Reinhart berbaring dan menatap
nanar langit-langit di kamarnya yang sama sekali tidak berpenerangan malam itu.
Lelaki itu sengaja tidak menyalakan semua lampu di kamarnya, sudah menjadi
kebiasaan apabila mempunyai masalah yang ia akan mengurung dirinya beberapa
hari di kamar tidurnya yang gelap. Tetapi sebenarnya ia sangat jarang melakukan hal ini,
terakhir kali adalah sebelum ia
memutuskan untuk melanjutkan studinya ke Amerika sambil mengembangkan
perusahaannya dengan konsekuensi
meninggalkan Mandy selama 3 tahun. Dan di luar perkiraan, keputusan yang
diambilnya 3 tahun yang lalu membuatnya terjebak di dalam situasi ini.
Reinhart mencoba untuk terlelap
tetapi matanya menolak untuk tidur walau hanya sekejap. Tiba-tiba ia teringat
sesuatu dan segera menuju lemari pakaian.Lelaki itu mengeluarkan sebuah kotak
kulit dari laci lemarinya, kemudian duduk di salah satu sofa di sudut ruangan
kamarnya. Reinhart membuka kotak kulit itu dan semua kenangan membanjiri
dirinya. Dengan lembut ia mengeluarkan satu stel baju bayi berwarna pink
rajutan handmade, sebuah cincin stempel kuno dan selembar foto seorang wanita
yang tertawa yang memeluk dirinya di hari kelulusannya di Sekolah Dasar dan
wanita itu sangat mirip dengan Mandy. Reinhart memandang foto itu dengan rasa
rindu yang begitu membuncah di hatinya, wanita itu adalah Adinda, Ibu Mandy.
Wanita yang dianggapnya sebagai seorang Ibu selain Ibu kandungnya sendiri. Reinhart tersenyum ketika ia mengingat betapa
menggemaskannya Mandy ketika mengenakan baju pink itu pertama kali, baju
rajutan itu adalah buatan tangan Adinda yang
dirajut begitu mengetahui bahwa bayi yang dikandungnya berjenis kelamin
perempuan. Dan cincin itu.. Reinhart masih bertanya-tanya cincin milik siapa
itu? Kemungkinan besar adalah milik ayah kandung Mandy, laki-laki tidak
bertanggungjawab yang meninggalkan Adinda ketika mengetahui perempuan itu hamil.
Reinhart menemukan cincin stempel itu di laci lemari milik Adinda setelah
wanita itu meninggal dunia. Tersimpan rapi dan terlihat sangat berharga bagi
Adinda. Reinhart sudah mencoba mencari siapa pemiliknya, tetapi tidak ada
keluarga bangsawan di Jerman mempunya lambang keluarga seperti itu. Kemudian
Reinhart memasukkan semua barang kembali ke kotak kulit dan memutuskan untuk
memberikannya pada Mandy karena memang gadis itu seharusnya yang memilikinya.
Dan juga, pikir Reinhart pedih, ia harus melupakan Mandy.. Melupakan rasa
terlarang itu. Mungkin dengan tidak menyimpan kotak kulit ini dan juga tidak
tinggal di rumah ini akan pelan-pelan meluruhkan perasaan yang tidak pantas
itu.
***
***
Mandy melihat arlojinya, waktu
sudah menunjukkan pukul 9 malam. Ia
menyudahi pekerjaannya dan membereskan berkas-berkas di atas meja kerjanya.
Gadis itu sengaja berlama-lama di kantor
hari ini karena biasanya Stephan selalu mengajaknya hang-out di club
bersama teman-temannya. Tetapi 2 hari
ini Stephan sedang ditugaskan ke luar kota dan Mandy tidak terbiasa untuk
pulang tepat waktu. Dan ia tidak suka menghabiskan waktu sendirian di
apartemennya, karena itu mengingatkan dirinya pada kejadian waktu itu, ketika
ia tidak dapat mengendalikan dirinya dengan membalas ciuman Reinhart, Ayahnya.
Mandy menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir ingatan itu. Dengan cepat ia
membereskan sisa dokumen yang tertinggal, menyampirkan tas kerjanya di pundak
dan meninggalkan kantornya. Tetapi memang ia tidak bisa menghapus kejadian itu
di dalam otaknya, tidak seperti tombol delete pada komputer yang dapat
menghapus semua file dalam sekali klik.
