Jumat, 27 September 2013

SECRETS CHAPTER 5



Reinhart berbaring dan menatap nanar langit-langit di kamarnya yang sama sekali tidak berpenerangan malam itu. Lelaki itu sengaja tidak menyalakan semua lampu di kamarnya, sudah menjadi kebiasaan apabila mempunyai masalah yang ia akan mengurung dirinya beberapa hari di kamar tidurnya yang gelap. Tetapi  sebenarnya ia sangat jarang melakukan hal ini, terakhir kali adalah sebelum  ia memutuskan untuk melanjutkan studinya ke Amerika sambil mengembangkan perusahaannya dengan konsekuensi  meninggalkan Mandy selama 3 tahun. Dan di luar perkiraan, keputusan yang diambilnya 3 tahun yang lalu membuatnya terjebak di dalam situasi ini.

Reinhart mencoba untuk terlelap tetapi matanya menolak untuk tidur walau hanya sekejap. Tiba-tiba ia teringat sesuatu dan segera menuju lemari pakaian.Lelaki itu mengeluarkan sebuah kotak kulit dari laci lemarinya, kemudian duduk di salah satu sofa di sudut ruangan kamarnya. Reinhart membuka kotak kulit itu dan semua kenangan membanjiri dirinya. Dengan lembut ia mengeluarkan satu stel baju bayi berwarna pink rajutan handmade, sebuah cincin stempel kuno dan selembar foto seorang wanita yang tertawa yang memeluk dirinya di hari kelulusannya di Sekolah Dasar dan wanita itu sangat mirip dengan Mandy. Reinhart memandang foto itu dengan rasa rindu yang begitu membuncah di hatinya, wanita itu adalah Adinda, Ibu Mandy. Wanita yang dianggapnya sebagai seorang Ibu selain Ibu kandungnya sendiri.  Reinhart tersenyum ketika ia mengingat betapa menggemaskannya Mandy ketika mengenakan baju pink itu pertama kali, baju rajutan itu adalah buatan tangan Adinda yang  dirajut begitu mengetahui bahwa bayi yang dikandungnya berjenis kelamin perempuan. Dan cincin itu.. Reinhart masih bertanya-tanya cincin milik siapa itu? Kemungkinan besar adalah milik ayah kandung Mandy, laki-laki tidak bertanggungjawab yang meninggalkan Adinda ketika mengetahui perempuan itu hamil. Reinhart menemukan cincin stempel itu di laci lemari milik Adinda setelah wanita itu meninggal dunia. Tersimpan rapi dan terlihat sangat berharga bagi Adinda. Reinhart sudah mencoba mencari siapa pemiliknya, tetapi tidak ada keluarga bangsawan di Jerman mempunya lambang keluarga seperti itu. Kemudian Reinhart memasukkan semua barang kembali ke kotak kulit dan memutuskan untuk memberikannya pada Mandy karena memang gadis itu seharusnya yang memilikinya. Dan juga, pikir Reinhart pedih, ia harus melupakan Mandy.. Melupakan rasa terlarang itu. Mungkin dengan tidak menyimpan kotak kulit ini dan juga tidak tinggal di rumah ini akan pelan-pelan meluruhkan perasaan yang tidak pantas itu.
***
Mandy melihat arlojinya, waktu sudah menunjukkan pukul  9 malam. Ia menyudahi pekerjaannya dan membereskan berkas-berkas di atas meja kerjanya. Gadis itu sengaja berlama-lama di kantor  hari ini karena biasanya Stephan selalu mengajaknya hang-out di club bersama teman-temannya. Tetapi  2 hari ini Stephan sedang ditugaskan ke luar kota dan Mandy tidak terbiasa untuk pulang tepat waktu. Dan ia tidak suka menghabiskan waktu sendirian di apartemennya, karena itu mengingatkan dirinya pada kejadian waktu itu, ketika ia tidak dapat mengendalikan dirinya dengan membalas ciuman Reinhart, Ayahnya. Mandy menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir ingatan itu. Dengan cepat ia membereskan sisa dokumen yang tertinggal, menyampirkan tas kerjanya di pundak dan meninggalkan kantornya. Tetapi memang ia tidak bisa menghapus kejadian itu di dalam otaknya, tidak seperti tombol delete pada komputer yang dapat menghapus semua  file dalam sekali klik. Sosok Reinhart begitu kuat terpatri dalam benak Mandy, dan Mandy harus mengakui ia sangat merindukan ayahnya. Gadis itu telah sampai di lantai dasar dan menuju pintu keluar gedung.

