lain
pemuda tampan itu, dan itu bukan tentang ketertarikan lawan jenis. Mandy
menyadari bahwa seharusnya ia bersikap waspada, tetapi ia merasa aman apabila
berdua dengan Stephan.. sama seperti apabila ia berdua dengan Reinhart dulu. Dulu?
Mandy mengerutkan keningnya, merasa aneh dengan pemikirannya sendiri.
***
Seperti yang dijanjikan Stephan, ternyata klub itu memang
cukup trendi. Musik disko terbaru terdengar menggelegar dari speaker-speaker
yang tidak terlihat. Klub itu berdekorasi modern-elektik, dengan lantai dansa
yang cukup besar dan ceruk-ceruk di sekeliling lantai dansa yang digunakan
sebagai ruang duduk yang cukup memberikan privasi bagi pengunjungnya. Mandy terlihat menikmati suasana di klub itu,
gadis itu duduk dengan tenang di salah satu ceruk sambil menyesap sparkling
vodka nya. Sementara Stephan sedang asyik melantai dengan seorang gadis yang
baru dikenalnya.
“Yang benar saja dear, sparkling vodka? ” Stephan menepuk
bahu Mandy dan merengkuh pundak gadis itu.
“Aku bukan tipe yang tahan dengan alkohol” Mandy meringis pada Stephan yang baru kembali
dari lantai dansa.
Tiba-tiba Stephan mengambil gelas vodka yang ada di tangan
Mandy, dan menarik gadis itu ke lantai dansa.
“Terlalu sayang untuk dilewatkan untuk tidak berdansa, Mandy..
“
Stephan meletakkan kedua tangannya di pundak Mandy, sambil
menggoyangkan tubuhnya mengikuti lagu yang dimainkan disk jockey. Pemuda itu
bermaksud menahan Mandy dengan kedua tangannya.
Mandy menatap Stephan bingung, pemuda ini begitu agresif
pikir gadis mungil itu.. dan Mandy tidak merasa risih dengan perbuatan Stephan.
Tapi sudahlah, nikmati
saja semua perhatian pemuda tampan ini padamu Mandy. Dan diriku juga sangat
jarang dapat bersenang-senang seperti ini.. Mandy berbicara pada dirinya sendiri sambil
menatap wajah tampan Stephan.
“Kau tahu Stephan… baru kali ini aku berdisko di sebuah klub malam” Mandy mengikuti gerak tubuh Stephan.
“Kau tahu Stephan… baru kali ini aku berdisko di sebuah klub malam” Mandy mengikuti gerak tubuh Stephan.
Mata Stephan membesar mendengar perkataan yang baru
dikatakan gadis itu
“Mandy darling, kau berasal dari bagian bumi sebelah mana?
Atau mungkin terlalu banyak larangan di keluarga mu? Umurmu sudah 21 tahun kan?
“Yang kau sebutkan sudah mendekati kebenaran” Mandy
tersenyum kecil
“Betapa kolotnya..” Stephan mendecak dan memutar matanya.
Mandy tertawa kecil dan semakin merasa nyaman di pelukan
Stephan. Tubuhnya bergerak mengikuti irama gerakan tubuh pemuda itu. Mereka
berdansa seperti dua orang sahabat lama. Dan sekali lagi Mandy merasa takjub,
betapa pemuda ini dapat membuatnya merasa nyaman. Ia rindu dengan seseorang
yang membuatnya merasa tenang, nyaman, seperti apabila ia berada di dekat
Ayahnya dulu. Tetapi 3 tahun belakangan ini, Mandy merasa ada yang berubah
dari Reinhart, laki-laki yang selama ini
dipanggilnya Ayah itu mulai menjauhinya. Mandy merasa sedih, dan tidak mengerti
apa ada yang salah dengan hubungan mereka selama ini. Dan ketika Ayahnya
memutuskan untuk menetap di Amerika, hidupnya terasa hampa.. karena tidak ada
lagi orang yang membuat gadis itu rindu akan rumah, dan tidak ada lagi
perlindungan serta kenyamanan yang selalu disediakan Reinhart pada Mandy.
Mata Mandy berkilat sedih, dan Stephan seakan mengerti
dengan perubahan suasana hati gadis itu.
“Sudahlah… ayo kita pergi makan malam, kau tidak terlihat
tidak begitu bersemangat”
Stephan menggandeng Mandy keluar dari kerumunan orang-orang
yang sedang asyik melantai berdansa.