Sosok Reinhart begitu kuat terpatri dalam benak Mandy, dan Mandy harus mengakui
ia sangat merindukan ayahnya. Gadis itu telah sampai di lantai dasar dan menuju
pintu keluar gedung.
“Mandy...” Ia mendengar suara Reinhart memanggilnya. Astaga,
apa ia berkhayal lagi?
Mandy menoleh ke arah suara itu
berasal. Mandy mengerjapkan matanya, dan itu memang Ayahnya. Lelaki itu
sekarang berjalan menuju ke arahnya.
“Ayah..” bisik Mandy pelan.
“Apa kabar gadis kecilku?”
Reinhart berdiri di depan gadis
itu, memandangnya dengan senyum sayang.
Oh Tuhan... Senyum Reinhart
membuat hati Mandy terasa hangat dan juga sakit dalam waktu bersamaan. Gadis
itu tergagap, membalas sapaan Reinhart dengan kikuk.
“Baik Ayah.. bagaimana dengan
dirimu, sehat?”
Astaga... betapa basi
kata-katanya, Mandy mengutuki kekikukannya.
“Wah, tumben-tumbennya kau menanyakan kesehatanku.
Biasanya kita selalu saling melemparkan ejekan
dan sindiran apabila bertegur sapa. Aku sangat terlihat tua ya?”
Reinhart terbahak geli menutupi
kegelisahannya, sesungguhnya yang ingin ia lakukan saat ini adalah merengkuh
Mandy dalam pelukannya.
Kemudian mereka terdiam dalam
beberapa saat yang terasa sangat janggal. Mereka berdua kehilangan kata-kata.
“Ehm.. omong-omong aku mampir ke
sini untuk memberikan ini”, Reinhart memecahkan suasana canggung itu dan
mengangsurkan kotak kulit itu ke tangan Mandy.
“Apa ini?”
“Buka saja, itu milikmu"
Mandy mengeluarkan barang-barang
tersebut dari kotak. Matanya terasa panas ketika ia menggenggam baju bayi itu.
Kemudian ia memandang foto itu, terlihat jelas kebahagiaan Ibunya dan Reinhart
kecil tergambar di sana.
“Cincin,foto itu dan berserta
kotak kulitnya aku temukan di laci Ibumu. Sedangkan baju bayi sengaja aku
simpankan untukmu karena itu buatan tangan Adinda.”
“Tapi aku rasa, Ayah lebih
berhak memiliki foto ini.” Mandy
memberikan foto itu kepada Reinhart.
“Tidak, tidak. Itu milikmu.
Kenangan tentang Ibumu yang aku miliki lebih banyak dan tersimpan rapi di
sini.” , Reinhart mengetukkan jari di kepalanya, tersenyum kecil .
“Baiklah..”, Mandy memasukkan barang-barang
itu ke kotaknya kembali. Kemudian memasukkannya ke dalam tas kerjanya.
“ Nah, aku antar pulang?” Reinhart setengah bertanya.
Mandy menggigit bibirnya bimbang.
“OK.” Gadis itu menjawab pendek.
Dengan lembut, Reinhart
membimbing Mandy dengan menggandeng tanggan gadis itu menuju mobilnya di
pelataran parkir.
“Omong-omong.. dimana Stephan?
Dia tidak mengantarmu pulang?”
“ Stephan sedang bertugas di luar
kota Ayah. Biasanya juga dia menginap di apartemenku saat weekend begini.”
Reinhart menggigit lidahnya,
menahan diri untuk tidak menyumpahi kebodohannya karena tidak bisa menahan
pertanyaan itu keluar dari mulutnya. Ia mengakui sangat penasaran dengan
hubungan antara Stephan dan Mandy. Dan sekarang, hatinya menjadi semakin
tergores dalam karena itu.
“Oh.. begitu.” Reinhart
menanggapi dengan datar menutupi semua rasa sakitnya.
Mandy melirik Reinhart, mencoba
membaca wajah laki-laki itu. Tapi tidak terlihat sedikitpun emosi terlintas di
wajah Reinhart. Dan Mandy mulai bertanya-tanya, apakah kejadian di apartemennya
beberapa hari yang lalu hanya mimpi?
***
Smartphone Reinhart berdering nyaring
mengganggu mimpi erotisnya tentang Mandy dan dirinya.