“Mandy...”  Ia mendengar suara Reinhart memanggilnya. Astaga, apa ia berkhayal lagi?

Mandy menoleh ke arah suara itu berasal. Mandy mengerjapkan matanya, dan itu memang Ayahnya. Lelaki itu sekarang berjalan menuju ke arahnya.

“Ayah..” bisik Mandy pelan.

“Apa kabar gadis kecilku?” 

Reinhart berdiri di depan gadis itu, memandangnya dengan senyum sayang.

Oh Tuhan... Senyum Reinhart membuat hati Mandy terasa hangat dan juga sakit dalam waktu bersamaan. Gadis itu tergagap, membalas sapaan Reinhart dengan kikuk.

“Baik Ayah.. bagaimana dengan dirimu, sehat?”

Astaga... betapa basi kata-katanya, Mandy mengutuki kekikukannya.

“Wah,  tumben-tumbennya kau menanyakan kesehatanku. Biasanya kita selalu saling melemparkan ejekan  dan sindiran apabila bertegur sapa. Aku sangat terlihat tua ya?”

Reinhart terbahak geli menutupi kegelisahannya, sesungguhnya yang ingin ia lakukan saat ini adalah merengkuh Mandy dalam pelukannya.

Kemudian mereka terdiam dalam beberapa saat yang terasa sangat janggal. Mereka berdua kehilangan kata-kata.

“Ehm.. omong-omong aku mampir ke sini untuk memberikan ini”, Reinhart memecahkan suasana canggung itu dan mengangsurkan kotak kulit itu ke tangan Mandy.

“Apa ini?”

“Buka saja, itu milikmu"

Mandy mengeluarkan barang-barang tersebut dari kotak. Matanya terasa panas ketika ia menggenggam baju bayi itu. Kemudian ia memandang foto itu, terlihat jelas kebahagiaan Ibunya dan Reinhart kecil tergambar di sana.

“Cincin,foto itu dan berserta kotak kulitnya aku temukan di laci Ibumu. Sedangkan baju bayi sengaja aku simpankan untukmu karena itu buatan tangan Adinda.”

“Tapi aku rasa, Ayah lebih berhak  memiliki foto ini.” Mandy memberikan foto itu kepada Reinhart.

“Tidak, tidak. Itu milikmu. Kenangan tentang Ibumu yang aku miliki lebih banyak dan tersimpan rapi di sini.” , Reinhart mengetukkan jari di kepalanya, tersenyum kecil .

“Baiklah..”, Mandy memasukkan barang-barang itu ke kotaknya kembali. Kemudian memasukkannya ke dalam tas kerjanya.

“ Nah, aku antar pulang?”  Reinhart setengah bertanya.

Mandy menggigit bibirnya bimbang.

“OK.” Gadis itu menjawab pendek.

Dengan lembut, Reinhart membimbing Mandy dengan menggandeng tanggan gadis itu menuju mobilnya di pelataran parkir.


“Omong-omong.. dimana Stephan? Dia tidak mengantarmu pulang?”
“ Stephan sedang bertugas di luar kota Ayah. Biasanya juga dia menginap di apartemenku saat weekend begini.” 

Reinhart menggigit lidahnya, menahan diri untuk tidak menyumpahi kebodohannya karena tidak bisa menahan pertanyaan itu keluar dari mulutnya. Ia mengakui sangat penasaran dengan hubungan antara Stephan dan Mandy. Dan sekarang, hatinya menjadi semakin tergores dalam karena itu.


“Oh.. begitu.” Reinhart menanggapi dengan datar menutupi semua rasa sakitnya.

Mandy melirik Reinhart, mencoba membaca wajah laki-laki itu. Tapi tidak terlihat sedikitpun emosi terlintas di wajah Reinhart. Dan Mandy mulai bertanya-tanya, apakah kejadian di apartemennya beberapa hari yang lalu hanya mimpi?

***

Smartphone Reinhart berdering nyaring mengganggu mimpi erotisnya tentang Mandy dan dirinya.