Ketika mereka berdua telah berada di dekat meja bar, Stephan
meninggalkan Mandy sebentar untuk pergi menyapa temannya sebentar dan tiba-tiba
lengan Mandy di cekal oleh seseorang.
“Mandy, apa yang kau lakukan di sini?” Reinhart menatap
Mandy tajam.
Laki-laki sedang bersandar di meja bar, masih mengenakan
pakaian kerja berwarna gelap yang membungkus tubuhnya dengan elegan.
“Ayah!!” Mandy sangat terkejut dengan keberadaan Reinhart di
klub malam ini, karena klub ini bukanlah tipe klub yang akan dikunjungi
Reinhart karena rata-rata pengunjungnya adalah mahasiswa dan pekerja muda.
“Aku sedang bersenang-senang dengan temanku. Dan dirimu
Ayah, apa yang kau lakukan di klub malam mahasiswa ini, menggoda mahasiswi lagi?”
Mandy membalas pertanyaan Reinhart dengan telak.
Reinhart nyengir, mempesona Mandy dengan senyumannya yang
sedikit miring.
“Hmm.. seorang kolega
mengajakku kemari. Dia bilang klub ini adalah klub yang paling hip saat
ini.”
“Hei, Reinhart.. kau sudah memesan minuman?”
Seorang laki-laki muda berpenampilan menarik bermata hijau
dan berambut coklat madu tiba-tiba menyapa dan memberikan segelas besar bir
pada Reinhart. Laki-laki itu melihat Mandy dengan tatapan tertarik.
“Siapa ini? Tunggu, biarkan aku menebak. Ini pasti Mandy
yang terkenal itu. Yang membuat Ayahnya kalang-kabut meninggalkan Amerika untuk
menetap di sini kembali.”
Mandy terperangah, memandang laki-laki asing yang sedang
tersenyum lebar padanya. Dengan cepat Mandy mengalihkan tatapannya ke Ayahnya
dengan tatapan menuduh.
Reinhart terlihat salah tingkah, kemudian berdeham mencoba
melegakan tenggorokannya yang sebetulnya tidak gatal sama sekali.
“Ehm, Mandy kenalkan ini Douglas Rutherford. Dia yang akan
menjalankan perusahaan kita di Amerika. Dan Douglas, ini Amanda atau biasa dipanggil
Mandy. Putriku tercinta yang baru menjalani karirnya sebagai seorang analis
kredit perbankan”
Douglas tersenyum jenaka dan mengulurkan tangannya, menjabat
tangan mungil Mandy dengan erat.
“Panggil saja aku Doug.. sayang sekali, mungkin di saat-saat
mendatang kita akan jarang bertemu. Aku tidak menyangka ternyata Reinhart
mempunyai Putri secantik dirimu”
Reinhart melirik tajam dengan cepat ke arah Doug. Berusaha
tidak peduli, tetapi ia terlihat waspada dengan pernyataan Doug tadi.
“Sayang sekali juga Doug.. padahal aku ingin lebih sering
berbicara denganmu.Aku ingin tahu mengenai sepak-terjang Ayah dalam menggoda
perempuan-perempuan di Amerika. Kalau tidak salah Anda tinggal di New York
selama ini kan?” Mandy tersenyum lebar, ia memutuskan menyukai laki-laki dengan
sifat jenaka dan terus-terang itu.
Reinhart tersedak bir yang sedang diminumnya. Matanya
memperingatkan Mandy..
“Oh begitukah Mandy yang diceritakan Ayahmu? Cukup menarik”
Doug nyengir dan memandang Reinhart dengan penuh spekulasi.
“Hmm.. tidak ada hal yang harus kuklarifikasi. Bukan begitu
Doug?” Reinhart berkata dengan suara bercanda dengan sedikit nada mengancam.
Mandy memandang Doug meminta penjelasan
“Maaf Mandy,aku tidak berani.. nasib pekerjaanku tergantung
pada Ayahmu. Sangat sayang melepaskan posisi CEO yang telah lama kuincar sejak
awal berkarir di perusahaannya.”
Doug menyeringai konyol pada Mandy.
Tiba-tiba obrolan mereka yang mulai memanas, terhenti karena
kedatangan Stephan.Laki-laki itu sekonyong-konyongnya merengkuh dan mencium
pipi Mandy.