“Sial..” lelaki itu mengumpat,
tangannya menggapai mencari smartphone yang ia letakkan di nakas sebelah tempat
tidurnya.
“Doug... ada apa pagi-pagi buta
kau menelponku?” Reinhart mengomel dan melirik weker yang masih menunjukkan
waktu pukul 6 pagi.
“Mengenai pengambilalihan itu.
Sungguh Reinhart, kalau kau memintaku untuk menangani semuanya aku sanggup.
Tapi untuk penandatanganan MoU nya, jelas tidak dapat kuwakili.”
“Sial... aku lupa soal itu. Kapan
ceremony MoU nya? Jangan bilang hari ini Doug.”
“Sayangnya itu benar Rein.. tapi
tenang saja, semuanya telah kusiapkan. Kau hanya perlu pergi ke Bandara jam 8
pagi ini dan naik pesawat menuju Stuttgart. Kita bertemu di bandara, ok?”
Reinhart menggeram kesal, suara
Douglas begitu ceria di ujung sana. Tapi dia tidak mengatakan apa-apa.
Laki-laki menutup telpon, mandi air dingin untuk mendinginkan kepalanya dari
semua mimpi panasnya tentang Mandy dan
segera bersiap-siap menuju bandara.
***
Acara penandatanganan MoU
pengambilalihan perusahaan galangan kapal oleh Adams Corporation berlangsung
sukses. Sejumlah media cetak dan elektronik lokal dan internasional meliput
acara tersebut karena perusahaan galangan kapal itu termasuk salah satu
perusahaan galangan kapal terbesar di dunia.
Reinhart memasang wajah dan
senyum bisnisnya. Sungguh, Reinhart mulai merasa pegal karena harus tersenyum
terus dari awal hingga akhir acara. Ditambah banyak media yang mewawancarainya
di konferensi pers, otomatis senyum bisnis itu terus terpasang di wajah
tampannya.
“Douglas, tolong wakili aku
menjawab pertanyaan dari para wartawan. Aku ingin beristirahat.” Reinhart
berbisik pada Doug, lalu memberi isyarat pada wartawan untuk pamit dari
konferensi pers.
“OK.” Douglas nyengir dan
mengambil posisi menggantikan Reinhart.
Reinhart menuju executive rest
room hotel bintang 5 itu. Laki-laki itu duduk menenggelamkan dirinya di salah
satu sofa empuk di ruangan itu dan melonggarkan ikatan dasinya mulai terasa
mencekik lehernya. Kemudian Reinhart menuju wastafel, membasuh wajahnya untuk menyegarkan dirinya. Pada saat itu
terdengar suara-suara aneh di salah satu kamar di dalam toilet itu. Reinhart
mencoba menajamkan telinganya, mencoba menangkap apa yang telah didengarnya.
“Astaga..” Reinhart menggelengkan
kepalanya, ternyata suara yang didengarnya adalah suara orang yang sedang
bercumbu.
Dengan cepat Reinhart mencuci
tangannya, ia memutuskan lebih baik ia beristirahat di kamar hotelnya.
Ketika ia mencuci tangannya,
pintu toilet di belakangnya terbuka. Reinhart melihat dari kaca wastafel dua
orang laki-laki keluar dari toilet itu. Laki-laki yang keluar pertama kali
dikenalinya sebagai salah satu Direktur di perusahaan galangan kapal. Dan yang
satu lagi...
“Oh Tuhan..” Reinhart berbisik.
Stephan, Stephan kekasih Mandy
lelaki kedua yang keluar dari toilet itu. Amarah Reinhart seketika menggelegak,
dia menatap Stephan melalui kaca wastafel, sementara itu Stephan tidak
menyadari tatapan penuh amarah itu dan juga tidak mengetahui keberadaan
Reinhart di ruangan itu. Setelah kedua lelaki itu keluar dari restroom,
Reinhart segera membuntuti Stephan.
Stephan dan partnernya berpisah
di depan kamar hotel dan sekali lagi Reinhart melihat mereka berciuman panas.
Melihat adegan itu, Reinhart merasa mual. Laki-laki itu mual bukan karena ia
homophobia tetapi ia mual dengan kenyataan Mandy telah menjalin hubungan dengan
lelaki biseksual.
Sang partner Stephan telah
meninggalkan kamar hotel Stephan. Reinhart mengawasi lorong hotel dan tidak ada
seorangpun di sana. Laki-laki itu menuju kamar hotel Stephan dan menekan bel
kamar.