“Sial..” lelaki itu mengumpat, tangannya menggapai mencari smartphone yang ia letakkan di nakas sebelah tempat tidurnya.

“Doug... ada apa pagi-pagi buta kau menelponku?” Reinhart mengomel dan melirik weker yang masih menunjukkan waktu pukul 6 pagi.

“Mengenai pengambilalihan itu. Sungguh Reinhart, kalau kau memintaku untuk menangani semuanya aku sanggup. Tapi untuk penandatanganan MoU nya, jelas tidak dapat kuwakili.”

“Sial... aku lupa soal itu. Kapan ceremony MoU nya? Jangan bilang hari ini Doug.”

“Sayangnya itu benar Rein.. tapi tenang saja, semuanya telah kusiapkan. Kau hanya perlu pergi ke Bandara jam 8 pagi ini dan naik pesawat menuju Stuttgart. Kita bertemu di bandara, ok?”

Reinhart menggeram kesal, suara Douglas begitu ceria di ujung sana. Tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Laki-laki menutup telpon, mandi air dingin untuk mendinginkan kepalanya dari semua mimpi panasnya tentang Mandy  dan segera bersiap-siap menuju bandara.

***

Acara penandatanganan MoU pengambilalihan perusahaan galangan kapal oleh Adams Corporation berlangsung sukses. Sejumlah media cetak dan elektronik lokal dan internasional meliput acara tersebut karena perusahaan galangan kapal itu termasuk salah satu perusahaan galangan kapal terbesar di dunia.

Reinhart memasang wajah dan senyum bisnisnya. Sungguh, Reinhart mulai merasa pegal karena harus tersenyum terus dari awal hingga akhir acara. Ditambah banyak media yang mewawancarainya di konferensi pers, otomatis senyum bisnis itu terus terpasang di wajah tampannya.

“Douglas, tolong wakili aku menjawab pertanyaan dari para wartawan. Aku ingin beristirahat.” Reinhart berbisik pada Doug, lalu memberi isyarat pada wartawan untuk pamit dari konferensi pers.
“OK.” Douglas nyengir dan mengambil posisi menggantikan Reinhart.

Reinhart menuju executive rest room hotel bintang 5 itu. Laki-laki itu duduk menenggelamkan dirinya di salah satu sofa empuk di ruangan itu dan melonggarkan ikatan dasinya mulai terasa mencekik lehernya. Kemudian Reinhart menuju wastafel, membasuh wajahnya  untuk menyegarkan dirinya. Pada saat itu terdengar suara-suara aneh di salah satu kamar di dalam toilet itu. Reinhart mencoba menajamkan telinganya, mencoba menangkap apa yang telah didengarnya. 

“Astaga..” Reinhart menggelengkan kepalanya, ternyata suara yang didengarnya adalah suara orang yang sedang bercumbu.

Dengan cepat Reinhart mencuci tangannya, ia memutuskan lebih baik ia beristirahat di kamar hotelnya.

Ketika ia mencuci tangannya, pintu toilet di belakangnya terbuka. Reinhart melihat dari kaca wastafel dua orang laki-laki keluar dari toilet itu. Laki-laki yang keluar pertama kali dikenalinya sebagai salah satu Direktur di perusahaan galangan kapal. Dan yang satu lagi... 

“Oh Tuhan..” Reinhart berbisik.

Stephan, Stephan kekasih Mandy lelaki kedua yang keluar dari toilet itu. Amarah Reinhart seketika menggelegak, dia menatap Stephan melalui kaca wastafel, sementara itu Stephan tidak menyadari tatapan penuh amarah itu dan juga tidak mengetahui keberadaan Reinhart di ruangan itu. Setelah kedua lelaki itu keluar dari restroom, Reinhart segera membuntuti Stephan.

Stephan dan partnernya berpisah di depan kamar hotel dan sekali lagi Reinhart melihat mereka berciuman panas. Melihat adegan itu, Reinhart merasa mual. Laki-laki itu mual bukan karena ia homophobia tetapi ia mual dengan kenyataan Mandy telah menjalin hubungan dengan lelaki biseksual. 

Sang partner Stephan telah meninggalkan kamar hotel Stephan. Reinhart mengawasi lorong hotel dan tidak ada seorangpun di sana. Laki-laki itu menuju kamar hotel Stephan dan menekan bel kamar.