“Sorry Dear..meninggalkanmu sedikit lama. Tapi kulihat kau
sudah menemukan teman-teman baru.”
Reinhart menatap Stephan dengan penuh waspada, laki-laki itu
dengan terang-terangan tidak menyembunyikan rasa tidak sukanya dengan apa yang
dilakukan Stephan tadi. Kemudian Reinhart menatap Mandy meminta penjelasan
segera.
Mandy terlihat bingung karena apa yang dilakukan Stephan
baru-baru tadi. Otaknya belum mencerna isyarat yang ditujukan Reinhart pada
dirinya.
Stephan menyadari rasa tidak suka Reinhart yang ditujukan
padanya. Dan untuk menegaskan posisinya, Stephan mengenalkan dirinya langsung
pada Reinhart.
“Stephan Franz Winkler. Sahabat Mandy dan sangat berpotensi
untuk menjadi lebih dekat di masa mendatang.” Stephan mengulurkan tangannya dan tersenyum
lebar tanpa dosa.
Reinhart menyambut uluran tangan Stephan, laki-laki itu
mengenggam tangan pemuda itu dengan kuat.
“Reinhart Heinrich Adams,Ayah dari kandidat pacarmu ini”
Reinhart menggeram.
Stephan melongo, tidak menyangka apabila laki-laki yang
cukup muda di depannya adalah Ayah Amanda.
Sementara Douglas nyengir, menyembunyikan dan menahan
tawanya karena melihat perubahan wajah kedua laki-laki yang baru berkenalan
tadi di depannya.Kemudian Douglas itu berpura-pura tidak melihat dan
memandang ke arah lain.
“Oh..oh..”
Mandy mengusap keningnya dan mendesah panjang. Mimpi apa
gadis itu semalam, dihadapkan pada situasi yang tidak menyenangkan seperti ini.
To be Continued to Chapter 3
wakakakak...si ayah mulai cemburu nih
BalasHapussebetulnya kasian dengan posisi Reinhart..tpapa boleh buat, cerita harus seru sis mia...cm bs ngomong ke Reinhart "DL..derita lu." wkwkkw
Hapuswkwkwkwk...yup hrs dibuat menderita dulu ngga asik kalo lurus2 aja
Hapusditunggu chapter 3 nya hihihih
BalasHapussiaaapppp... tp nunggu amunisi dr jeng dian ah.. aka dibwtin risol isi daging asap-telor XD
Hapustante din gk ngasih tau aku udah ada chap2 nya,tapi kereeenn ,kayaknya mandy bakal jd rebutan nih hihi
BalasHapusudah dicolek kok nay, di status FB..:)
Hapusoww reinhart...jd jatuh cintrong dahhh *demen om2 mapan wkwk*... jd inget sm ken migami... luv u reinharttttt
BalasHapuskeknya qta kena daddy log-legs syndrom zeth.. btt, siapa tu ken migami? *lupa*
Hapusarghhhh....makin seru aja nih...adegan memanas gara-gara kehadiran Stephan
BalasHapusStephan mah mank kerjanya doyan manas2in orng sweet :D
HapusAwwww... makin seru nih bu deen... bagus bagusssss.. ditunggu banget ya lanjutannya.. jgn lupa mencolek lagi diriku :D
BalasHapusnanti dicolek di grup ya sannn.. *mmuacchh*
Hapusayo taan lanjutkan,mana chapter3nya hahahaha *dicubit
BalasHapusntar duluuu... ini lg training plus ga ada pembokat. jd super sibuukkk hikhikhik..
HapusDouglas ini tau ya kalo Mandy bukan anak kandungnya Reinheart?
BalasHapusTau Di... so Doug ini salah satu temen akrabnya Reinhart
Hapusting tong !!! pertarungan dimulaiiii
BalasHapuslanjuuuttttttt
iiih...momdini... aku tau-tau ngeliat chap 3, ngga tau kalo chap 2 udah ada dari kapan entah.
BalasHapusntar ya, lanjut dulu ke chap. 3
aih Stephan bangunin singa tidur... Apa yg bikin Nenek Marge ga suka mandy ya ? btw ibu mandy indonesia ? Adinda nama yg indah
BalasHapushahahahahahahahaha,,,, pede bgd sthepan tu... hahahahahahha
BalasHapusJadi kepo siapa gerangan ayahnya Mandy dan apa ♈ªʼnĝ bikin nenek Marge gak suka?
BalasHapus