“Room service”
“Ya. Tunggu sebentar.” Suara
Stephan terdengar dari dalam kamar.
Kemudian pintu terbuka, seraut
wajah tampan yang dikenal Reinhart sebagai kekasih mandy itu pun terlihat
terkejut melihat sang Ayah.
Dengan cepat, Reinhart menarik
kerah baju Stephan, mendorong lelaki itu ke dalam kamar dan menarik gagang
pintu kamar dan meninju wajah tampan itu.
Stephan terjengkang, bibirnya
terasa asin oleh darah.kemudian dengan terhuyung-huyung ia mencoba bangkit.
Tetapi tangan Reinhart kembali mencengkeram lehernya.
“Jelaskan padaku apa yang terjadi
Stephan. Siapa laki-laki tadi?” Reinhart menggeram kejam, tangannya masih
menarik kerah baju Stephan.
“Kau sudah melihatnya ya?”
Stephan berusaha tenang dan tersenyum walau sedikit tercekik karena kuatnya
genggaman tangan Reinhart di kerah bajunya.
“Aku sudah tahu apa yang kalian
lakukan di rest room.”
“Ah... akhirnya kebohongan ini
harus berakhir. Lelaki itu kekasihku Mr. Adams.”
“Lalu, apa yang kau lakukan
terhadap Mandy? Kau mengkhianatinya? Tahukah Mandy kalau kau biseksual?”
cengkraman Reinhart semakin kuat di leher Stephan.
“Mengkhianati? Biseksual? Tidak,
aku tidak pernah mengkhianatinya. Kami hanya bersahabat,bukan sepasang kekasih
Mr. Adams. Dan aku memang seorang gay. Tolong lepaskan tanganmu..” Stephan
terbatuk-batuk karena tercekik.
Reinhart tersadar dan
melonggarkan cengkramannya. Dia bisa membunuh laki-laki ini saat ini juga.
“Mandy mengatakan kalian sepasang
kekasih.”
“Sebaiknya kau bertanya pada
putrimu langsung, mengapa ia berbohong padamu.”
Perlahan Reinhart melepaskan
tangannya dari leher Stephan. Kemudian ia membersihkan debu yang tidak terlihat
di kerah Stephan.
“Semoga keberuntungan berpihak
padamu Nak.. apabila jawaban Mandy tidak memuaskan hatiku, aku akan membunuhmu.”
Reinhart pergi dari kamar Stephan
dengan langkah-langkah panjang. Meninggalkan Stephan yang masih susah mengambil
nafas. Kemudian, Pemuda tampan itu memandang dirinya sendiri yang tampak
terlihat payah di cermin kamar hotelnya. Pemuda itu mengeluarkan ponselnya dan
mengirim pesan pada Mandy.
Good luck
Mandy... semoga kau beruntung dan bisa menghadapi kemarahan Ayah tersayangmu. Masalah
ini kau selesaikan sendiri tanpa campur tangan dariku. Dan sebaiknya kau tidak
melarikan diri, hadapi semuanya.
***
“Ya Tuhan... apa yang harus aku
lakukan?” Mandy bergumam panik membaca pesan singkat dari Stephan. Gadis itu
tidak dapat berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Kepanikan terlihat jelas di wajah Mandy
seharian. Tetapi ia mencoba tetap profesional dengan menyelesaikan semua
pekerjaannya, sambil mengerjakan pekerjaannya gadis itu memutar otak tentang
apa alasan yang harus ia jelaskan kepada ayahnya.
Hari itu, waktu berjalan sangat lambat
dan sangat menyiksa bagi Mandy. Sedikit-sedikit gadis itu mencuri pandang ke
arlojinya, berharap jam kerja berakhir dan ia ingin segera pulang ke apartemen.
Tetapi ia juga galau, akankan ayahnya menemui dirinya di lobby kantor nanti?
Berjuta pertanyaan dan kalimat bermain di benak Mandy. Dan akhirnya gadis itu
memutuskan dia harus jujur, jujur pada dirinya sendiri dan jujur pada Reinhart
tentang semuanya agar tidak ada yang tersakiti lagi. Tetapi mengenai Nenek
Marge Mandy tidak sanggup berkata jujur pada ayahnya.. terlalu banyak masalah
yang akan muncul apabila ia mengatakan semua tentang Marge pada Reinhart.