“Room service”  

“Ya. Tunggu sebentar.” Suara Stephan terdengar dari dalam kamar.

Kemudian pintu terbuka, seraut wajah tampan yang dikenal Reinhart sebagai kekasih mandy itu pun terlihat terkejut melihat sang Ayah.

Dengan cepat, Reinhart menarik kerah baju Stephan, mendorong lelaki itu ke dalam kamar dan menarik gagang pintu kamar dan meninju wajah tampan itu.

Stephan terjengkang, bibirnya terasa asin oleh darah.kemudian dengan terhuyung-huyung ia mencoba bangkit. Tetapi tangan Reinhart kembali mencengkeram lehernya.

“Jelaskan padaku apa yang terjadi Stephan. Siapa laki-laki tadi?” Reinhart menggeram kejam, tangannya masih menarik kerah baju Stephan.

“Kau sudah melihatnya ya?” Stephan berusaha tenang dan tersenyum walau sedikit tercekik karena kuatnya genggaman tangan Reinhart di kerah bajunya.

“Aku sudah tahu apa yang kalian lakukan di rest room.” 

“Ah... akhirnya kebohongan ini harus berakhir. Lelaki itu kekasihku Mr. Adams.”

“Lalu, apa yang kau lakukan terhadap Mandy? Kau mengkhianatinya? Tahukah Mandy kalau kau biseksual?” cengkraman Reinhart semakin kuat di leher Stephan.

“Mengkhianati? Biseksual? Tidak, aku tidak pernah mengkhianatinya. Kami hanya bersahabat,bukan sepasang kekasih Mr. Adams. Dan aku memang seorang gay. Tolong lepaskan tanganmu..” Stephan terbatuk-batuk karena tercekik.

Reinhart tersadar dan melonggarkan cengkramannya. Dia bisa membunuh laki-laki ini saat ini juga.
“Mandy mengatakan kalian sepasang kekasih.”

“Sebaiknya kau bertanya pada putrimu langsung, mengapa ia berbohong padamu.”
 
Perlahan Reinhart melepaskan tangannya dari leher Stephan. Kemudian ia membersihkan debu yang tidak terlihat di kerah Stephan.

“Semoga keberuntungan berpihak padamu Nak.. apabila jawaban Mandy tidak memuaskan hatiku, aku akan membunuhmu.”

Reinhart pergi dari kamar Stephan dengan langkah-langkah panjang. Meninggalkan Stephan yang masih susah mengambil nafas. Kemudian, Pemuda tampan itu memandang dirinya sendiri yang tampak terlihat payah di cermin kamar hotelnya. Pemuda itu mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada Mandy.

Good luck Mandy... semoga kau beruntung dan bisa menghadapi kemarahan Ayah tersayangmu. Masalah ini kau selesaikan sendiri tanpa campur tangan dariku. Dan sebaiknya kau tidak melarikan diri, hadapi semuanya.

***

“Ya Tuhan... apa yang harus aku lakukan?” Mandy bergumam panik membaca pesan singkat dari Stephan. Gadis itu tidak dapat berkonsentrasi dengan pekerjaannya.  Kepanikan terlihat jelas di wajah Mandy seharian. Tetapi ia mencoba tetap profesional dengan menyelesaikan semua pekerjaannya, sambil mengerjakan pekerjaannya gadis itu memutar otak tentang apa alasan yang harus ia jelaskan kepada ayahnya.

Hari itu, waktu berjalan sangat lambat dan sangat menyiksa bagi Mandy. Sedikit-sedikit gadis itu mencuri pandang ke arlojinya, berharap jam kerja berakhir dan ia ingin segera pulang ke apartemen. Tetapi ia juga galau, akankan ayahnya menemui dirinya di lobby kantor nanti? Berjuta pertanyaan dan kalimat bermain di benak Mandy. Dan akhirnya gadis itu memutuskan dia harus jujur, jujur pada dirinya sendiri dan jujur pada Reinhart tentang semuanya agar tidak ada yang tersakiti lagi. Tetapi mengenai Nenek Marge Mandy tidak sanggup berkata jujur pada ayahnya.. terlalu banyak masalah yang akan muncul apabila ia mengatakan semua tentang Marge pada Reinhart.