***
Tepat yang seperti diperkirakan
Mandy, Reinhart menunggu gadis itu di lobby kantornya. Kemarahan jelas terlihat
di mata Ayahnya. Mandy berusaha terlihat tenang dan tidak mengetahui apa yang
telah terjadi.
“Halo Ayah..” Mandy tersenyum
ceria.
“Halo Mandy.. Aku ingin bicara
padamu” Reinhart segera menggandeng
lengan Mandy dengan kuat, berusaha gadis itu tidak kabur karena ia yakin
Stephan pasti telah memberitahu tentang semua yang telah terjadi di Stuttgart.
“Ayah.. tanganmu terlalu kuat
mencengkeram lenganku.” Mandy meringis
“Oh, maaf sweetheart. Ayo ke
mobilku. Kita pulang ke rumah sekarang.”
Rumah? Seketika Mandy merasa
waspada, apakah yang dimaksud rumah adalah kastil kecil yang dingin itu? Tetapi
Mandy tidak bisa berbuat apa-apa, karena ayahnya telah menyeretnya menuju mobil.
Dan ia tidak ingin mengundang perhatian banyak orang dengan melawan kemauan
Reinhart.
Reinhart membukakan pintu dan
mempersilakan Mandy untuk masuk ke mobil dengan sedikit tergesa. Dan kemudian
laki-laki itu menyusul dan dengan segera menghidupkan mesin. Reinhart
mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Mereka berdua hanya diam
sepanjang perjalanan itu.
Ketika arah perjalanannya dikenal
Mandy sebagai jalan menuju kastil keluarga Adams. Mandy memecahkan kesunyian
dengan berkata sengit pada Reinhart.
“Ayah, tolong antarkan aku ke
apartemenku.”
“Tidak, kau tidak boleh tinggal
di sana lagi. “
“Mengapa?”
“Kau lupa pada perjanjian kita?
Apabila kau membuat masalah, kau harus kembali ke rumah. Dan sekarang kau
jelas-jelas membuat masalah dengan berbohong padaku.”
Mandy diam, kuduknya meremang
mendengar kata-kata Reinhart yang terdengar mengancam di telinganya.
Mobil telah memasuki halaman
kastil. Kemudian Reinhart menghentikan mobil
dan berbicara pada Mandy dengan senyum kejamnya.
“dan sebaiknya kau siapkan alasan
yang benar. Aku ingin mendengarnya langsung darimu nanti. Sekarang, beristirahatlah
dan bersihkan dirimu. Aku tunggu kau di ruangan kerjaku 1 jam lagi Mandy.”
***
Mandy mengetuk pintu ruang kerja
Ayahnya dan suara Reinhart memerintahkannya untuk masuk. Reinhart sedang
memandang perapian, mengamati kayu yang terbakar Laki-laki itu terlihat semakin
menyeramkan sekarang di mata Mandy. Kemudian Reinhart menoleh dan tersenyum
pada Mandy. Dengan kikuk gadis itu membalas senyum Reinhart karena ia tahu
walau Reinhart tersenyum, tetapi matanya sama sekali tidak.
“Langsung ke pokok masalahnya
saja Mandy.. aku ingin tahu alasanmu berbohong mengenai Stephan. Dan aku ingin
itu jawaban yang jujur.” Reinhart berkata dingin, walau bibirnya tersenyum.
“Aku rasa kau sudah tahu Ayah
alasannya. Kau.. Ayahku tetapi kau mencintaiku dengan perasaan cinta yang lain.
Itu tidak benar, tidak normal. Maka aku meminta bantuan Stephan. Mohon jangan
salahkan dia, semua ide ini datang dariku.” Mandy berkata dengan tegas, ia berusaha
tegar dan membuang jauh-jauh semua ketakutannya.
“Itu benar, tapi kita tidak
sedarah Mandy.” Reinhart tersenyum kecil mendengar jawaban Mandy yang telah ia
perkirakan sebelumnya.
“Tapi yang membuatku kecewa adalah
kau.. Kau Putriku yang telah kurawat selama 21 tahun mengkhianatiku dengan
berbohong. Astaga Mandy, apa kau tidak mengenaliku dan memahamiku lagi.. Kalau
memang kau tidak punya perasaan yang sama denganku, aku bisa menerimanya dan
mengerti.”