***

Tepat yang seperti diperkirakan Mandy, Reinhart menunggu gadis itu di lobby kantornya. Kemarahan jelas terlihat di mata Ayahnya. Mandy berusaha terlihat tenang dan tidak mengetahui apa yang telah terjadi.

“Halo Ayah..” Mandy tersenyum ceria.

“Halo Mandy.. Aku ingin bicara padamu” Reinhart  segera menggandeng lengan Mandy dengan kuat, berusaha gadis itu tidak kabur karena ia yakin Stephan pasti telah memberitahu tentang semua yang telah terjadi di Stuttgart.

“Ayah.. tanganmu terlalu kuat mencengkeram lenganku.” Mandy meringis

“Oh, maaf sweetheart. Ayo ke mobilku. Kita pulang ke rumah sekarang.”

Rumah? Seketika Mandy merasa waspada, apakah yang dimaksud rumah adalah kastil kecil yang dingin itu? Tetapi Mandy tidak bisa berbuat apa-apa, karena ayahnya telah menyeretnya menuju mobil. Dan ia tidak ingin mengundang perhatian banyak orang dengan melawan kemauan Reinhart.

Reinhart membukakan pintu dan mempersilakan Mandy untuk masuk ke mobil dengan sedikit tergesa. Dan kemudian laki-laki itu menyusul dan dengan segera menghidupkan mesin. Reinhart mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Mereka berdua hanya diam sepanjang perjalanan itu.
 
Ketika arah perjalanannya dikenal Mandy sebagai jalan menuju kastil keluarga Adams. Mandy memecahkan kesunyian dengan berkata sengit pada Reinhart.
 
“Ayah, tolong antarkan aku ke apartemenku.”

“Tidak, kau tidak boleh tinggal di sana lagi. “

“Mengapa?”

“Kau lupa pada perjanjian kita? Apabila kau membuat masalah, kau harus kembali ke rumah. Dan sekarang kau jelas-jelas membuat masalah dengan berbohong padaku.”

Mandy diam, kuduknya meremang mendengar kata-kata Reinhart yang terdengar mengancam di telinganya.

Mobil telah memasuki halaman kastil. Kemudian Reinhart menghentikan mobil  dan berbicara pada Mandy dengan senyum kejamnya.

“dan sebaiknya kau siapkan alasan yang benar. Aku ingin mendengarnya langsung darimu nanti. Sekarang, beristirahatlah dan bersihkan dirimu. Aku tunggu kau di ruangan kerjaku 1 jam lagi Mandy.”

***
Mandy mengetuk pintu ruang kerja Ayahnya dan suara Reinhart memerintahkannya untuk masuk. Reinhart sedang memandang perapian, mengamati kayu yang terbakar Laki-laki itu terlihat semakin menyeramkan sekarang di mata Mandy. Kemudian Reinhart menoleh dan tersenyum pada Mandy. Dengan kikuk gadis itu membalas senyum Reinhart karena ia tahu walau Reinhart tersenyum, tetapi matanya sama sekali tidak.

“Langsung ke pokok masalahnya saja Mandy.. aku ingin tahu alasanmu berbohong mengenai Stephan. Dan aku ingin itu jawaban yang jujur.” Reinhart berkata dingin, walau bibirnya tersenyum. 

“Aku rasa kau sudah tahu Ayah alasannya. Kau.. Ayahku tetapi kau mencintaiku dengan perasaan cinta yang lain. Itu tidak benar, tidak normal. Maka aku meminta bantuan Stephan. Mohon jangan salahkan dia, semua ide ini datang dariku.” Mandy berkata dengan tegas, ia berusaha tegar dan membuang jauh-jauh semua ketakutannya.

“Itu benar, tapi kita tidak sedarah Mandy.” Reinhart tersenyum kecil mendengar jawaban Mandy yang telah ia perkirakan sebelumnya.
 
“Tapi yang membuatku kecewa adalah kau.. Kau Putriku yang telah kurawat selama 21 tahun mengkhianatiku dengan berbohong. Astaga Mandy, apa kau tidak mengenaliku dan memahamiku lagi.. Kalau memang kau tidak punya perasaan yang sama denganku, aku bisa menerimanya dan mengerti.”
 
Mandy terdiam dan tidak berbicara satu patah kata pun.