Mandy terdiam dan tidak berbicara
satu patah kata pun.
“Kau ingin menjauhiku, itu yang
bisa kusimpulkan sekarang. Dan aku terlihat hina dimatamu karena perasaan itu. Apabila
dari awal kau jujur padaku kalau kau memintaku untuk menjauh dan tidak muncul
di hadapanmu lagi, itu pun akan kulakukan.”
Reinhart berjalan mendekati
Mandy, mengelus rambut gadis itu dengan rasa sayang dan juga pedih.
“Besok aku akan kembali ke
Amerika. Semua rencana untuk menetap dan bekerja disini akan kubatalkan. Mengenai
apartemenmu, aku telah membatalkan perjanjian sewanya dengan induk semangmu.
Aku telah membelikanmu apartemen yang jauh lebih layak untukmu, aku harap kau
kerasan tinggal di sana nanti.”
Kemudian laki-laki itu mengecup
puncak kepala Mandy dengan lembut dan membisikkan salam perpisahan.
“ Selamat tinggal gadis
kesayanganku. Ingatlah aku hanya sebagai Ayahmu. Mungkin kita tidak akan
berjumpa dalam waktu yang lama.”
Mandy terdiam, matanya mulai
terasa panas.
“Beristirahatlah malam ini di
kamarmu, besok kita tidak akan bertemu lagi. Aku mengambil penerbangan dini
hari.”
Reinhart berjalan menjauhi Mandy
menuju pintu dan tanpa menoleh pada Mandy.
“Tunggu Ayah... ada yang harus
kukatakan. Aku telah memutuskan untuk jujur pada diriku sendiri dan jujur
padamu.”
Reinhart diam, menunggu kata-kata
selanjutnya dari Mandy.
“Aku tidak tahu perasaan apa yang
ada dihatiku saat ini. Jantungku selalu berdebar bila mendengar suaramu dan melihat dirimu. Aku merasa
bahagia hanya dengan kehadiranmu Ayah. Dan sesungguhnya hanya kau orang yang
selalu kupikirkan...”
“Cukup Mandy...”
Reinhart berbalik dan berjalan
mendekati Mandy.
“Aku takut akan perasaanku ini
Ayah. Takut dengan semua penolakan yang terjadi apabila kita bersama..”
“Cukup..”
Dengan satu sentakan, Reinhart
memeluk gadis itu erat.
“Cukup Mandy. Tidak perlu kau
katakan lagi. Hanya dengan kata-katamu tadi aku sudah mengerti.”, bisik
Reinhart lembut di telinga Mandy.
Kemudian Reinhart merengkuh wajah
Mandy dengan kedua tangannya.
“Tatap mataku Mandy... Aku ingin kau melihat kesungguhanku kalau aku
benar-benar mencintaimu.”
Mandy mendongak, menatap mata
Reinhart dan binar kebahagiaan terlihat jelas di mata laki-laki itu. Mandy belum pernah melihat Reinhart terlihat begitu
bahagia selama hidupnya.
Kemudian gadis itu membelai
dengan lembut rahang kokoh laki-laki itu dengan jemari mungilnya.
“Aku mencintaimu, Reinhart
Heinrich Adams..”
***
To be Continued
Akhirnyaaaa hik hihk nangis bahagia
BalasHapusHadeh tbc nya pas saling ungkap perasaan jd pengen next chapter *reader ngelunjak :D
BalasHapusfinally mandy ngaku juga.... tp mungkin ke depan nya mereka bakalan banyak dapat tentangan dari sana sini
BalasHapusaaaaahhhhh kenapa to be continued Momdiniiiiii nambaaahhhhhhhhhh
BalasHapusidih... nanggung!!
BalasHapuskenapa mimpi erotisnya kaga di gambarin tanteeee... *dkeplak* kwkwkwkwkw
hadeehh ies koplaaak dahhh wkwkkwkw.. ntar ya itu dibwt special extending nya hihihi
Hapuskyaaa...nanggung lagi!!!!
BalasHapuseh kalo mimpi erotisnya g digambarin hmmmm yg nyata tp erotis aj mba xixiixi
Update lagi sesegera mungkin momdin :D
BalasHapusTBC???
BalasHapusKenapa TBC di situ??? Tidaaaaaaaaaaaaak... *lebay
uhuk...uhukkk....#kenatbc
BalasHapus