“Kau ingin menjauhiku, itu yang bisa kusimpulkan sekarang. Dan aku terlihat hina dimatamu karena perasaan itu. Apabila dari awal kau jujur padaku kalau kau memintaku untuk menjauh dan tidak muncul di hadapanmu lagi, itu pun akan kulakukan.”

Reinhart berjalan mendekati Mandy, mengelus rambut gadis itu dengan rasa sayang dan juga pedih.

“Besok aku akan kembali ke Amerika. Semua rencana untuk menetap dan bekerja disini akan kubatalkan. Mengenai apartemenmu, aku telah membatalkan perjanjian sewanya dengan induk semangmu. Aku telah membelikanmu apartemen yang jauh lebih layak untukmu, aku harap kau kerasan tinggal di sana nanti.”

Kemudian laki-laki itu mengecup puncak kepala Mandy dengan lembut dan membisikkan salam perpisahan.

“ Selamat tinggal gadis kesayanganku. Ingatlah aku hanya sebagai Ayahmu. Mungkin kita tidak akan berjumpa dalam waktu yang lama.”
 
Mandy terdiam, matanya mulai terasa panas. 

“Beristirahatlah malam ini di kamarmu, besok kita tidak akan bertemu lagi. Aku mengambil penerbangan dini hari.”
 
Reinhart berjalan menjauhi Mandy menuju pintu dan tanpa menoleh pada Mandy. 

“Tunggu Ayah... ada yang harus kukatakan. Aku telah memutuskan untuk jujur pada diriku sendiri dan jujur padamu.”

Reinhart diam, menunggu kata-kata selanjutnya dari Mandy. 

“Aku tidak tahu perasaan apa yang ada dihatiku saat ini. Jantungku selalu berdebar bila mendengar  suaramu dan melihat dirimu. Aku merasa bahagia hanya dengan kehadiranmu Ayah. Dan sesungguhnya hanya kau orang yang selalu kupikirkan...”
 
“Cukup Mandy...” 

Reinhart berbalik dan berjalan mendekati Mandy.

“Aku takut akan perasaanku ini Ayah. Takut dengan semua penolakan yang terjadi apabila kita bersama..”

“Cukup..”

Dengan satu sentakan, Reinhart memeluk gadis itu erat.

“Cukup Mandy. Tidak perlu kau katakan lagi. Hanya dengan kata-katamu tadi aku sudah mengerti.”, bisik Reinhart lembut di telinga Mandy. 


Kemudian Reinhart merengkuh wajah Mandy dengan kedua tangannya.
“Tatap mataku Mandy...  Aku ingin kau melihat kesungguhanku kalau aku benar-benar mencintaimu.”

Mandy mendongak, menatap mata Reinhart dan binar kebahagiaan terlihat jelas di mata laki-laki itu. Mandy  belum pernah melihat Reinhart terlihat begitu bahagia  selama hidupnya.

Kemudian gadis itu membelai dengan lembut rahang kokoh laki-laki itu dengan jemari mungilnya.

“Aku mencintaimu, Reinhart Heinrich Adams..”

***

To be Continued


10 komentar:

  1. Akhirnyaaaa hik hihk nangis bahagia

    BalasHapus
  2. Hadeh tbc nya pas saling ungkap perasaan jd pengen next chapter *reader ngelunjak :D

    BalasHapus
  3. finally mandy ngaku juga.... tp mungkin ke depan nya mereka bakalan banyak dapat tentangan dari sana sini

    BalasHapus
  4. aaaaahhhhh kenapa to be continued Momdiniiiiii nambaaahhhhhhhhhh

    BalasHapus
  5. idih... nanggung!!
    kenapa mimpi erotisnya kaga di gambarin tanteeee... *dkeplak* kwkwkwkwkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. hadeehh ies koplaaak dahhh wkwkkwkw.. ntar ya itu dibwt special extending nya hihihi

      Hapus
  6. kyaaa...nanggung lagi!!!!
    eh kalo mimpi erotisnya g digambarin hmmmm yg nyata tp erotis aj mba xixiixi

    BalasHapus
  7. Update lagi sesegera mungkin momdin :D

    BalasHapus
  8. TBC???
    Kenapa TBC di situ??? Tidaaaaaaaaaaaaak... *lebay

    BalasHapus